Rabu, 03 April 2019

5 ALASAN MENCINTAI FLP






Sebelumnya, yuk! kenalan dulu dengan FLP.

Forum lingkar pena atau yang dikenal dengan FLP, adalah sebuah organisasi literasi yang didirikan oleh Helvy Tiana Rosa, pada tanggal 22 Februari 1997, guna mewadahi potensi dalam bidang kepenulisan. FLP telah memiliki cabang di 32 provinsi dan 12 cabang di luar negeri, seperti di Hongkong, Turki, Mesir, dan lain sebagainya.

Forum lingkar pena wilayah Gorontalo berdiri pada tahun 2000, pertama diketuai oleh Ibu Asriyati Nadjamuddin. Saat ini FLP telah memiliki cabang di kota Gorontalo dan kab. Bone Bolango, serta ranting di Universitas Negeri Gorontalo dan di IAIN Sultan Amai Gorontalo.

FLP secara efektif melaksanakan kegiatan kaderisasi kepenulisan, dalam bentuk kelas menulis yang saat ini sudah angkatan ke-III, dan bekerjasama dengan lembaga/instansi dalam menjalankan agenda-agenda literasi.

14 Februari 2015, pertama kali saya bergabung dengan FLP Gorontalo. Genap empat tahun setelah pengukuhan malam itu, yang dihadiri oleh penulis novel, S. Gegge Mappangewa, Ibu Darmawati Majid dari Kantor Bahasa dan Ibu Mira Mirnawati dari pihak Penerbitan. Kegiatannya berlangsung selama dua hari satu malam. Banyak materi yang diberikan, mulai dari visi misi FLP, membuat karya, menerbitkan karya, dan menembus media.

Kerena cinta itu tulus, maka tak perlu alasan untuk mencintai. Tapi bagi sebagian orang, alasan itu perlu sebagai bukti penguatan. Baiklah, akan saya tulis.

Sebenarnya, lima alasan saja tidak cukup untuk mengungkapkan cinta pada FLP. Tapi, semoga saja lima alasan ini telah mewakili perasaan saya.

1. Lebih semangat untuk berkarya 
FLP adalah wadah untuk menyalurkan bakat dan hobi menulis. Bertemu dan berteman dengan orang-orang yang mempunyai hobi yang sama, membuat saya semakin semangat untuk berkarya. Dari kecil saya memang hobi menulis cerpen dan puisi, bergabung dengan FLP merupakan kebanggan tersendiri bagi saya.



2. Membentuk kepercayaan diri
Naskah-naskah yang saya tulis selalu mendapat kritik dan saran yang membangun.
Di FLP tidak ada istilah tulisan jelek dan sebagainya. Semua masukan dari teman-teman FLP membuat saya lebih percaya diri, dan mulai berani mengirim karya ke media cetak dan mengikuti berbagai lomba kepenulisan. Alhamdulillah, tujuh cerpen saya telah dimuat di media cetak dan delapan cerpen lainnya terbit dalam buku antologi. Semoga kedepannya bisa menerbitkan karya solo. Aamiin.




3.  3. Punya keluarga baru
Di perantauan, FLP adalah keluarga kedua bagi saya. Saling berbagi, saling mendengarkan dan saling memberi saran juga solusi. Biasanya kami mengadakan kegiatan literasi sekaligus acara buka puasa bersama, atau berkunjung ke beberapa tempat wisata yang bekerja sama dengan perpustakaan keliling.




4.  4. Kesempatan belajar
Setiap ada kegiatan yang berkaitan dengan kepenulisan, FLP selalu mendapatkan undangan.  Tak ada batasan usia untuk menuntut ilmu. Bagi saya, mengikuti berbagai kegiatan literasi, adalah kesempatan yang luar biasa untuk menambah ilmu pengetahuan. Semua materi pertemuan akan saya catat dalam buku kecil sebagai pengingat.

5.  5. Bertemu penulis-penulis hebat
FLP adalah jembatan saya bertemu penulis-penulis hebat yang saya kagumi. Jika saya hanya mengenal melalui karya mereka, kini bisa bertatap muka. Melalui kegiatan literasi yang saya ikuti, saya telah bertemu dengan Mbak Helvy Tiana Rosa, Tere Liye, Intan Savitri, Okky Puspa Madasari, Yanusa Nugroho, S. Gegge Mappangewa, dan masih banyak lagi.


Semoga FLP semakin jaya dengan karya-karyanya yang mendunia. Tetap berbakti, berkarya dan berarti. Salam Literasi!

Yang ingin belajar menulis puisi, cerpen, novel dan karya sastra lainnya, ayo gabung dengan FLP.

“Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba blog dari Blogger FLP http://flp.or.id  pada rangkaian Milad FLP 22.”