Kamis, 27 Oktober 2016

BISAKAH AKU PERGI?






Sabtu, 13 Agustus 2016

BISAKAH AKU PERGI?

Kita sudah melalui 750 hari bersama-sama. Menempuh perjalanan yang amat panjang. Tak bisa kuhitung lagi jarak yang sudah kita lewati ini. Tak peduli jalanan yang berliku, tanjakan, berbatu, bahkan  jalan yang penuh kerikil tajam tak menyurutkan langkah kita. Terkadang cuaca sering kali tak menentu. Tiba-tiba gerimis, hujan deras, bahkan ketika angin bertiup kencang, kita tetap melangkah. Aku mempererat genggaman tangan kita. Takut jika kita tiba-tiba terpisah dalam badai.
Ditengah perjalan, kita pernah sepakat untuk tidak menoleh kebelakang. Apapun yang terjadi, kita berdua akan tetap melangkah kedepan. Kau mengangguk waktu itu dan aku tersenyum menatapmu. Sorot matamu yang tajam seolah meyakinkanku, bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Maka, kubuang semua ragu yang bersarang didada.
Malam ini diperjalanan, saat kita sedang asyik bercanda, tiba-tiba genggaman tangamu tak seerat kemarin. Aku menghentikan langkah. Menatapmu penuh tanya. Kemudian menunduk terdiam. Seketika rasa ngilu menusuk hatiku. Rongga dadaku terasa sempit. Ada sakit yang perlahan menjalar dan aku sama sekali tidak bisa mencegahnya. Aku mencoba menarik nafas perlahan, menenangkan hati. