Minggu, 26 Juni 2016

KOMITMEN

25 Juni 2016
20 Ramadhan 1437 H

KOMITMEN
Aku sudah berusaha menerima dengan ikhlas segala masa lalumu. Menerima dengan lapang dada, dan memaafkan segala sesuatu yang telah kau lakukan di masa lalu. Semua orang punya masa lalu. Entah yang indah atau kelam, entah yang baik atau buruk. Namun, sebaik dan seburuk apapun masa lalu itu, setiap orang berhak memiliki masa depan yang indah.
 Aku tak pernah meminta sesuatu padamu. Namun hari ini, aku ingin mengajukan satu permintaan. Sesuatu yang sangat sederhana. Amat sederhana. Dengarkanlah! Kumohon, berhentilah menatap masa lalumu. Jagalah perasaanku. Jagalah kepercayaan yang aku berikan kepadamu. Jagalah kesempatan terakhir yang kau pinta waktu itu.
Seindah apapun masa lalu, semanis apapun masa lalu itu, tempatnya dibelakang. Memang hanya dibelakang. Harus ditinggalkan. Tolong, jangan lagi menoleh pada masa lalumu. Meski masa lalu itu memanggil, melambaikan tangan, berteriak atau melemparkan sesuatu padamu. Kumohon, jangan pernah menoleh. Meski mereka menawarkan segala sesuatu, meski mereka menjanjikan segala keindahan. Kumohon, janganlah tertarik. Karena kau tau, itu semua hanyalah semu.
Disini ada aku. Aku berdiri disampingmu. Menggenggam tanganmu. Aku ingin melangkah bersamamu. Maka, jangan alihkan pandanganmu selain padaku. Jagalah langkah kaki kita agar tetap seimbang. Kita akan melangkah jauh. Sangat jauh. Apapun yang terjadi diperjalanan nanti, kumohon jangan lepaskan tanganku. Aku juga takkan pernah melepaskan genggaman tanganmu. Percayalah padaku.
Kutanya sekali lagi. Maukah kau melangkah bersamaku? Tidak usah dijawab. Cukup anggukkan kepalamu atau gelengkan. Itu sudah lebih dari cukup sebagai jawaban bagiku. Jika kau mengangguk, maka kuberikan kau kesempatan, untuk menanggalkan segala sesuatu yang menyesakkan dadamu. Lepaskan segala benda yang tak kita butuhkan saat perjalanan nanti. Selesaikan semua permasalahanmu dengan masa lalu. Kemudian, berdamailah dengan hatimu. Perkuat komitmen, dan marilah! aku menunggumu. Mari kita melangkah bersama.
Apapun  yang terjadi nanti, kita berdua akan selalu bersama. Saling mencintai dan mengasihi. Saling mengingatkan dan menguatkan. Apapun yang akan terjadi nanti, kita tak akan pernah menoleh kebelakang lagi. Berjanjilah.
Lihat! dihadapan sana ada masa depan yang menunggu. Ada berjuta mimpi yang menunggu kita menjemputnya. Jika kau yakin, ayolah! tunggu apalagi. Sambut uluran tanganku. Perkuat tali sepatumu, mantapkan hati, keyakinan, komitmen dan mari kita melangkah bersama-sama.



IBU, AKU TAK INGIN MERINDUKANMU

24 Juni 2016
19 Ramadhan 1437 H

IBU, AKU TAK INGIN MERINDUKANMU
Setelah menulis sesuatu tentang Ayah, aku jadi ingat tentangmu Ibu. Namun sayang sekali, seperti Ayah, aku juga tak punya kenangan berharga denganmu. Sungguh, aku sudah memaksa memoryku untuk mengenang setiap moment indah bersamamu. Namun, aku tak bisa. Melukis wajahmu diawan saja aku tak bisa.
Ibu…
Seperti apa rupamu? Miripkah wajahmu denganku? Apakah mata kita sama? Rambut, hidung, bibir. Apakah aku mirip sepertimu?
Aku hanya tau sedikit tentangmu, Ibu. Aku tau ketegaranmu dari cerita orang-orang dirumah. Aku tau kau adalah wanita hebat, wanita yang kuat, wanita yang tegar. Kata mereka kau sangat menyayangiku. Bahkan kau punya nama kesayangan untukku. Sampai saat menjelang kepergianmu pada ramadhan yang telah berlalu, kau masih sempat menyebut namaku. Kau masih sempat berwasiat untukku. Sungguh, aku tau kau sangat menyayangiku.
Aku pernah melihat gambarmu. Gambar usang.  Digambar itu hanya ada kau dan kakak. Berarti aku tak memiliki potret bersamamu. Tapi setidaknya aku sudah tau seperti apa wajahmu. Itupun aku masih sangat kesulitan untuk membayangkannya sendiri.
Ibu…
Maafkan aku. Aku tak ingin merindukanmu. Aku lebih memilih merindukan Nenek yang selalu ada untukku. Meski kini beliau juga telah pergi. Aku tau kita berpisah atas kehendak-Nya. Namun sekali lagi, aku tak bisa merindukanmu. Aku hanya ingin merindukan Nenek. Maafkan aku.

Percayalah, aku juga menyayangimu. Aku mencintaimu. Namamu selalu menjadi awal dari doa-doaku. Aku selalu mendoakanmu. Apakah doaku sampai, Ibu? Maafkan aku Ibu. Aku mencintaimu namun aku tak ingin merindukanmu.

AYAH, IZINKAN AKU MEMBENCIMU

23 Juni 2016
18 Ramadhan 1437 H

AYAH, IZINKAN AKU MEMBENCIMU
Dihalaman depan Masjid, kulihat seorang Ayah yang sedang memakaikan sendal kepada putri kecilnya. Si putri kecil tersipu ketika sang Ayah memperbaiki mukenanya yang sedikit berantakan. Mereka berdua tampak bahagia. Kemudian mereka beranjak pergi. Berjalan sambil berpegangan tangan. Bercengkerama. Sesekali sang Ayah mengusap kepala putrinya. Sungguh, pemandangan yang menyesakkan dada.
Aku berjalan tepat dibelakang mereka. Sepertinya tempat tinggal kami searah. Aku tidak begitu jelas mendengar percakapan mereka. Yang jelas si putri kecil itu sangat bahagia, melompat, bersenandung. Sedangkan sang Ayah hanya tertawa melihat tingkah konyolnya. Sungguh, aku tak bisa menahan haru melihat pemandangan itu.
Ayah, dimana kau?
Pernahkah kau menggenggam tanganku waktu aku kecil dulu? Pernahkah kau mengusap kepalaku saat aku tertidur? Pernahkah kau menimangku sambil  menyanyikan lagu? Pernahkah kau memindahkanku saat tertidur didepan tv?
Ayah…
Maafkan aku, Maaf karena aku tak punya kenangan hebat bersamamu. Aku benar-benar sudah memaksa memoryku untuk mengingat segala sesuatu tentangmu. Namun sayangnya benar-benar tak ada. Sungguh, tak ada satupun kenangan yang mengingatkanku akan dirimu. Bahkan aku tak bisa membayangkan wajahmu. Melukis dianganpun aku tak bisa.
Ayah…
Seperti apa rupamu? Apakah kita memiliki kesamaan? Ah, aku sudah banyak mendengar cerita tentangmu. Dan bisa kusimpulkan, kau tak pernah menyayangiku. Entahlah, tapi setiap doaku selalu kusebut ‘ampunilah dosa kedua orang tuaku’. Padahal aku ingin sekali merubah doa itu, aku  hanya ingin mendoakan Ibu. Tapi tak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa merubah ayat Alquran.
Ayah….
Tidakkah kau mengingatku? Tidak pernahkah kau merindukanku? Tidak pernahkah kau berniat ingin menemuiku? Lihatlah! Aku sudah dewasa.
Ayah, izinkan aku membencimu…!!!


KAUKAH JODOHKU? ATAU PENGHALANG JODOHKU YANG SEBENARNYA?



22 Juni 2016
17 Ramadhan 1437 H

KAUKAH JODOHKU?
ATAU PENGHALANG JODOHKU YANG SEBENARNYA?

Hubungan ini tak pernah mulus. Ada-ada saja yang selalu mengganggu. Ada-ada saja yang selalu mengusik. Dan anehnya, selalu saja kau yang diganggu. Selalu saja kau yang diusik. Atau kau yang sengaja mengganggu mereka? Atau kau yang sengaja mengusik mereka? Atau mungkin kalian sepakat untuk saling mengganggu? Sepakat untuk saling mengusik? Entahlah. Ini sudah beberapa kali terjadi. Dan lagi-lagi aku mengikhlaskan segalanya. Memaafkanmu. Lagi dan lagi.
Aku berfikir, akukah yang salah dalam hubungan ini atau dirimu? Aku bingung. Kadang aku berfikir kau adalah jodohku. Karena kita sudah melewati beribu-ribu hari. Saling menunggu, saling memperjuangkan. Namun disisi lain, keraguan itu datang menghampiri. Bukankah jodoh rahasia Ilahi? Lalu, siapa aku yang bisa menebak-nebaknya sendiri.
Jika aku selalu saja memafkanmu, pasti kau tak akan jera. Kemungkinan besar, kau akan kembali mengulangi kesalahan yang sama. Karena kau berfikir, aku pasti memaafkanmu. Kesalahan yang dimaafkan satu atau dua kali, maka secara tidak langsung membuka peluang untuk  mengulangi kesalahan ketiga kali, empat  dan seterusnya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meninggalkanmu? Meninggalkan semua yang sudah kita perjuangkan selama ini?
Terkadang aku juga berfikir, kaukah jodohku? Atau kaukah yang menghalangi jodohku yang sebenarnya? Jika kau jodohku, kenapa Tuhan begitu sulit mempersatukan kita dalam ikatan yang halal? Apakah Tuhan masih ingin melihat sejauh mana kita berjuang? Sejauh mana kita bertahan meskipun tersakiti? Sejauh mana kita tetap mencintai meskipun sering terabaikan?
Ataukah memang Tuhan ingin memperlihatkan sesuatu kepadaku? kepada kita. Atau memang Tuhan sengaja menghadirkan masalah-masalah diantara kita, agar kita berdua sadar. Bahwa kita dipertemukan bukan untuk saling memiliki. Hanya sebatas dipertemukan, bukan untuk disatukan.
Mungkin Tuhan ingin aku mengetahui satu hal, bahwa kau bukanlah pemilik tulang rusukku yang sebenarnya. Bahwa bukan kau yang akan menjadi imamku nanti. Bahwa kita berdua harus menghentikan ini. Menghentikan perjuangan kita selama ini. Dan mengambil jalan masing-masing. Memperbaiki diri dalam menyambut sang penggenap separuh agama.

