Kamis, 27 Oktober 2016

KAU SUDAH MATI

29 Agustus 2016

KAU SUDAH MATI

Kau sudah mati
Telah bercerai dengan duniaku
Terputus sudah semua ikatan kita
Yang tersisa hanya kenangan belaka

Kau sudah mati
Tubuhmu tak bergerak
Bibirmu kaku tak berucap
Aku menatapmu tanpa harap

Kau sudah mati
Telah kumandikan dengan rintihan kerelaan
Telah kukafani dengan ratapan keikhlasan
Dan kuantarkan ditempat terdamai dalam ingatan

Kau sudah mati
Mati didalam hatiku
Telah ku makamkan disudut tergelap
Dan tak akan pernah kuziarahi kembali

TUHAN BISAKAH AKU MENANGIS?

28 Agustus 2016

TUHAN BISAKAH AKU MENANGIS?

Pergi
Hilang
Rindu
Air mata
Adalah satu paket yang tak bisa dipisahkan
Kepergian
Kehilangan
Kerinduan
Tangisan
Adalah satu paket yang tak bisa diceraikan
Aduhai Tuhan
Maafkanlah anak manusia ini
Yang ditinggal pergi tapi tak takut ditinggal oleh-Mu
Yang merasa kehilangan tapi tak takut kehilangan-Mu
Yang selalu rindu tapi tak pernah merindukan-Mu
Yang selalu menangis tapi tak pernah menangisi dosa dihadapan-Mu
Apalah arti sebuah kepergian jika KAU selalu menemaniku
Apalah arti sebuah kehilangan jika KAU selalu ada untukku
Apalah arti sebuah kerinduan jika KAU selalu merindukanku
Apalah arti tangisan jika KAU selalu mengusap air mataku dengan rahmat-Mu
Ah, aku memang tak pandai bersyukur
Meratapi kepergian seseorang yang tidak peduli padaku
Padahal KAU selalu menjagaku hingga terlelap
Merasa kehilangan seseorang yang tidak menganggap keberadaanku
Padahal KAU selalu ada untukku
Merindukan seseorang yang tidak mengingatku
Padahal KAU selalu merindukanku
Menangisi seseorang yang sama sekali tidak memikirkanku
Padahal KAU selalu disisiku
Maafkan aku Tuhan
Aku datang ketika tak ada lagi pelarian
Aku mengadu ketika tak ada lagi tempat untuk berteduh
Maafkan aku tuhan
Yang selalu menjadikan-Mu pilihan terakhirku
Maafkan aku yang selalu mengabaikan panggilan-Mu
Dadaku terasa sesak
Padahal hanya karena urusan dunia
Tuhan, Bisakah aku menangis?


TERNYATA AKU KELIRU

27 Agustus 2016

TERNYATA AKU KELIRU

            Tanggal 27 untuk yang kesekian kalinya. Aku tersenyum kecut mengingatnya. Hari ini adalah hari yang penting bagi kita. Kita akan merayakan hari ini dengan jalan-jalan seputaran kota, nonton film berdua, atau sekedar makan dikaki lima. Ah, itu tak lagi kita lakukan. Sudah dua kali tanggal 27 dan hanya aku yang mengenangnya. Ini adalah hari yang paling indah bagi kita, mungkin hanya bagiku.
            Sudah enam belas hari kita saling memunggungi. Tak bertatap muka. Apalagi saling berkabar. Tadi sore tiba-tiba kau menelponku, sekedar basa-basi. Aku bisa menangkap ada keraguan yang membatasi percakapan kita. Tak banyak yang kita bicarakan, hanya lebih banyak diam. Saling mendengarkan helaan nafas. Saat kau hendak mengakhiri pembicaraan, kupaksakan hati untuk bertanya.
“Tidak ingat sesuatu?” aku menggigit bibir, menunggu jawabanmu diseberang telepon.
“Aku ingat. Dari semalam juga ingat.” Jawabmu yang meninggalkan rasa sejuk dihatiku.
Ternyata kau mengingatnya. Kau mengingat hari ini. Aku bahagia. Memasang telinga mendengar suara bunyi motormu, memasang hati sekuat mungkin saat bertatap mata nanti. Tanganku mulai berkeringat. Aku ingin hari ini menjadi hari bahagia kita seperti yang dulu-dulu. Mari kita akhiri kesalahfahaman ini. Sungguh, hari ini aku sangat, sangat, me-rin-du-kan-mu. Ah, susah sekali mengucapakannnya. Sudah terlalu lama aku tidak membisikkan kalimat itu ditelingamu.
Pukul 20:00 bunyi motormu tak kunjung terdengar. Aku menggigit bibir. Hatiku mulai cemas. Tanganku mulai berkeringat lagi. Ku pandang nomor hpmu di layar telepon. Aku ingin menelponmu tapi kuurungkan. Mungkin saja kau sedang diperjalanan kesini. Aku akan menunggumu. Kau pasti datang. Semua akan baik-baik saja. Aku yakin itu.
Pukul 23:38 teleponku berdering, aku mendengus kesal karena itu bukan kamu. Itu temanmu, katanya kau sedang dalam perjalanan menuju satu daerah. Saat ia menyebutkan nama daerah itu, aku langsung terdiam. Sesuatu yang membuat kita salah faham dan ternyata kau pergi kesana. Aku tersungkur dilantai. Terdiam beberapa saat. Menenangkan hati atas harapan yang terlalu berlebihan.
Jangan terlalu berharap banyak saat tidak ingin tersakiti. Karena harapanmu itulah yang menghancurkan segala kebahagianmu. Imajinasimu yang merangkan kejadian-kejadian bahagia padahal nyatanya dia tak pernah menjanjikan apa-apa.
Aku fikir kau akan datang menyelesaikan kesalahfahaman diantara kita. Aku fikir kau akan datang untuk memperbaiki hubungan ini. Aku fikir kau akan datang untuk memulai hubungan yang baru. Aku fikir hari ini kita akan bertemu. Aku fikir hari ini kita akan tertawa bersama, aku fikir…..
Ternyata aku keliru.


SEKADAR MENGINGATMU SAJA

26 Agustus 2016

SEKADAR MENGINGATMU SAJA

Empat belas hari setelah kejadian itu. Aku benar-benar melupakanmu. Sedikitpun tak mengingatmu. Meski terkadang mereka mengingatkan, tapi tak sedikitpun hati ini bergeming. Aku benar-benar melupakanmu. Tak ada usaha apapun untuk itu. Hanya saja, aku benar-benar tak mengingatmu saat ini. Aku juga tak mengerti apa yang terjadi dengan hatiku.
Empat belas hari setelah kejadian itu. Aku tak pernah berniat untuk mengetahui segala sesuatu yang kau lakukan. Aku membebaskanmu. Aku tak ingin membatasi langkahmu. Aku tak peduli lagi padamu. Sama tak pedulinya, ketika aku tidak menatap punggungmu yang perlahan menghilang dibalik pintu sore itu.
Empat belas hari setelah kejadian itu. Aku membujuk hatiku dan mengatakan ‘Semua akan baik-baik saja’. Dan kujalani hari apa adanya, tanpa ada bayangmu sama sekali. Aku benar-benar merasa bahwa kita sedang berada dibelahan dunia yang berbeda. Dan aku masih meyakinkan diriku kalau semua akan baik-baik saja tanpamu.
Empat belas hari setelah kejadian itu. Tiba-tiba beberapa pertanyaan muncul kepermukaan. Pertanyaan mereka yang benar-benar mengusik hatiku. Tak ada yang bisa kujawab. Aku masih tak mengerti apa yang terjadi kepada kita. Aku masih tidak mengerti dengan perasaan yang tiba-tiba terasa mengganjal di dadaku.
Empat belas hari setelah kejadian itu. Hari ini. Aku mengingatmu. Tiba-tiba saja mengingatmu. Aku masih bingung dengan perasaan yang tiba-tiba datang ini. Aku tidak pernah mengundangnya. Akupun tidak tau apa namanya, yang jelas aku merasa tidak nyaman. Ada gemuruh aneh, yang seolah memaksa ingin keluar. Dan itu membuatku gelisah.
Aku mengingatmu. Hanya itu saja. Tak ada yang lain. Hanya sekedar mengingatmu. Aku tak peduli hari ini kau mengingatku atau tidak, yang jelas aku memberikan kesempatan kepada hatiku untuk mengingatmu hari ini.
Mungkin aku bodoh atau tolol hingga tak tau ini perasaan apa? Ataukah egoku yang terlalu tinggi untuk menyimpulkan, kalau rasa yang tiba-tiba datang ini adalah rindu. Kenapa susah sekali untuk mengakuinya? sama susahnya ketika aku berusaha untuk mengeja kata yang terdiri dari lima huruf itu.

Entahlah, aku hanya mencoba berdamai dengan hatiku. Apapun namanya perasaan ini, apapun bentuknya, apapun warnanya, apapun wujudnya. Aku sudah memutuskan hari ini, aku ingin mengingatmu. Itu saja.

