Kamis, 27 Oktober 2016

TERNYATA AKU KELIRU

27 Agustus 2016

TERNYATA AKU KELIRU

            Tanggal 27 untuk yang kesekian kalinya. Aku tersenyum kecut mengingatnya. Hari ini adalah hari yang penting bagi kita. Kita akan merayakan hari ini dengan jalan-jalan seputaran kota, nonton film berdua, atau sekedar makan dikaki lima. Ah, itu tak lagi kita lakukan. Sudah dua kali tanggal 27 dan hanya aku yang mengenangnya. Ini adalah hari yang paling indah bagi kita, mungkin hanya bagiku.
            Sudah enam belas hari kita saling memunggungi. Tak bertatap muka. Apalagi saling berkabar. Tadi sore tiba-tiba kau menelponku, sekedar basa-basi. Aku bisa menangkap ada keraguan yang membatasi percakapan kita. Tak banyak yang kita bicarakan, hanya lebih banyak diam. Saling mendengarkan helaan nafas. Saat kau hendak mengakhiri pembicaraan, kupaksakan hati untuk bertanya.
“Tidak ingat sesuatu?” aku menggigit bibir, menunggu jawabanmu diseberang telepon.
“Aku ingat. Dari semalam juga ingat.” Jawabmu yang meninggalkan rasa sejuk dihatiku.
Ternyata kau mengingatnya. Kau mengingat hari ini. Aku bahagia. Memasang telinga mendengar suara bunyi motormu, memasang hati sekuat mungkin saat bertatap mata nanti. Tanganku mulai berkeringat. Aku ingin hari ini menjadi hari bahagia kita seperti yang dulu-dulu. Mari kita akhiri kesalahfahaman ini. Sungguh, hari ini aku sangat, sangat, me-rin-du-kan-mu. Ah, susah sekali mengucapakannnya. Sudah terlalu lama aku tidak membisikkan kalimat itu ditelingamu.
Pukul 20:00 bunyi motormu tak kunjung terdengar. Aku menggigit bibir. Hatiku mulai cemas. Tanganku mulai berkeringat lagi. Ku pandang nomor hpmu di layar telepon. Aku ingin menelponmu tapi kuurungkan. Mungkin saja kau sedang diperjalanan kesini. Aku akan menunggumu. Kau pasti datang. Semua akan baik-baik saja. Aku yakin itu.
Pukul 23:38 teleponku berdering, aku mendengus kesal karena itu bukan kamu. Itu temanmu, katanya kau sedang dalam perjalanan menuju satu daerah. Saat ia menyebutkan nama daerah itu, aku langsung terdiam. Sesuatu yang membuat kita salah faham dan ternyata kau pergi kesana. Aku tersungkur dilantai. Terdiam beberapa saat. Menenangkan hati atas harapan yang terlalu berlebihan.
Jangan terlalu berharap banyak saat tidak ingin tersakiti. Karena harapanmu itulah yang menghancurkan segala kebahagianmu. Imajinasimu yang merangkan kejadian-kejadian bahagia padahal nyatanya dia tak pernah menjanjikan apa-apa.
Aku fikir kau akan datang menyelesaikan kesalahfahaman diantara kita. Aku fikir kau akan datang untuk memperbaiki hubungan ini. Aku fikir kau akan datang untuk memulai hubungan yang baru. Aku fikir hari ini kita akan bertemu. Aku fikir hari ini kita akan tertawa bersama, aku fikir…..
Ternyata aku keliru.


0 komentar:

Posting Komentar