Jika kau benar-benar adalah jodohku, maka datanglah pada keluargaku. Bawa rombonganmu. Buktikan semua kesungguhanmu. Pinang aku dengan kemampuanmu.  Jika keluargaku memberatkanmu, Aku berada dipihakmu. Kan kuberi pengertian kepada mereka atas niat muliamu yang ingin menghalalkanku. Dan jika dihatimu masih ragu, maka tinggalkan aku. Berhentilah disitu. Pilihlah jalanmu. Temukan bidadarimu. Dan jangan menoleh lagi padaku.

KAULAH WANITA TERBAIKKU Bag.2

18 Juni 2016
13 Ramadhan 1437 H

KAULAH WANITA TERBAIKKU
(Bag.2)

Benar saja. Barusan menyambut pagi. Seseorang yang kukenali mengetuk pintu. Katanya ada kiriman dari rumah. Ia kemudian menyerahkan sebuah kardus besar. Aku menerimanya dengan bahagia. Buru-buru membukanya. Kakak mengirimkanku sepuluh kotak kue. Lima kotak kue brownies coklat hijau bertabur coklat meses dan lima kotak lagi kue bolu kukus putih dengan hiasan warna hijau, merah dan kuning. Serta dua kotak ikan baronang yang sudah di goreng lengkap dengan sambalnya. Kakak memang paling tau kesukaanku.
Kakak yang ulang tahun, malah dia yang mengirimiku hadiah. Sedangkan aku, memberi ucapan selamat saja enggan. Entahlah, mungkin karena tidak terbiasa. Tiba-tiba rasa bersalah memenuhi kalbuku. Kemudian bayangan-bayangan kenangan  itu hadir kembali, pengorbanan Kakak selama ini, kado ulang tahunku yang tak pernah absen dikirimnya tiap tahun. Sesak, jika harus mengingat semua. Sementara aku belum bisa membalas sedikitpun semua pengorbanannya.
Maka kuputuskan untuk membongkar celangan uang kos, demi membelikan Kakak sebuah kado. Aku ingin ingin membuatnya bahagia. Meskipun kado kecil ini takkkan bisa menukar semua pengorbanannya.
Panas siang itu tak menyurutkan semangatku. Hampir setengah jam berkeliling didalam toko. Memilih sesuatu  yang cocok dengan dirinya, yang cocok dengan hobby memasaknya. Akhirnya ketemu, dan aku yakin Kakak pasti menyukainya.
Setelah membungkus kado dengan rapi, dengan sampul berwarna hijau sesuai kesukaaanku. Aku membelikan sebuah kue mini dengan ucapan selamat ulang tahun untuknya, semoga saja ia suka dengan kado dan kuenya.
Semoga…

Meskipun kue ini sangat kecil, tapi percayalah cintaku begitu besar, Kak.

Rabu, 22 Juni 2016

LELAKI TERHEBAT



21 Juni 2016
16 Ramadhan 1437 H

LELAKI TERHEBAT

Aku masih ingat ketika kau datang dengan wajah lelahmu
Tubuh penuh keringat bercampur aroma matahari
Wajah coklat yang berminyak bercampur debu
Dan mata cekung yang perlahan sayu
Aku masih ingat setiap inci wajah lelahmu
Wajah yang selalu memperjuangkan sesuatu
Aku tau kau sangat letih
Namun semua kau simpan rapi di dalam hati
Demi orang-orang yang kau cintai
Ah…Kau terlalu peduli
Hingga kadang lupa memperhatikan diri sendiri
Bekerja tak kenal waktu
Semata karena pengabdianmu pada sang Ibu
Tubuhmu semakin hari semakin ringkih
Namun kau tetap berjuang dengan gigih
Aku ingat ketika kau mengeluh ingin menaikkan berat badan
Aku masih ingat ketika kau memperlihatkan isi dompetmu saat akhir bulan
Aku masih ingat wajah kecewamu usai sidang skripsi
Aku masih ingat ketika kau harus mengikhlaskan mimpimu
Yang juga menjadi mimpiku
Aku masih ingat
Semuanya…
Setiap detail kejadian bahagia
Setiap detail kejadian yang membuatmu kecewa
Aku masih ingat
Semuanya…
Setiap perjuangan yang kau lakukan
Setiap pengorbanan yang kau berikan
Tetaplah menjadi lelaki terhebat
Lelakiku…
Selamat ulang tahun yang ke – 27
Semoga segala niat muliamu mendapat restu
Semoga perjuanganmu tak berujung semu
Semoga semua pengorbananmu dicatat dalam buku amal terbaik
Aku selalu mendoakanmu
Dalam ribuan doa yang tak pernah kau tau
Semoga kau tetap menjadi lelakiku