MERDEKAKAN DIRIMU

17 Agustus 2016

MERDEKAKAN DIRIMU

Merdeka itu
Melepaskan segala rasa
Menghempasakan segala asa
Yang selalu menyesakkan dada

Merdeka itu
Membebaskan diri dari belenggu
Meloloskan diri dari hal semu
Yang selalu memasung kalbu

Merdeka itu
Mensyukuri apa yang kau punya
Mengikhlaskan keinginan semata
Menerima segala ketentuan-Nya

Merdeka itu
Dimulai dari dirimu
Merdekakan jiwamu
Merdekakan ragamu


BISAKAH AKU PERGI?






Sabtu, 13 Agustus 2016

BISAKAH AKU PERGI?

Kita sudah melalui 750 hari bersama-sama. Menempuh perjalanan yang amat panjang. Tak bisa kuhitung lagi jarak yang sudah kita lewati ini. Tak peduli jalanan yang berliku, tanjakan, berbatu, bahkan  jalan yang penuh kerikil tajam tak menyurutkan langkah kita. Terkadang cuaca sering kali tak menentu. Tiba-tiba gerimis, hujan deras, bahkan ketika angin bertiup kencang, kita tetap melangkah. Aku mempererat genggaman tangan kita. Takut jika kita tiba-tiba terpisah dalam badai.
Ditengah perjalan, kita pernah sepakat untuk tidak menoleh kebelakang. Apapun yang terjadi, kita berdua akan tetap melangkah kedepan. Kau mengangguk waktu itu dan aku tersenyum menatapmu. Sorot matamu yang tajam seolah meyakinkanku, bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Maka, kubuang semua ragu yang bersarang didada.
Malam ini diperjalanan, saat kita sedang asyik bercanda, tiba-tiba genggaman tangamu tak seerat kemarin. Aku menghentikan langkah. Menatapmu penuh tanya. Kemudian menunduk terdiam. Seketika rasa ngilu menusuk hatiku. Rongga dadaku terasa sempit. Ada sakit yang perlahan menjalar dan aku sama sekali tidak bisa mencegahnya. Aku mencoba menarik nafas perlahan, menenangkan hati. Meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Semua baik-baik saja. Dan nyatanya aku keliru.
Malam ini, kau mengusik masa lalumu. Bukan masa lalu itu yang memanggil. Tapi kaulah yang menghampiri. Katamu hanya lelucon, tapi sungguh ini tidak lucu. Katamu hanya bercanda, tapi ini sama sekali tidak mengundang tawa. Mungkinkah selera humor kita yang berbeda?
Bukankah sudah kukatakan berkali-kali, jangan pernah menoleh pada masa lalumu. Harus dengan cara apalagi menyampaikannya agar kau faham maksudku. Dengan bahasa apalagi harus ku katakan agar kau benar-benar mengerti. Lidahku kelu. Kau seolah mengabaikannya, kau seolah dengan sengaja menulikan pendengaranmu. Kau menganggap semua yang ku katakan tidak serius dan itu sangat mengecewakan.
“Kau marah hanya karna itu?” nada suaramu seperti berusaha ingin menenangkanku.
“Hanya?”
Kau diam. Sekeliling kita juga ikut hening. Aku tak peduli dengan pandangan-pandangan yang sedari tadi menatap kita.
“Aku hanya mengujimu. Tidak ada maksud apa-apa.” Kau masih berusaha menenangkanku.
“Menguji? Berarti selama ini kau masih ragu? Selama ini kau tidak yakin?”
Kau terdiam. Aku tau kau menyesali kalimat yang kau ucapkan. Mungkin bukan itu maksudmu. Tapi semua sudah terucap. setelah itu tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut kita berdua. Kita sama-sama diam, tenggelam dalam fikiran masing-masing.
Aku tidak tau apa yang ada dalam fikiranmu. Aku tidak tau apa maksudmu. Aku tidak tau apa tujuanmu. Dan aku tidak ingin tau. Yang jelas, malam ini, aku merasa benar-benar lelah. Aku sudah lelah memahamimu.
Bisakah aku pergi?


