Judul Film :
Manjhi The Mountain Man
Sutradara : Ketan Mehta
Pemain :
Nawazuddin Siddiqui, Radhika Apte
Produksi : Viacom 18 Motion Picture, National
Film Development Corporation of India
Tahun Rilis : 21 Agustus 2015
Tahun Rilis : 21 Agustus 2015
Durasi : 01:59:06
“Bahkan gunung batu bisa hancur karena kekuatan cinta”. Percayakah
kalian dengan ungkapan tersebut? Pasti ada yang mengira itu hanya bualan
semata. Tapi tahukah kalian jika ungkapan ini lahir setelah menyaksikan film bollywood Manjhi the Mountain Man? Sebuah film yang diangkat dari
kisah nyata di India. Lelaki yang menghancurkan gunung batu selama 22 tahun
hanya dengan menggunakan sebuah palu, pahat, dan seutas tali.
Dashrath Manjhi, seorang pemuda miskin berasal dari Desa
Gehlore, Bihar, India. Dashrath Manjhi yang diperankan oleh Nawazuddin Siddiqui
merupakan masyarakat sosial dengan kasta terendah Moosahaar’ atau kasta pemakan tikus. Berdasarkan Kavar ia telah menikah sejak kecil
bersama seorang gadis bernama Paghuniya yang diperankan oleh Radhika Apte.
Film berdurasi 1 jam 59 menit ini sukses menguras emosi
penonton. Film ini menggunakan alur maju dan mundur. Di awal film kita akan
disuguhkan oleh penampilan Dashrath Manjhi yang tengah berdiri di puncak
gunung, dengan pakaian yang berlumuran darah. Wajahnya dipenuhi duka dan kemarahan
atas kematian istrinya. Ia murka meluapkan
amarahnya dengan melempari batu ke arah gunung yang menjulang tinggi. Sehingga
gunung mengeluarkan kobaran api.
Film produksi Viacom
18 Motion Picture yang bekerja sama dengan National Film Development Corporation of India ini disutradarai
oleh Ketan Mehta. Film ini mengambil alur tahun 1960. Meskipun
alur film terkesan lambat, namun dengan itu kita bisa melihat kehidupan warga
Desa Gehlore yang sesungguhnya.
Maghru, ayah dari Dashrath Manji terlilit hutang yang sangat
besar kepada Kepala Suku bernama Mukhiya.
Karena belum bisa melunasi hutang Dashrath Manjhi dipaksa ayahnya menjadi buruh
dan bekerja kepada Tuan Mukhiya. Dashrath Manjhi menolak. Ia memilih melarikan
diri melewati gunung batu. Dengan berjalan kaki mengikuti rel kereta api dan
menempuh perjalanan sejauh 40 mil, Dashrath Manjhi bertahan hidup di Wazir Gunj.
Setelah
7 tahun meninggalkan Gehlore, tepatnya pada tahun 1960 Dashrath Manjhi
memutuskan untuk kembali ke desanya. saat itu ibunya sudah meninggal dunia. Pada
saat yang sama pula pengkastaan di desanya telah dihapuskan. Dashrath Manjhi
kembali dengan penampilan yang berbeda. Bahkan hampir seluruh penduduk Gesa Gehlore
tidak mengenalinya. Di perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang perempuan
penjual boneka patung tanah liat. Dashrat Manjhi kemudian jatuh cinta
kepadanya.
Betapa
terkejutnya Dashrath Manjhi mengetahui bahwa perempuan penjual boneka tanah
liat, yang bertemu dengannya kemarin adalah Phaguniya, perempuan yang telah ia nikahi pada
masa kanak-kanak dulu. Dan betapa marahnya ia mengetahui bahwa Phaguniya akan
dinikahkan dengan lelaki pilihan ayahnya. Lelaki dari kota yang kaya dan
bekerja sebagai pengawas.
Dashrath Manjhi
memutuskan membawa Phaguniya lari dan tinggal jauh dari orang tuanya. Warga desa
setempat berusaha mengejar namun mereka berhasil lolos setelah berusaha
bersembunyi di dalam kubangan lumpur. Mereka membangun rumah tangga yang
sederhana namun bahagia. Kebahagian mereka bertambah lengkap saat mengetahui
bahwa Phaguniya tengah mengandung anak pertama.
Setelah putra pertama
mereka lahir, Dashrath Manjhi semakin rajin bekerja. Ia berusaha memenuhi
segala kebutuhan istrinya. Dashrath Manjhi menginginkan seorang putri yang
cantik seperti Phaguniya. Ia menjanjiikan kehidupan yang layak dan akan pindah
ke kota setelah putrinya lahir. Phaguniya kemudian mengandung anak kedua.
Dashrath Manjhi lebih
giat bekerja, ia bekerja sebagai buruh tani di perkebunan milik warga. Saat hendak mengantarkan makan siang
untuk Dashrath Manjhi, Phaguniya yang tengah hamil tua berusaha menaiki gunung
batu untuk mengantarkan makanan. Tapi
takdir berkata lain. Kaki paghuniya tergelincir. Ia terjatuh dari atas tebing
yang curam. Dashrath Manjhi mengetahui kabar itu dari seorang anak kecil. Tanpa
berpikir panjang ia berlari menemui istinya yang telah bersimbah darah.
Gehlore merupakan desa
paling tertinggal. Tidak ada Sekolah, Rumah Sakit maupun transportasi. Sehingga
untuk mendapatkan perawatan medis Dashrath Manjhi harus pergi ke Kota dengan
melewati gunung batu yang menjulang tinggi. Dengan dibantu seorang warga desa,
Dashrath Manjhi membawa istinya dengan selembar kain yang dililitkan pada kayu
sebagai penopang bahu. Di menit-menit inilah penonton akan dibuat terharu
dengan perjuangannya.
