Natalia….
Dari namanya, bisa ditebak kalau ia
lahir pada bulan Desember. Ya, dia lahir di minggu pertama bulan Desember,
tepatnya tanggal 6. Sembilan belas hari menjelang perayaan Hari Natal. Ia Berasal
dari tanah Toraja Sulawesi Selatan. Yang kental akan adat istiadat dan
tradisinya.
Kak Lia. Begitu aku
memanggilnya. Takdir mempertemukan kami dalam satu pekerjaan akhir tahun 2013
silam. Awalnya kami hanya sebagai rekan kerja biasa. Namun, setelah mengenalnya
lebih dekat, ia bahkan lebih dari seorang saudara.
Kak lia, adalah seorang
wanita berpendirian tegas, pekerja keras dan sangat mencintai keluarganya.
Berada jauh dari keluarga, bukanlah penghalang untuk tidak mengabari keluarga
tentang keadaannya. Disela-sela waktu istirahat kerja, aku sering mendapatinya
berbicara lewat telpon dengan Ibunya, hampir setiap hari. Bahkan rutin seperti
minum obat yang dosisnya 3 x sehari, begitu juga telponnya.
Ia sering berbagi cerita-cerita ringan dengan
Ibu, Adik dan Kakaknya. Kadang menceritakan pekerjaannya, menceritakan tentang
teman-teman barunya, tempat-tempat wisata di Gorontalo sampai makanan-makanan
khas yang telah ia cicipi.
Kak Lia beragama
Kristen Katolik. Ia sangat rajin beribadah. Tak pernah melewati ibadah dan
perayaan-perayaan di Gereja. Ia selalu terlibat dalam kegiatan sosial yang
diselenggarakan oleh teman-teman barunya di tempat ibadah. Satu hal yang sangat
ku kagumi darinya, sesulit apapun keadaannya ia tetap selalu bersyukur.
Seperti aku, Ia pun
sangat mempercayai kekuatan doa. Sebelum makan atau sebelum melakukan berbagai aktifitas,
ia selalu menyempatkan beberapa detik memejamkan mata seraya berdoa dalam hati.
Meski berbeda
keyakinan, Kak Lia selalu mengingatkanku untuk sholat tepat waktu. Bahkan jika
hendak mengajakku jalan-jalan, ia rela menungguku selesai sholat atau ia lebih
memilih waktu yang tidak bertabrakan dengan waktu-waktu sholat.
Kak Lia, bukan sekedar
teman biasa, namun ia lebih dari seorang saudara. Ia selalu menjadi pendengar
yang baik, selalu memberikan saran tanpa menggurui, bahkan tak segan-segan ia
menegur jika aku berbuat salah atau terlalu berlebihan menyikapi sesuatu.
Diakhir pekan kami
sering menghabiskan waktu bersama. Sekedar lari pagi, masak-masak, mengunjungi
tempat wisata, pergi ke toko buku atau nonton bersama teman-teman yang lainnya.
Sayangnya, selesai
kontrak pekerjaan di Gorontalo ia harus kembali ke kotanya. Namun komunikasi
antara kami masih berlanjut. Saling memberi kabar via BBM bahkan saling menyapa
lewat sosial media, saling menyemangati dan selalu mendoakan yang terbaik.
Kami punya mimpi yang
sama dan sangat sederhana, memiliki pendamping hidup yang baik dan
membahagiakan keluarga. Aamiin
Selamat Ulang Tahun Kak
Lia.
Tahun kemarin kita
masih sempat merayakannya bersama, meskipun terbilang sangat sederhana. Namun
itu tidak menjadi masalah asalkan kita selalu bersama-sama.
Semoga jatah umur
didunia yang berkurang ini menjadikan Kak Lia semakin dekat dengan Sang
Pencipta, selalu bersyukur dalam setiap keadaan, selalu menjadi wanita yang
kuat dan tegar, dan semoga semua mimpi dan cita-cita mulia segera tercapai.
Aamiin
Aku sangat
merindukanmu. Merindukan kebersamaan dulu, merindukan setiap moment yang kita
lewati bersama. Semoga kita bisa berjumpa di kesempatan-kesempatan berikutnya.
Jika ada waktu libur, sempatkanlah mampir ke Serambi Madinah.
Aku masih disini.
Menunggumu.
Selalu.
Gorontalo, 06 Desember 2016
Eti Ndulia
(Pelangi Jiwa)

















0 komentar:
Posting Komentar