Jumat, 23 Desember 2016

Kak Lia Bukan Teman Tapi Lebih Dari Saudara



Natalia….

Dari namanya, bisa ditebak kalau ia lahir pada bulan Desember. Ya, dia lahir di minggu pertama bulan Desember, tepatnya tanggal 6. Sembilan belas hari menjelang perayaan Hari Natal. Ia Berasal dari tanah Toraja Sulawesi Selatan. Yang kental akan adat istiadat dan tradisinya.

Kak Lia. Begitu aku memanggilnya. Takdir mempertemukan kami dalam satu pekerjaan akhir tahun 2013 silam. Awalnya kami hanya sebagai rekan kerja biasa. Namun, setelah mengenalnya lebih dekat, ia bahkan lebih dari seorang saudara.

Kak lia, adalah seorang wanita berpendirian tegas, pekerja keras dan sangat mencintai keluarganya. Berada jauh dari keluarga, bukanlah penghalang untuk tidak mengabari keluarga tentang keadaannya. Disela-sela waktu istirahat kerja, aku sering mendapatinya berbicara lewat telpon dengan Ibunya, hampir setiap hari. Bahkan rutin seperti minum obat yang dosisnya 3 x sehari, begitu juga telponnya. 

Ia  sering berbagi cerita-cerita ringan dengan Ibu, Adik dan Kakaknya. Kadang menceritakan pekerjaannya, menceritakan tentang teman-teman barunya, tempat-tempat wisata di Gorontalo sampai makanan-makanan khas yang telah ia cicipi.
Kak Lia beragama Kristen Katolik. Ia sangat rajin beribadah. Tak pernah melewati ibadah dan perayaan-perayaan di Gereja. Ia selalu terlibat dalam kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh teman-teman barunya di tempat ibadah. Satu hal yang sangat ku kagumi darinya, sesulit apapun keadaannya ia tetap selalu bersyukur.

Seperti aku, Ia pun sangat mempercayai kekuatan doa. Sebelum makan atau sebelum melakukan berbagai aktifitas, ia selalu menyempatkan beberapa detik memejamkan mata seraya berdoa dalam hati.

Meski berbeda keyakinan, Kak Lia selalu mengingatkanku untuk sholat tepat waktu. Bahkan jika hendak mengajakku jalan-jalan, ia rela menungguku selesai sholat atau ia lebih memilih waktu yang tidak bertabrakan dengan waktu-waktu sholat.

Kak Lia, bukan sekedar teman biasa, namun ia lebih dari seorang saudara. Ia selalu menjadi pendengar yang baik, selalu memberikan saran tanpa menggurui, bahkan tak segan-segan ia menegur jika aku berbuat salah atau terlalu berlebihan menyikapi sesuatu.

Diakhir pekan kami sering menghabiskan waktu bersama. Sekedar lari pagi, masak-masak, mengunjungi tempat wisata, pergi ke toko buku atau nonton bersama teman-teman yang lainnya. 

Sayangnya, selesai kontrak pekerjaan di Gorontalo ia harus kembali ke kotanya. Namun komunikasi antara kami masih berlanjut. Saling memberi kabar via BBM bahkan saling menyapa lewat sosial media, saling menyemangati dan selalu mendoakan yang terbaik.

Kami punya mimpi yang sama dan sangat sederhana, memiliki pendamping hidup yang baik dan membahagiakan keluarga. Aamiin

Selamat Ulang Tahun Kak Lia. 

Tahun kemarin kita masih sempat merayakannya bersama, meskipun terbilang sangat sederhana. Namun itu tidak menjadi masalah asalkan kita selalu bersama-sama. 


Semoga jatah umur didunia yang berkurang ini menjadikan Kak Lia semakin dekat dengan Sang Pencipta, selalu bersyukur dalam setiap keadaan, selalu menjadi wanita yang kuat dan tegar, dan semoga semua mimpi dan cita-cita mulia segera tercapai. Aamiin 

Aku sangat merindukanmu. Merindukan kebersamaan dulu, merindukan setiap moment yang kita lewati bersama. Semoga kita bisa berjumpa di kesempatan-kesempatan berikutnya. Jika ada waktu libur, sempatkanlah mampir ke Serambi Madinah.

Aku masih disini.

Menunggumu.

Selalu.







Gorontalo, 06 Desember 2016

Eti Ndulia
                                                                                           (Pelangi Jiwa)









Kamis, 22 Desember 2016

Bahkan Gunung Batu Bisa Hancur Karena Kekuatan Cinta Film Manjhi The Mountain Man



Judul Film       : Manjhi The Mountain Man

Sutradara        : Ketan Mehta

Pemain           : Nawazuddin Siddiqui, Radhika Apte

Produksi      : Viacom 18 Motion Picture, National Film Development       Corporation of India
Tahun Rilis      : 21 Agustus 2015

Durasi             : 01:59:06



Bahkan gunung batu bisa hancur karena kekuatan cinta”. Percayakah kalian dengan ungkapan tersebut? Pasti ada yang mengira itu hanya bualan semata. Tapi tahukah kalian jika ungkapan ini lahir setelah menyaksikan film bollywood  Manjhi the Mountain Man? Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata di India. Lelaki yang menghancurkan gunung batu selama 22 tahun hanya dengan menggunakan sebuah palu, pahat, dan seutas tali.