Karena perjalanan yang
sangat panjang. Phaguniya terlambat mendapatkan perawatan medis, namun
beruntung putrinya masih bisa diselamatkan.
Rasa kehilangan dan kemarahan bercampur menjadi satu. Dashrath Manjhi bersumpah
akan menghancurkan kesombongan gunung batu yang telah merenggut istri
tercintanya. Dashrath manjhi menjual seekor kambing yang menjadi harta terakhir
mereka untuk membeli sebuah palu, pahat, dan seutas tali.
Ayah Dashrath Manji
telah tua renta. Beliau tidak sanggup lagi merawat kedua anaknya. Ayahnya
menyarankan agar dia menikah lagi, namun Dashrath Manjhi menegaskan bahwa Phaguniya
tidak pernah mati baginya. Di sebuah gubuk yang hanya berdindingkan daun pohon
kering Dashrath Manjhi tinggal bersama kedua anaknya. Selain menghancurkan
gunung, Dashrath Manjhi bekerja sebagai buruh kasar. Mengangkut barang milik
warga ke kota dengan melewati gunung batu untuk mempersingkat waktu.
Kekeringan melanda Desa
Gehlore. Semua penduduk Desa Gehlore mengungsi ke kota. Dashrath Manjhi memberikan
penghasilannya kepada ayahnya untuk bisa merawat anaknya di kota. Ia tidak mau
meninggalkan desanya. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya membelah gunung meski
ia kesusahan mendapatkan makan dan minum. Hanya cinta dan kerinduan yang menghiburnya
jika malam telah datang. Ia bertahan hidup dengan memakan tumbuhan kering
bahkan ia harus mengikhlaskan ibu jari kakinya dipotong saat ular cobra mengigitnya.
Selama
9 tahun menghancurkan gunung, warga Desa Gehlore mulai sadar. Mereka mulai
melihat betapa tulus kekuatan cinta Dashrath Manjhi. Namun sayangnya Dashrath Manjhi
harus kehilangan ayahnya saat pemberontakan yang membalas kebengisan Mukhiya terjadi.
Setelah
12 tahun menghancurkan gunung, Alok, seorang jurnalis yang selalu setia meliput
perkembangan pekerjaan Dashrath Manjhi memperjuangkannya untuk bertemu dengan Perdana
Menteri pada masa itu yaitu, Indhira Gandhi putri dari Bapak Mahatma Gandhi.
Berkat bantuan dari Alok usaha Dashrath Manjhi akhirnya membuahkan hasil.
Pemerintah mulai memperhatikan usahanya. Namun Dashrath Manjhi ditipu oleh
putra Mukhiya yang sudah menjabat sebagai Kepala Desa dan bekerja sama dengan
orang yang mengaku petugas DBO. Dashrat berjalan kaki ke kota untuk menuntut
keadilan meskipun semuanya sia-sia.
Dashrat
Manjhi yang telah ditinggalkan istri tercintanya, hanya bermodalkan sebuah
pahat, palu, dan seutas tali namun dengan keyakinan, tekad dan kekuatan cinta
ia berhasil menghancurkan gunung batu selama 22 tahun. Dashrath Manjhi membuat
jalan dari Blok Atri menuju Wazir Gunj yang jarak awal 55 km menjadi 15 km.
Jika
film India biasanya menghadirkan banyak lagu-lagu lengkap dengan penarinya, berbeda
dengan film ini yang hanya terdapat 3 lagu saja. Di antaranya, Gehlore Ki Goriya yang dinyanyikan oleh
Bhavin Shastri dan Pawani Pandey, O Rahi
dinyanyikan oleh Bhavin Shastri dan Dhum
Kham yang dinyanyikan oleh Divya Kumar.
Di
akhir film penonton benar-benar akan dibuat terharu dan ikut merasakan
kemenangan menaklukkan gunung batu. Kalimat terakhir yang dikatakan oleh Dashrath
Manjhi perlu dicatat. “Bagiku jangan
terlalu bergantung pada Tuhan, karena Tuhan bergantung pada kita”. Makna
yang bisa saya tangkap dari kalimat tersebut adalah, sesungguhnya Tuhan
tergantung prasangka hamba-Nya, maka berprasangkalah yang baik-baik.
Film
yang diangkat dari Kisah nyata Dashrath Manjhi dirilis pada tanggal 21 Agustus
2015. 52 tahun setelah mulai menghancurkan gunung, 30 tahun setelah selesai menghancurkan gunung, 4 tahun
kemudian beliau wafat. Dashrath Manjhi wafat pada tanggal 17 Agustus 2007 tepat
diusianya yang ke- 73 tahun karena penyakit kanker kantung empedu. Pemerintah akhirnya
membuat jalan menuju Gehlore pada tahun 2011 yang diberi nama ‘The Legend of Mountain Man Lives on’.
Dashrath Manjhi mendapatkan pemakaman secara kenegaraan oleh Pemerintah Bihar.
Cinta
bisa melakukan segalanya. Bermodalkan tekad yang kuat dan cinta yang tak pernah
mati, Dashrath Manjhi mampu menghancurkan gunung batu. Itulah kekuatan cinta.
Eti
Ndulia
(Pelangi
Jiwa)
FLP Kota Gorontalo













0 komentar:
Posting Komentar