Sebelumnya, yuk! kenalan dulu dengan FLP.
Forum lingkar pena atau yang dikenal dengan FLP, adalah sebuah organisasi
literasi yang didirikan oleh Helvy Tiana Rosa, pada tanggal 22 Februari 1997, guna
mewadahi potensi dalam bidang kepenulisan. FLP telah memiliki cabang di 32 provinsi
dan 12 cabang di luar negeri, seperti di Hongkong, Turki, Mesir, dan lain
sebagainya.
Forum lingkar pena wilayah Gorontalo berdiri pada tahun 2000, pertama diketuai
oleh Ibu Asriyati Nadjamuddin. Saat ini FLP telah memiliki cabang di kota
Gorontalo dan kab. Bone Bolango, serta ranting di Universitas Negeri Gorontalo
dan di IAIN Sultan Amai Gorontalo.
FLP secara efektif melaksanakan kegiatan kaderisasi kepenulisan, dalam bentuk
kelas menulis yang saat ini sudah angkatan ke-III, dan bekerjasama dengan
lembaga/instansi dalam menjalankan agenda-agenda literasi.
14 Februari 2015, pertama kali saya bergabung dengan FLP Gorontalo. Genap empat
tahun setelah pengukuhan malam itu, yang dihadiri oleh penulis novel, S. Gegge
Mappangewa, Ibu Darmawati Majid dari Kantor Bahasa dan Ibu Mira Mirnawati dari
pihak Penerbitan. Kegiatannya berlangsung selama dua hari satu malam. Banyak materi
yang diberikan, mulai dari visi misi FLP, membuat karya, menerbitkan karya, dan
menembus media.
Kerena cinta itu tulus, maka tak perlu alasan untuk mencintai. Tapi bagi
sebagian orang, alasan itu perlu sebagai bukti penguatan. Baiklah, akan saya
tulis.
Sebenarnya, lima alasan saja tidak cukup untuk mengungkapkan cinta pada
FLP. Tapi, semoga saja lima alasan ini telah mewakili perasaan saya.
1. Lebih semangat untuk berkarya
FLP adalah wadah untuk menyalurkan bakat dan hobi
menulis. Bertemu dan berteman dengan orang-orang yang mempunyai hobi yang sama,
membuat saya semakin semangat untuk berkarya. Dari kecil saya memang hobi
menulis cerpen dan puisi, bergabung dengan FLP merupakan kebanggan tersendiri
bagi saya.
2. Membentuk
kepercayaan diri
Naskah-naskah yang saya tulis selalu mendapat kritik dan
saran yang membangun.
Di FLP tidak ada istilah tulisan jelek dan sebagainya. Semua
masukan dari teman-teman FLP membuat saya lebih percaya diri, dan mulai berani mengirim
karya ke media cetak dan mengikuti berbagai lomba kepenulisan. Alhamdulillah,
tujuh cerpen saya telah dimuat di media cetak dan delapan cerpen lainnya terbit
dalam buku antologi. Semoga kedepannya bisa menerbitkan karya solo. Aamiin.
3. 3. Punya
keluarga baru
Di perantauan, FLP adalah keluarga kedua bagi saya. Saling
berbagi, saling mendengarkan dan saling memberi saran juga solusi. Biasanya
kami mengadakan kegiatan literasi sekaligus acara buka puasa bersama, atau
berkunjung ke beberapa tempat wisata yang bekerja sama dengan perpustakaan
keliling.
4. 4. Kesempatan
belajar
Setiap ada kegiatan yang berkaitan dengan kepenulisan,
FLP selalu mendapatkan undangan. Tak ada
batasan usia untuk menuntut ilmu. Bagi saya, mengikuti berbagai kegiatan
literasi, adalah kesempatan yang luar biasa untuk menambah ilmu pengetahuan. Semua
materi pertemuan akan saya catat dalam buku kecil sebagai pengingat.
5. 5. Bertemu
penulis-penulis hebat
FLP adalah jembatan saya bertemu penulis-penulis hebat
yang saya kagumi. Jika saya hanya mengenal melalui karya mereka, kini bisa
bertatap muka. Melalui kegiatan literasi yang saya ikuti, saya telah bertemu
dengan Mbak Helvy Tiana Rosa, Tere Liye, Intan Savitri, Okky Puspa Madasari, Yanusa
Nugroho, S. Gegge Mappangewa, dan masih banyak lagi.
Semoga FLP semakin jaya dengan karya-karyanya yang
mendunia. Tetap berbakti, berkarya dan berarti. Salam Literasi!
Yang ingin
belajar menulis puisi, cerpen, novel dan karya sastra lainnya, ayo gabung
dengan FLP.
“Tulisan ini
dibuat dalam rangka lomba blog dari Blogger FLP http://flp.or.id pada rangkaian Milad FLP 22.”
