Dashrath Manjhi, seorang pemuda miskin berasal dari Desa Gehlore, Bihar, India. Dashrath Manjhi yang diperankan oleh Nawazuddin Siddiqui merupakan masyarakat sosial dengan kasta terendah Moosahaar’ atau kasta pemakan tikus. Berdasarkan Kavar ia telah menikah sejak kecil bersama seorang gadis bernama Paghuniya yang diperankan oleh Radhika Apte.

Film berdurasi 1 jam 59 menit ini sukses menguras emosi penonton. Film ini menggunakan alur maju dan mundur. Di awal film kita akan disuguhkan oleh penampilan Dashrath Manjhi yang tengah berdiri di puncak gunung, dengan pakaian yang berlumuran darah. Wajahnya dipenuhi duka dan kemarahan atas kematian istrinya. Ia murka  meluapkan amarahnya dengan melempari batu ke arah gunung yang menjulang tinggi. Sehingga gunung mengeluarkan kobaran api.

Film produksi Viacom 18 Motion Picture yang bekerja sama dengan National Film Development Corporation of India ini disutradarai oleh Ketan Mehta. Film ini mengambil alur tahun 1960. Meskipun alur film terkesan lambat, namun dengan itu kita bisa melihat kehidupan warga Desa Gehlore yang sesungguhnya.

Maghru, ayah dari Dashrath Manji terlilit hutang yang sangat besar kepada Kepala Suku  bernama Mukhiya. Karena belum bisa melunasi hutang Dashrath Manjhi dipaksa ayahnya menjadi buruh dan bekerja kepada Tuan Mukhiya. Dashrath Manjhi menolak. Ia memilih melarikan diri melewati gunung batu. Dengan berjalan kaki mengikuti rel kereta api dan menempuh perjalanan sejauh 40 mil, Dashrath Manjhi bertahan hidup di Wazir Gunj.

            Setelah 7 tahun meninggalkan Gehlore, tepatnya pada tahun 1960 Dashrath Manjhi memutuskan untuk kembali ke desanya. saat itu ibunya sudah meninggal dunia. Pada saat yang sama pula pengkastaan di desanya telah dihapuskan. Dashrath Manjhi kembali dengan penampilan yang berbeda. Bahkan hampir seluruh penduduk Gesa Gehlore tidak mengenalinya. Di perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang perempuan penjual boneka patung tanah liat. Dashrat Manjhi kemudian jatuh cinta kepadanya.

            Betapa terkejutnya Dashrath Manjhi mengetahui bahwa perempuan penjual boneka tanah liat, yang bertemu dengannya kemarin adalah  Phaguniya, perempuan yang telah ia nikahi pada masa kanak-kanak dulu. Dan betapa marahnya ia mengetahui bahwa Phaguniya akan dinikahkan dengan lelaki pilihan ayahnya. Lelaki dari kota yang kaya dan bekerja sebagai pengawas.

Dashrath Manjhi memutuskan membawa Phaguniya lari dan tinggal jauh dari orang tuanya. Warga desa setempat berusaha mengejar namun mereka berhasil lolos setelah berusaha bersembunyi di dalam kubangan lumpur. Mereka membangun rumah tangga yang sederhana namun bahagia. Kebahagian mereka bertambah lengkap saat mengetahui bahwa Phaguniya tengah mengandung anak pertama.

Setelah putra pertama mereka lahir, Dashrath Manjhi semakin rajin bekerja. Ia berusaha memenuhi segala kebutuhan istrinya. Dashrath Manjhi menginginkan seorang putri yang cantik seperti Phaguniya. Ia menjanjiikan kehidupan yang layak dan akan pindah ke kota setelah putrinya lahir. Phaguniya kemudian mengandung anak kedua.

Dashrath Manjhi lebih giat bekerja, ia bekerja sebagai buruh tani di perkebunan milik  warga. Saat hendak mengantarkan makan siang untuk Dashrath Manjhi, Phaguniya yang tengah hamil tua berusaha menaiki gunung batu  untuk mengantarkan makanan. Tapi takdir berkata lain. Kaki paghuniya tergelincir. Ia terjatuh dari atas tebing yang curam. Dashrath Manjhi mengetahui kabar itu dari seorang anak kecil. Tanpa berpikir panjang ia berlari menemui istinya yang telah bersimbah darah.

Gehlore merupakan desa paling tertinggal. Tidak ada Sekolah, Rumah Sakit maupun transportasi. Sehingga untuk mendapatkan perawatan medis Dashrath Manjhi harus pergi ke Kota dengan melewati gunung batu yang menjulang tinggi. Dengan dibantu seorang warga desa, Dashrath Manjhi membawa istinya dengan selembar kain yang dililitkan pada kayu sebagai penopang bahu. Di menit-menit inilah penonton akan dibuat terharu dengan perjuangannya.

