Aku berusaha keras
melupakan hari ini. Melupakan segalanya. Tentang kalian dan cerita kita. Ini
memang tidak mudah. Aku harus mencari berbagai kesibukan, puasa memegang ponsel,
bahkan harus puasa menggunakan internet. Tapi ingatan ini begitu kuat. Aku
harus bertengkar hebat dengan hati, agar mengabaikan hari ini. Aku tidak ingin
mengingatnya. Tapi sekeras apapun aku berjuang melupakan, maka sekuat itupun kenangan
menghampiri.
Tak ada yang bisa
kulakukan selain berdamai dengan hati. Membujuk diri agar mengizinkan film yang
bernama kenangan itu diputar kembali dalam ingatan. Akan kunikmati setiap kesakitan
yang tersisip dalam kepingan cerita ini. Rasa sesal yang masih tertinggal, dan
kisah kita yang belum usai.
Dulu, setahun yang
lalu. Seminggu menjelang hari ulang tahunku. Kulingkari sebuah tanggal dalam
kalender yang terpajang didinding kamarmu. Tepat dihadapan kalian semua. Berharap
waktu segera melompat lebih cepat. Ada
debar yang berlomba penuh suka cita, meminta agar hari itu segera tiba. Hari dimana semua orang
dengan tulus memberikan doa terbaiknya.
Hari yang dinanti telah
datang. Hampir lewat tengah malam. Sebelum pergantian tanggal, kalian datang membawa
sebuah kue tart yang diatasnya terukir namaku. Kue cantik berwarna hijau. Warna
favoritku. Diatas kue terdapat hiasan bola-bola kecil beraneka warna. Ditangan
salah satu dari kalian, memegang sebuah kertas berukuran cukup besar. Sebuah
kertas ucapan yang telah kalian ukir dengan tinta berwarna hijau. Aku tau
kalian menghiasnya dengan perasaan penuh cinta kasih. Tapi ternyata, aku malah
pergi.
Aku lupa telah melingkari
tanggal itu. Aku lupa atas komitmen yang kubuat sendiri. Aku lupa akan
kebersamaan yang kujanjikan. Dengan penuh harap kalian datang, Namun bukannya
berhasil memberi kejutan, malah kalian yang terkejut karena ketiadaanku.
Terlebih lagi saat
kudapati kertas ucapan yang kalian selipkan dibawah pintu. Aku bisa melihat
kertas itu dipenuhi dengan rasa kekecewaan yang mendalam. Aku menangis sejadinya,
meringkuk disudut kamar, menyesali perbuatan yang telah aku lakukan. Telepon
dan pesan permintaan maafku tak kalian respon sama sekali. Kalian berhak marah
atas kelakuanku. Aku memang bersalah. Dan aku menyesalinya.
Seharian aku merenung,
menangis. Tak ada sesuatu yang bisa kulakukan. Berusaha menghibur diri dikeramaian, malah kesepian
semakin menerkam. Rasa bersalah kian menikam. Sungguh, tak ada kehilangan yang
paling menyakitkan selain kehilangan kebersamaan. Dan aku telah kehilangan itu
karena kesalahanku sendiri. Bahkan aku tidak bisa mengungkapkan perasaan
menyesalku waktu itu.
Siang berlalu pulang. Persis
sebelum lewat tengah malam, tanggal belum berganti Aku masih duduk didepan
pintu kamar memandangi langit. Berharap menemukan kedamain diatas sana. Mataku
terasa panas. Perasaan ini sungguh membuat sesak. Disaat-saat kegundahanku
menyelimuti, kalian datang dengan membawa kue tart dengan lilin yang sudah
terpasang. Itu benar-benar kalian. Aku tidak bermimpi. Sekali lagi kuyakinkan
diri, dan itu memang kalian.
Berjalan dari halaman
depan, mengahampiriku dengan senyuman. Kalian berdiri dengan wajah riang,
menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aku langsung menghambur ke pelukan
kalian. Bukan, bukan kue atau nyanyian
itu yang kuharapkan. Tapi kebersamaan dengan kalian yang tidak ingin kulewati.
Sungguh, maafkan aku. Aku sangat menyesal. Aku menyayangi kalian. Seketika
perasaan sesak itu pecah menjadi keharuan.
Aku tau kalian adalah
sahabat terbaikku, keluarga keduaku. Aku tau kalian tulus menyayangiku. Kalian
tidak akan pernah meninggalkanku. Aku tidak bisa berkata-kata tentang
perasaanku saat ini. Ternyata kalian juga gelisah memikirkan diriku, aku sangat
bersyukur memiliki sahabat seperti kalian.
Saat menulis ini, aku
menangis. Aku tidak bisa menahan haru ketika harus membayangkan kejadian itu
setahun yang lalu. Terasa baru kemarin kita bersama. Dan tahun ini, kita semua
harus terpisah. Kalian tak lagi bersamaku. Sahabat itu, bukan tentang mata yang
selalu bertatap, tapi tentang hati yang selalu mengingat.
Terlalu banyak kenangan
yang tercipta. Terlalu banyak cerita tentang kita. Bahkan terlalu banyak hal yang selalu
kita bagi bersama. Aku terlalu nyaman dengan kalian. Hingga aku lupa melihat
orang lain selain kalian. Bahkan aku lupa bahwa kita tak selamanya harus
bersama. Kita harus berjalan dijalan masing-masing. Ada banyak mimpi yang harus
kita kejar. Dan aku lupa akan semua itu.
Perpisahan. Adalah hal
yang paling kubenci dalam hidup ini. Aku benci menatap punggung-punggung yang
perlahan menjauh. Kalian pergi dengan mimpi dan berjanji akan kembali lagi. Ingatlah
sahabat, sejauh apapun kita melangkah, kita akan saling mengingat dalam doa.
Tuhan akan menunjukkan jalan untuk kita kembali, entah hanya untuk bertemu
dalam sekejap, atau hanya sekedar berbagi harap. Namun aku yakin kita akan
bertemu kembali, dan membawa sekeranjang cerita dan kisah-kisah hidup kita
masing-masing.
Aku bersabar. Aku
menunggu waktu itu tiba. Saat Dimana kita duduk bersama. Bercanda dengan pecahnya
tawa Zaila dan Nindy, nasehat bijak dan ajakan Kak Lia untuk olahraga pagi,
omelan Uchan dan masakannya yang selalu membuatku betah berlama-lama.
Aku masih tetap
berharap saat itu akan tiba. Saat dimana aku akan kembali melihat punggungnya Uchan
yang sedang sibuk memasak sambil berdendang. Suara Kak Lia yang berulang kali
membangunkan untuk olah raga pagi. Kembali bertemu Zaila, meskipun kali ini ia
tidak lagi menatap layar hitamnya. Aku akan kembali berjumpa si mungil Nindy.
Nindy kecil yang kuat. Selalu menyimpan ceritanya sendiri namun selalu membagi
tawanya bersama. Sungguh, aku kagum akan ketegaranmu Rapunzelku.
Ah. Lagi-lagi aku tidak
bisa menahan haru. Aku menangis lagi ketika menulis ini. Aku masih tetap
berharap. Selalu. Semoga.
Gorontalo, 05 November 2016
My Birthday 27 th
Pelangi Jiwa











0 komentar:
Posting Komentar