Sabtu, 05 November 2016

Sahabat itu Bukan Tentang Mata yang Selalu Bertatap tapi Tentang Hati yang Selalu Mengingat




Aku berusaha keras melupakan hari ini. Melupakan segalanya. Tentang kalian dan cerita kita. Ini memang tidak mudah. Aku harus mencari berbagai kesibukan, puasa memegang ponsel, bahkan harus puasa menggunakan internet. Tapi ingatan ini begitu kuat. Aku harus bertengkar hebat dengan hati, agar mengabaikan hari ini. Aku tidak ingin mengingatnya. Tapi sekeras apapun aku berjuang melupakan, maka sekuat itupun kenangan menghampiri.
Tak ada yang bisa kulakukan selain berdamai dengan hati. Membujuk diri agar mengizinkan film yang bernama kenangan itu diputar kembali dalam ingatan. Akan kunikmati setiap kesakitan yang tersisip dalam kepingan cerita ini. Rasa sesal yang masih tertinggal, dan kisah kita yang belum usai.
Dulu, setahun yang lalu. Seminggu menjelang hari ulang tahunku. Kulingkari sebuah tanggal dalam kalender yang terpajang didinding kamarmu. Tepat dihadapan kalian semua. Berharap waktu segera  melompat lebih cepat. Ada debar yang berlomba penuh suka cita, meminta agar  hari itu segera tiba. Hari dimana semua orang dengan tulus memberikan doa terbaiknya. 

Hari yang dinanti telah datang. Hampir lewat tengah malam. Sebelum pergantian tanggal, kalian datang membawa sebuah kue tart yang diatasnya terukir namaku. Kue cantik berwarna hijau. Warna favoritku. Diatas kue terdapat hiasan bola-bola kecil beraneka warna. Ditangan salah satu dari kalian, memegang sebuah kertas berukuran cukup besar. Sebuah kertas ucapan yang telah kalian ukir dengan tinta berwarna hijau. Aku tau kalian menghiasnya dengan perasaan penuh cinta kasih. Tapi ternyata, aku malah pergi.
Aku lupa telah melingkari tanggal itu. Aku lupa atas komitmen yang kubuat sendiri. Aku lupa akan kebersamaan yang kujanjikan. Dengan penuh harap kalian datang, Namun bukannya berhasil memberi kejutan, malah kalian yang terkejut karena ketiadaanku. 

Terlebih lagi saat kudapati kertas ucapan yang kalian selipkan dibawah pintu. Aku bisa melihat kertas itu dipenuhi dengan rasa kekecewaan yang mendalam. Aku menangis sejadinya, meringkuk disudut kamar, menyesali perbuatan yang telah aku lakukan. Telepon dan pesan permintaan maafku tak kalian respon sama sekali. Kalian berhak marah atas kelakuanku. Aku memang bersalah. Dan aku menyesalinya.

Seharian aku merenung, menangis. Tak ada sesuatu yang bisa kulakukan. Berusaha  menghibur diri dikeramaian, malah kesepian semakin menerkam. Rasa bersalah kian menikam. Sungguh, tak ada kehilangan yang paling menyakitkan selain kehilangan kebersamaan. Dan aku telah kehilangan itu karena kesalahanku sendiri. Bahkan aku tidak bisa mengungkapkan perasaan menyesalku waktu itu.
Siang berlalu pulang. Persis sebelum lewat tengah malam, tanggal belum berganti Aku masih duduk didepan pintu kamar memandangi langit. Berharap menemukan kedamain diatas sana. Mataku terasa panas. Perasaan ini sungguh membuat sesak. Disaat-saat kegundahanku menyelimuti, kalian datang dengan membawa kue tart dengan lilin yang sudah terpasang. Itu benar-benar kalian. Aku tidak bermimpi. Sekali lagi kuyakinkan diri, dan itu memang kalian.
Berjalan dari halaman depan, mengahampiriku dengan senyuman. Kalian berdiri dengan wajah riang, menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aku langsung menghambur ke pelukan kalian. Bukan, bukan kue atau  nyanyian itu yang kuharapkan. Tapi kebersamaan dengan kalian yang tidak ingin kulewati. Sungguh, maafkan aku. Aku sangat menyesal. Aku menyayangi kalian. Seketika perasaan sesak itu pecah menjadi keharuan.

Aku tau kalian adalah sahabat terbaikku, keluarga keduaku. Aku tau kalian tulus menyayangiku. Kalian tidak akan pernah meninggalkanku. Aku tidak bisa berkata-kata tentang perasaanku saat ini. Ternyata kalian juga gelisah memikirkan diriku, aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti kalian.
Saat menulis ini, aku menangis. Aku tidak bisa menahan haru ketika harus membayangkan kejadian itu setahun yang lalu. Terasa baru kemarin kita bersama. Dan tahun ini, kita semua harus terpisah. Kalian tak lagi bersamaku. Sahabat itu, bukan tentang mata yang selalu bertatap, tapi tentang hati yang selalu mengingat.
Terlalu banyak kenangan yang tercipta. Terlalu banyak cerita tentang  kita. Bahkan terlalu banyak hal yang selalu kita bagi bersama. Aku terlalu nyaman dengan kalian. Hingga aku lupa melihat orang lain selain kalian. Bahkan aku lupa bahwa kita tak selamanya harus bersama. Kita harus berjalan dijalan masing-masing. Ada banyak mimpi yang harus kita kejar. Dan aku lupa akan semua itu.
Perpisahan. Adalah hal yang paling kubenci dalam hidup ini. Aku benci menatap punggung-punggung yang perlahan menjauh. Kalian pergi dengan mimpi dan berjanji akan kembali lagi. Ingatlah sahabat, sejauh apapun kita melangkah, kita akan saling mengingat dalam doa. Tuhan akan menunjukkan jalan untuk kita kembali, entah hanya untuk bertemu dalam sekejap, atau hanya sekedar berbagi harap. Namun aku yakin kita akan bertemu kembali, dan membawa sekeranjang cerita dan kisah-kisah hidup kita masing-masing.
Aku bersabar. Aku menunggu waktu itu tiba. Saat Dimana kita duduk bersama. Bercanda dengan pecahnya tawa Zaila dan Nindy, nasehat bijak dan ajakan Kak Lia untuk olahraga pagi, omelan Uchan dan masakannya yang selalu membuatku betah berlama-lama.
Aku masih tetap berharap saat itu akan tiba. Saat dimana aku akan kembali melihat punggungnya Uchan yang sedang sibuk memasak sambil berdendang. Suara Kak Lia yang berulang kali membangunkan untuk olah raga pagi. Kembali bertemu Zaila, meskipun kali ini ia tidak lagi menatap layar hitamnya. Aku akan kembali berjumpa si mungil Nindy. Nindy kecil yang kuat. Selalu menyimpan ceritanya sendiri namun selalu membagi tawanya bersama. Sungguh, aku kagum akan ketegaranmu Rapunzelku.
Ah. Lagi-lagi aku tidak bisa menahan haru. Aku menangis lagi ketika menulis ini. Aku masih tetap berharap. Selalu. Semoga.






Gorontalo, 05 November 2016
My Birthday 27 th
Pelangi Jiwa