Karena perjalanan yang sangat panjang. Phaguniya terlambat mendapatkan perawatan medis, namun beruntung putrinya masih  bisa diselamatkan. Rasa kehilangan dan kemarahan bercampur menjadi satu. Dashrath Manjhi bersumpah akan menghancurkan kesombongan gunung batu yang telah merenggut istri tercintanya. Dashrath manjhi menjual seekor kambing yang menjadi harta terakhir mereka untuk membeli sebuah palu, pahat, dan seutas tali.

Ayah Dashrath Manji telah tua renta. Beliau tidak sanggup lagi merawat kedua anaknya. Ayahnya menyarankan agar dia menikah lagi, namun Dashrath Manjhi menegaskan bahwa Phaguniya tidak pernah mati baginya. Di sebuah gubuk yang hanya berdindingkan daun pohon kering Dashrath Manjhi tinggal bersama kedua anaknya. Selain menghancurkan gunung, Dashrath Manjhi bekerja sebagai buruh kasar. Mengangkut barang milik warga ke kota dengan melewati gunung batu untuk mempersingkat waktu.

Kekeringan melanda Desa Gehlore. Semua penduduk Desa Gehlore mengungsi ke kota. Dashrath Manjhi memberikan penghasilannya kepada ayahnya untuk bisa merawat anaknya di kota. Ia tidak mau meninggalkan desanya. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya membelah gunung meski ia kesusahan mendapatkan makan dan minum. Hanya cinta dan kerinduan yang menghiburnya jika malam telah datang. Ia bertahan hidup dengan memakan tumbuhan kering bahkan ia harus mengikhlaskan ibu jari kakinya dipotong saat ular cobra mengigitnya.

            Selama 9 tahun menghancurkan gunung, warga Desa Gehlore mulai sadar. Mereka mulai melihat betapa tulus kekuatan cinta Dashrath Manjhi. Namun sayangnya Dashrath Manjhi harus kehilangan ayahnya saat pemberontakan yang membalas kebengisan Mukhiya  terjadi.

            Setelah 12 tahun menghancurkan gunung, Alok, seorang jurnalis yang selalu setia meliput perkembangan pekerjaan Dashrath Manjhi memperjuangkannya untuk bertemu dengan Perdana Menteri pada masa itu yaitu, Indhira Gandhi putri dari Bapak Mahatma Gandhi. Berkat bantuan dari Alok usaha Dashrath Manjhi akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah mulai memperhatikan usahanya. Namun Dashrath Manjhi ditipu oleh putra Mukhiya yang sudah menjabat sebagai Kepala Desa dan bekerja sama dengan orang yang mengaku petugas DBO. Dashrat berjalan kaki ke kota untuk menuntut keadilan meskipun semuanya sia-sia.

            Dashrat Manjhi yang telah ditinggalkan istri tercintanya, hanya bermodalkan sebuah pahat, palu, dan seutas tali namun dengan keyakinan, tekad dan kekuatan cinta ia berhasil menghancurkan gunung batu selama 22 tahun. Dashrath Manjhi membuat jalan dari Blok Atri menuju Wazir Gunj yang jarak awal 55 km menjadi 15 km.

            Jika film India biasanya menghadirkan banyak lagu-lagu lengkap dengan penarinya, berbeda dengan film ini yang hanya terdapat 3 lagu saja. Di antaranya, Gehlore Ki Goriya yang dinyanyikan oleh Bhavin Shastri dan Pawani Pandey, O Rahi dinyanyikan oleh Bhavin Shastri dan Dhum Kham yang dinyanyikan oleh Divya Kumar.

            Di akhir film penonton benar-benar akan dibuat terharu dan ikut merasakan kemenangan menaklukkan gunung batu. Kalimat terakhir yang dikatakan oleh Dashrath Manjhi perlu dicatat. “Bagiku jangan terlalu bergantung pada Tuhan, karena Tuhan bergantung pada kita”. Makna yang bisa saya tangkap dari kalimat tersebut adalah, sesungguhnya Tuhan tergantung prasangka hamba-Nya, maka berprasangkalah yang baik-baik.

            Film yang diangkat dari Kisah nyata Dashrath Manjhi dirilis pada tanggal 21 Agustus 2015. 52 tahun setelah mulai menghancurkan gunung, 30 tahun  setelah selesai menghancurkan gunung, 4 tahun kemudian beliau wafat. Dashrath Manjhi wafat pada tanggal 17 Agustus 2007 tepat diusianya yang ke- 73 tahun karena penyakit kanker kantung empedu. Pemerintah akhirnya membuat jalan menuju Gehlore pada tahun 2011 yang diberi nama ‘The Legend of Mountain Man Lives on’. Dashrath Manjhi mendapatkan pemakaman secara kenegaraan oleh Pemerintah Bihar.

            Cinta bisa melakukan segalanya. Bermodalkan tekad yang kuat dan cinta yang tak pernah mati, Dashrath Manjhi mampu menghancurkan gunung batu. Itulah kekuatan cinta.








Eti Ndulia
(Pelangi Jiwa)
FLP Kota Gorontalo