Lelaki terhebatku…

BUAH NANAS YANG KITA TANAM BERSAMA Bag. 2

sumber: google
20 Juni 201615 Ramadhan 1437 H

BUAH NANAS YANG KITA TANAM BERSAMA
(Bag. 2)

Perasaanku mulai tak enak. Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi. Firasatku selalu benar. Maka  kuputuskan untuk pergi menjenguk kebun kita. Betapa terkejutnya aku, melihat separuh dari kebun kita rusak, karna hama yang entah datang dari mana. Aku tergugu, tak bisa berkata-kata. Pemandangan didepanku sungguh menyesakkan dada. Aku terjatuh, bersimpuh didepan sebagian tanaman yang rusak.
Aku telah mempercayakan padamu untuk menjaganya, namun ternyata kau lalai. Kemana kau? Apa saja yang kau lakukan? Hama itu tak akan masuk jika kau tak membiarkannya. Kau sudah mengingkari janji kita, kau sudah merusak kepercayaan yang aku berikan. Kau sungguh kejam.
Aku marah. Benar-benar sangat marah. Namun, entahlah. Aku tidak punya kemampuan untuk mengekspresikan sebuah kemarahan. Aku sebenarnya ingin berteriak, melemparkan segala benda kearahmu, mencakar wajahmu sampai berdarah-darah. Namun, aku tidak bisa. Sungguh, aku tidak bisa. Bahkan untuk menangispun, aku tak mampu lagi. Mungkin sepertinya air mataku telah habis.
Kau hanya berdiri disampingku. Diam. Menunduk. Tak berani berucap. Hening. Sepi. Bahkan desau angin begitu jelas terdengar. Aku benci melihat wajahmu. Aku benci menatap matamu. Aku benci berhadapan dengan wajah bersalahmu, dengan mimik penyesalannmu, dengan raut memelasmu. Karna aku tau, aku tak akan bisa meluapkan kemarahanku jika menatap wajahmu.
Aku benci mendengar ucapan maaf yang berulang-ulang kali kau ucapkan. Aku benci dengan semua ini. Bukankah kita sudah berjanji untuk tetap saling menjaga kebun ini? Kenapa kau tidak menjaganya dengan baik, sementara aku pergi beberapa saat. Kenapa kau tidak sanggup menjaga kebun sekecil ini? Apa yang terjadi padamu?
Bagaimana mungkin hama bisa masuk dan merusak sebagian dari kebun ini? Dan anehnya kau tidak mencegah mereka, malah mempersilahkan mereka masuk. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidakkah kau ingat akan wajahku, saat membiarkan mereka masuk? Tidakkah kau merasa, bahwa aku akan marah dan sangat kecewa dengan tindakanmu ini? Lalu apakah aku harus memaafkan mu lagi? Apakah aku harus membiarkan kebun ini rusak penuh? Aku lelah jika harus menjaganya sendiri. Aku sangat lelah.
Aku tau, setiap orang yang mencoba menjadi petani pasti akan mengalami gagal panen. Tapi tidak bisakah kita mengantisipasi kegagalan itu? Semua tidak akan terjadi jika kau tidak membiarkan mereka masuk dan merusak sebagian dari tanaman kita.
Sungguh, aku benar-benar marah. Aku ingin memukul wajahmu hingga membiru. Aku ingin menginjak-nginjak hama itu dengan kakiku, sampai mereka hancur tak berbentuk. Aku ingin sekali menghancurkan kalian semua, yang dengan tega merusak sesuatu yang telah aku tanam dengan penuh kesungguhan, dengan harapan yang setiap hari semakin tumbuh. Sungguh, aku ingin kalian semua musnah.
Akupun memaki-maki diriku yang tidak bisa mengekspresikan kemarahan, bahkan menangis saja aku tak sanggup. Apakah aku  ini manusia atau sudah berubah menjadi makhluk lain? Aku terus meratap, didepan sebagian tanaman yang dirusak hama-hama terkutuk itu.
Aku sadar, aku tidak bisa terus-terusan meratapinya. Aku harus bangkit. Karena ini bulan ramadhan, maka kuputuskan untuk kembali menata hati, berdiri mengumpulkan tanaman-tanaman yang rusak, membersihkan sebagian kebun, membakar rumput-rumput yang tumbuh mengganggu. Kuputuskan untuk kembali menata kebun ini dengan hati yang ikhlas, memaafkan segala sesuatu yang telah terjadi. Merawatnya kembali dengan penuh cinta kasih.