Sabtu, 01 Oktober 2016

DAN AKHIRNYA MARAHMU KURINDUKAN

02 Oktober 2016
DAN AKHIRNYA MARAHMU KURINDUKAN

Bersyukurlah jika orang tua atau keluarga masih memarahimu, mengomeli panjang lebar dan melarang segala tingkah lakumu. Kelak suatu hari nanti, kau akan merindukan segalanya. Kau tau, jika suara lengkingan marah dan teriakan yang memekakkan telinga itu tak terdengar lagi, artinya ia tak lagi disisimu. Pergi. Jauh. Dan tak akan kembali lagi.
            Dering telepon genggam membangunkanku, pukul 22:08 menit. Belum sempat kuucapkan ‘halo’ suara tangis histeris terdengar menyayat hati. Aku menggigit bibir. Menggenggam erat ujung baju. Membujuk hati sebisa mungkin. Semua baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa. Aku melafalkan kalimat itu beberapa kali. Berharap bisa meredam gemuruh didada.
Suara diseberang terbata-bata, patah-patah, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat itu. Suara isakan membuat semua tak terdengar jelas ditelinga. Aku mungkin salah dengar. Kutanyakan sekali lagi. Berita yang sama. Duka kembali bertamu. Menghampiri dan menyelimuti. Aku kaku. Diam. Tanganku gemetar. Dadaku sesak. Gelap. Seakan ada pusaran angin yang menghisapku kemasa lalu.
Cepatlah menikah, biarpun Tante sakit sampai tidak bisa berjalan,  Tante akan tetap menyaksikan pernikahanmu di Gorontalo.” Ucapnya berulang-ulang setiap kali menemuiku. Kalimat itu kembali terngiang-ngiang ditelingaku.
Yang paling menyakitkan bukanlah kematian, tapi penyesalan. Itulah kenapa sebuah kenangan sangat berharga, karena ia tak akan terulang kembali. Adakah cara jitu untuk memundurkan waktu? berharap bisa melakukan sesuatu yang terbaik untukmu, membuatmu bahagia dan tersenyum. Sungguh, tak ada yang bisa aku lakukan selain menyesalinya.
Maafkan aku yang selalu jengkel saat kau memarahiku. Maafkan aku yang selalu mengira kau tidak menyayangiku, maafkan aku atas segala prasangka burukku. Harusnya aku bersyukur, kau telah menjadi pengganti Ibu. Kau selalu mendoakan yang terbaik untukku. Kau selalu memperhatikanku, mengurusi segala hal-hal kecil yang tidak penting menurutku.
Terimakasih atas segala kasih sayang dan perhatianmu, atas segala cinta dan pengorbananmu, atas segala doa disetiap sujudmu. Maaf atas segala khilafku. Maaf belum bisa membanggakanmu. Maaf belum sempat membahagiakanmu. Maafkan aku.
Dan kini aku merindukan marahmu, omelanmu, teriakanmu, teguranmu dan segala laranganmu. Kini aku mengerti, semua itu semata untuk kebaikanku. Aku saja yang selalu menyalah artikannya. Maafkan aku yang tak sempat mendampingi kepergianmu. Aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku mengasihimu dan aku akan selalu merindukanmu.
“Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosanya, terimalah segala amal ibadahnya dan berikanlah tempat yang layak disisi-Mu. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.”

AH, AKU LUPA

02 Oktober 2016
AH, AKU LUPA
                                                             
KAU selalu begitu Tuhan
Mengambil sesuatu dariku tanpa pamit
Bisa sajakan KAU beri aku isyarat
Atau apalah yang membuat aku faham
Setidaknya aku bisa mempersiapkan diri
Menguatkan hati
Menguatkan telinga
Membujuk mata agar tak menumpahkan tangisnya
Berdamai dengan jiwa dan raga
Ibu, Nenek, Paman dan sekarang Bibiku
Tak ada satupun yang sempat kutemui
Padahal kami akan benar-benar terpisah
Bukan terpisah Kota atau Negara
Tapi dunia dan alam yang berbeda
Tidak bisakah KAU beri aku kesempatan?
Mendampinginya
Mengucapkan kata perpisahan
Mengucapkan kata maaf
Atau minimal mengucapkan terimakasih
KAU selalu begitu Tuhan
Mengirimiku kabar duka
Padahal KAU tau jarakku jauh
Mana mungkin aku bisa sampai dalam beberapa jam
KAU selalu begitu Tuhan
Mengujiku dengan masalah hati
KAU memang selalu begitu
Mengambil segala sesuatu yang berharga bagiku
Ah. Aku lupa
Aku hanya meminjam dari-Mu
Semua adalah milik-Mu
Bahkan dirikupun milik-Mu
Maafkan aku Tuhan
Aku khilaf
Lupa
Lupa kalau ternyata seisi langit dan bumi adalah kepunyaan-Mu
Maafkan aku Tuhan
Atas segala prasangka burukku terhadap-Mu
Aku selalu mengira KAU tak menyayangiku
Padahal ujian ini adalah bentuk kasih sayang-Mu
Agar aku senantiasa ingat dan mendekatkan diri kepada-Mu