Entahlah. Apakah aku harus mempercayaimu lagi atau tidak. Aku masih bingung. Aku masih takut. Biarlah untuk sementara waktu, aku sendiri yang akan merawatnya. Membiarkannya tumbuh dengan baik. Menjaganya sampai tiba musim panen nanti.




SETIA MENANTIMU

17 Juni 2016
13 Ramadhan 1437 H

SETIA MENANTIMU

Di halte yang kusinggahi siang itu, nampak seorang Kakek dengan sebuah tas belanjaannya yang berisi sayur dan rempah-rempah. Ia mengenakan kemeja abu-abu yang sudah lusuh, celana panjang yang tidak layak dibilang warna hitam lagi, dan sebuh peci hitam yang mulai pudar. Ia sedang memandang langit yang mulai mendung. Pandangannya kosong, seperti memikirkan sesuatu.
Sebenarnya bukan itu yang menarik perhatianku, tapi sebuah tulisan yang ada di pergelangan tangannya. ‘Setia Menantimu’. Rasa penasaranpun menghinggapiku. Aku perlahan mendekatinya, berbasa-basi kemudian menanyakan tulisan dilengannya.
“Kakek, di tato itu sakit nggak ya?” Semoga saja Kakek ini tidak risih.
Kakek itu menoleh padaku, kemudian melihat tulisan dilengannya. Ia tersenyum.
“Maksud kamu ini?” Ia menunjukkan lengannya.
Aku mengangguk mantap. Aku bisa membacanya dengan jelas. ‘SETIA MENANTIMU’. Ditulis dengan huruf balok.
“Sakit. Tapi lebih sakit ketika dia pergi meninggalkan Kakek.”
Kata-kata Kakek itu begitu dalam. Mungkin aku telah salah menanyainya tentang tulisan  itu. Sepertinya aku tak sengaja menyentuh luka yang mulai mengering.
“Dia? Maksud Kakek?” Aku pura-pura bingung, padahal itu adalah wujud dari rasa penasaranku.
“Dia, wanita yang Kakek cintai sampai detik ini.”
Sampai detik ini? Begitu besarkah cinta Kakek ini hingga menunggu sampai usia senja? Aku semakin penasaran.
“Memangnya dia kemana, Kek?” Aku memandang lekat wajah Kakek.
“Dia pergi kesebuah Kota, katanya pasti akan kembali.” Jawab Kakek sambil memandang langit, gerimis mulai turun, matanyapun mulai berkaca-kaca.
“Kakek, tidak coba mencarinya?”
“Sudah, bahkan berkali-kali. Tapi Kakek tidak tau alamatnya.”
“Atau mungkin dia sudah bersama orang lain, Kek?”
Satu bulir air mata jatuh. Perlahan merayap dikulit pipi Kakek yang mulai keriput. Aku mengigit bibir, merasa bersalah telah mengucapkan kalimat itu.
“Entahlah, tapi janji tetaplah janji. Sebelum dia pergi, kami berjanji untuk tetap saling mencintai apapun yang terjadi. Tak peduli meski jarak memisahkan, tak peduli jika suatu saat kami tidak bisa bersama. Kami sudah berjanji untuk tetap saling mencintai. Didalam hati. Karena sejatinya, cinta tak harus saling memiliki.”
Kini, malah aku yang tak kuasa menahan haru. Sebegitu dalamnyakah cinta Kakek pada wanita itu? Sampai harus berkorban menunggunya yang tak kunjung datang?
“Kakek, tidak mencoba untuk mencari penggantinya?”
“Sudah, bahkan berkali-kali. Namun, entahlah. Kakek tidak bisa melupakannya. Jadi lebih baik Kakek berhenti mencari dan tetap menantinya.”
“Kakek, masih yakin akan bertemu dengan dia?”
Kakek itu mengusap matanya yang sembab, dengan sapu tangan abu-abu dari sakunya.
“Kakek yakin, sangat yakin. Suatu saat, Kakek pasti akan bertemu dengan dia. Jika bukan di dunia ini, mungkin di dunia lain.”
“Nak, berjanjilah dengan hati, bukan hanya dibibir. Kelak yang datang dari hati pasti akan kembali kehati.” Ia menepuk pundakku dan berlalu pergi.
Sekali lagi aku mengusap air mataku, berdoa dalam hati. Semoga Allah mengabulkan mimpi sederhana Kakek itu.


***



copas picture:
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Fpks-riyadh.org%2Fwp-content%2Fuploads%2F2015%2F01%2Fjanji.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fpks-riyadh.org%2Fmenepati-janji-janji-mu%2F&docid=RHX1vH4TBUnLkM&tbnid=IxzfQziTmGxdoM%3A&w=683&h=427&bih=575&biw=1034&ved=0ahUKEwiV1_uj47vNAhWBOI8KHXG3CH8QMwgaKAAwAA&iact=mrc&uact=8

KAULAH WANITA TERBAIKKU

16 Juni 2016
11 Ramadhan 1437 H

KAULAH WANITA TERBAIKKU

Aku memanglah bukan adik yang baik. Akhir-akhir ini, aku malah sibuk mengingat ulang tahun orang lain. Orang yang belum tentu peduli padaku. Hingga aku lupa akan ulang tahunmu. Padahal setiap ulang tahunku, kau selalu rutin mengirimiku kado. Maafkan aku, Kak. Aku sungguh lupa. Itupun kau sendiri yang mengingatkan. Ulang tahunmu sudah lewat dua hari yang lalu. Tapi percayalah, disetiap doaku, namamu tak pernah aku lupakan. Kau adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku.
Kau adalah wanita terbaikku. Wanita hebat dan tegar. Kau bisa berperan menjadi Ibu sekaligus Ayah buatku. Sampai kapanpun, aku takkan bisa membalas segala pengorbananmu. Kau selalu peduli kepadaku. Teramat peduli. Aku saja yang seringkali menyalah artikan segala bentuk kepedualianmu. Sekali lagi maafkan aku. Maaf atas sikapku yang dulu-dulu.
Kau masih ingat? Waktu kecil kita berdua sering kali bertengkar. Hampir setiap hari. Setiap hal selalu saja berujung dengan pertengkaran. Kau selalu saja melarangku. Tak boleh ini dan itu, tak bisa kesini dan kesitu. Semua tak bisa. Bahkan memilih baju lebaranpun, aku tak berhak. Kau yang berkuasa atas segala apa yang aku pakai. Kau selalu saja membelikanku baju berwarna cream. Padahal aku sangat menyukai  warna hijau. Kita tak pernah tau kesukaan masing-masing. Kau hanya menerapkan semua yang terbaik menurutmu.
Aku masih ingat, saat aku melempar gelas kaca padamu, karena kau melarangku ikut piknik di sekolah dulu. Aku juga pernah melemparkan tempurung padamu, saat kau memutuskan untuk ikut piknik pada kesempatan lainnnya. Dan lagi-lagi kau melarangku untuk ikut mandi dengan teman-temanku. Katamu nanti aku hanyut. Padahal semua siswa diperbolehkan mandi ditepi sungai waktu itu.
Saat aku beranjak remaja, kau semakin over protective. Setiap kali pulang malam dengan teman-temanku, kau selalu memeriksa seluruh badanku. Mencium kalau ada bau asap rokok menempel dibajuku. Padahal aku hanya pergi dengan teman-teman sekompleks. Aku tidak bisa terlambat pulang pada jam yang sudah kau tentukan. Kau akan menyusulku walaupun baru telat satu menit saja.
Aku masih ingat sakitnya, saat kau menghempaskan jaket jeans ke wajahku, tepat dihadapan semua teman-temanku. Kancing besinya mengenai pelipisku. Aku menyumpahimu dalam hati. Sambil menangis dan mengadu pada Nenek. Setelah kejadian itu, kau mengurungku berminggu-minggu dirumah.
Kemudian kita berpisah. Aku memilih sekolah yang jauh dari rumah. Tinggal terpisah jauh darimu. Kau mengizinkannya, karena kau percaya sekolah yang ku pilih adalah sekolah terbaik. Dan itupun karena ada kakak sepupu yang bisa menjadi mata-matamu disana, kalau sampai aku berbuat macam-macam
Semenjak tinggal jauh darimu. Tiba-tiba ada perasaan aneh yang tumbuh dalam hatiku. Aku mulai merindukanmu. Merindukan setiap omelanmu, kemarahanmu dan segala hal yang membuat kita bertengkar. Ya, aku merindukanmu. Perlahan-lahan aku mulai menyadari satu hal, bahwa semua yang kau lakukan adalah semata-mata untuk kebaikanku. Kau teramat sangat menyayangiku, hingga tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku.
Ternyata kau juga merasakan hal yang sama. Kita berdua mulai saling merindukan. Saat liburan tiba, kau selalu memasakkan makanan kesukaanku. Kau tak pernah lagi melarangku. Mungkin karena aku telah dewasa. Kepercayaan mulai kau tanamkan padaku. Kita tak pernah lagi bertengkar, kau mulai menanyai warna kesukaanku, kau memperbolehkanku memilih baju yang aku suka. Kau mulai memperbolehkanku berteman dengan siapa saja.
Saat lulus, aku memutuskan untuk tetap tinggal terpisah darimu. Aku bekerja sambil membiayai kuliahku. Namun lagi-lagi kau masih saja mengirimiku uang untuk membayar SPP-ku. Kau membelikanku Laptop, bahkan setiap dua mingggu sekali kau sering mengirimiku persediaan makanan, padahal kiriman sebelumnnya belum habis.
Sampai aku lulus kuliah, kau masih saja memanjakanku, masih rutin mengirimiku persediaan makanan, kadang membiayai kosku. Mengirimiku kue-kue kesukaaanku. Bahkan rutin mengirimiku kado ulang tahun setiap tahunnya.
Setiap hari kau sering menelponku, menanyakan kabarku, menanyakan kegiatanku. Kau selalu bangga dengan prestasi yang kuraih. Aku masih ingat dulu, kau pernah memarahiku karena hobby menulis Diary, katamu orang yang sering menulis buku harian akan cepat mati. Entah dari mana kepercayaan itu. Yang jelas, semua cerpen yang kutulis dikertas, kau buang begitu saja. Tapi sekarang, semua berbeda. Saat cerpen pertamaku dimuat dikoran. Kau foto copy perbanyak dan menyebarkannya keseluruh anggota keluarga kita. Begitu juga saat aku memenangkan lomba menulis surat, hampir seisi kampung kau beritahu.
Saat ulang tahunku yang ke-24 kau datang menemuiku langsung ke Gorontalo. Merayakan bersama-sama. Kau juga mulai mencemaskan tentang jodohku. Kau mulai repot bertanya-tanya ini itu. Ah.. kau terlalu peduli padaku, teramat peduli. Maafkan aku atas kesalahanku yang dulu-dulu.
Dulu kau sering melarangku, sekarang kaulah orang pertama yang selalu mendukungku. Kaulah orang pertama yang teramat peduli padaku. Kita sering bertanya kabar lewat telpon berjam-jam. Kau masih saja sering mengirimiku persediaan makanan. Mengirimu  uang, bahkan masih tetap rutin mengirimiku kado ulang tahun, padahal usiaku sekarang sudah 26 tahun. Namun perlakuanmu tak pernah berubah, masih tetap menganggapku sebagai adik kecilmu yang cengeng.
Sampai kapanpun, aku takkan pernah bisa membalas semua pengorbananmu untukku. Kau adalah wanita terhebatku. Kau bisa menjadi Ibu sekaligus Ayah buatku. Terimakasih, Kak. Aku menyayangimu. Sungguh, sangat menyayangimu.
Selamat ulang tahun yang ke-34 Kak…
Semoga segala cita-cita muliamu tercapai, Semoga segala keinginanmu untukku terkabul, Semoga Allah selalu mengabulkan segala pintamu, Semoga Allah melipat gandakan rezekimu, Semoga Allah senantiasa menjagamu, dan semoga aku masih punya kesempatan untuk bisa membahagiakanmu.

Aku mencintaimu Kakak, Selalu dan selamanya.



copas picture:
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2F1.bp.blogspot.com%2F-5Pqyw5msYWI%2FVrcLwUzlkPI%2FAAAAAAAABuY%2F3-GzwupS5F8%2Fs1600%2Fkata%252Bkata%252Bucapan%252Bselamat%252Bulang%252Btahun%252Buntuk%252Bkekasih.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fucapanselamatulangtahun123.blogspot.com%2F2016%2F02%2Fkata-kata-ucapan-selamat-ulang-tahun-untuk-kekasih.html&docid=6iIPiP9MYet6DM&tbnid=8dVW4BC6q2sd5M%3A&w=1000&h=667&bih=619&biw=1034&ved=0ahUKEwjc7MTY4LvNAhWEsI8KHSO7B5oQMwiIAShhMGE&iact=mrc&uact=8

SETIAP KESULITAN ADA KEMUDAHAN

15 Juni 2016
10 Ramadhan 1437

SETIAP KESULITAN ADA KEMUDAHAN

Ada apa dengamu, sahabat?
Ceritakanlah padaku
Bukannya aku ingin ikut campur
Aku hanya peduli padamu
Teramat peduli
Beberapa hari ini aku kehilangan keceriaanmu
Dan itu menyakitkan bagiku
Bukankah kita sudah berjanji
Untuk tetap saling menyayangi?
Untuk tetap ada dalam suka dan duka?
Itu bukan hanya kata-kata penghibur
Itu adalah janji abadi kita
Dan saat kita berjanji
Aku yakin- DIA telah menulis janji kita di langit-Nya
Kutanya sekali lagi
Ada masalah apa, sahabatku?
Kau masih diam
Karena ini bulan Ramadhan
Tak inginku mengotori hati dengan menebak-nebak masalahmu
Jika aku tak bisa membantumu
Mungkin aku bisa sekedar mengurangi sesak di dadamu
Sahabatku…
Jika masalah ini terlalu berat
Aku tak akan pernah bosan mendoakanmu
Ku coba bertanya sekali lagi
Ada masalah apa, sahabatku?
Kau tetap diam
Kemudian lirih menjawab
Aku tak sanggup menceritakannya
Kita berdua kembali diam
Baiklah, aku tak akan memaksamu lagi
Ketahuilah sahabatku…
Allah menurunkan penyakit beserta obatnya
Begitu juga dengan masalah
Selalu akan ada jalan keluarnya
Bersabarlah sahabatku
Tetaplah yakin akan segala ketentuan-Nya
Setiap ada kesulitan, ada kemudahan
Itu janji Allah dalam Al-Qur’an
Allah menjanjikan dua kemudahan
Allah tak pernah ingkar
Kita saja yang kurang bersabar
Kudoakan semoga kau tetap tegar
Tetap ikhlas dan sabar
Semoga kita termasuk orang-orang pilihan
Yang sengaja dipilih Allah untuk diuji
Seberapa besar cinta dan keinginan kita

Untuk tetap berusaha dekat dengan-Nya




copas picture:
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Fakphoto4.ask.fm%2F551%2F366%2F087%2F-349996988-1tp4r6m-jgo37kdaa0rna00%2Foriginal%2Finsyirah.png&imgrefurl=http%3A%2F%2Fask.fm%2Fbeebau%2Fanswers%2F136328118733&docid=an_VWW7D2BgI_M&tbnid=MdypXRv3VujUnM%3A&w=500&h=258&bih=575&biw=1034&ved=0ahUKEwjuv4Ph4rvNAhVLtI8KHXc1CU4QMwhXKDEwMQ&iact=mrc&uact=8

Selasa, 14 Juni 2016

TERNYATA MEREKA SALING MENUNGGU

14 Juni 2016
9 Ramadhan 1437 H

TERNYATA MEREKA SALING MENUNGGU

Sekeluarnya dari pintu Bank siang itu, aku memutuskan untuk duduk sejenak di parkiran depan Bank. Kebetulan ada sebuah bangku kayu dibawah pohon yang cukup rindang. Aku duduk sambil membalas beberapa pesan dari dari teman-teman.
Didepanku terlihat seorang perempuan yang mondar-mandir tak jelas. Ia kemudian duduk disampingku, dibangku kayu yang sama. Perempuan itu mungkin seumuran denganku. Ia terlihat gusar. Beberapa kali menelpon seseorang yang sejak tadi belum juga tersambung.
Sungguh, aku tidak berniat mendengarkan percakapan perempuan itu dengan lelaki yang ditelponnya. Dia duduk disampingku, sangat dekat. Hingga aku bisa mendengar nada sambung telponnya. Ia begitu gelisah  tak memperhatikan sekelilingnya. Sepertinya juga ia mengabaikan keberadaanku.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara seorang lelaki diseberang telpon.
“Kamu benar sudah menikah?”
Aku sedikit kaget, dan menoleh kearahnya. Wajahnya nampak tegang menunggu jawaban. Jika bisa ku terka, mungkin ia berdoa dalam hati semoga lelaki itu menjawab ‘tidak’.
“Jawab!” Wajahnya berkeringat dingin.
“I..iya.” Lelaki itu terdengar ragu menjawab.
Ia menggenggam erat ujung bajunya.
“Haaahhh? Kapan?”
“U... udah lama.”
Perempuan itu menggigit bibirnya,
“Kamu kenapa nggak ngasih tau aku?” Nada suaranya sedikit meninggi.
“Gimana mau ngasih tau, kamu yang aku tunggu nggak peka.” Laki-laki itu juga tak mau kalah.
“Emang kamu pernah ngasih sinyal?”
“Ya, ngggak sih. Ya kamu ngerti aja sendiri.”
“Perempuan itu butuh kepastian. Bukan cuma nebak-nebak doang.”
Mereka terdiam beberapa saat.
“Kamu bahagia?” Tanya perempuan itu dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Biasa aja.” Suara lelaki itu terdengar hampa.
“Lalu kenapa kamu menikah kalo nggak bahagia?”
“Ceritanya panjang, aku nggak tega bilang ke kamu waktu itu.”
“Ceritain sekarang.” Pintanya.
“Panjang banget.”
“Aku punya cukup waktu mendengarkannya.”
Mereka terdiam lagi. Cukup lama. Dadaku tiba-tiba berdegup kencang. Aku bisa merasakannya perasaannya.
“De…” Lelaki itu memanggilnya.
“Aku ikhlas” Nadanya suaranya bergetar, seperti menahan tangis.
“Aku nggak tega jika harus mendoakanmu tak bahagia. Sumpah, aku benar-benar ikhlas, semoga ini adalah pilhan terbaikmu. Assalamualaikum.” Ia mematikan telpon tanpa menunggu jawaban.
Hening. wajahnya tertunduk, memandang ujung sepatunya.
“Allah pasti punya rencana yang lebih indah untukmu.” Tiba-tiba kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
Ia mengangkat wajah, menoleh padaku. Kemudian tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

***




copas picture:
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Finajiun.files.wordpress.com%2F2014%2F04%2F10171067_609943475750228_5202584407662520202_n.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Finajiun.wordpress.com%2F2014%2F04%2F23%2Fketika-dia-tidak-sadar-kita-menunggu%2F&docid=OTScoTszfcTiYM&tbnid=y8xm-ncA9xksLM%3A&w=370&h=254&bih=626&biw=1040&ved=0ahUKEwixps-IyqfNAhVENI8KHQLDDEs4ZBAzCFcoVDBU&iact=mrc&uact=8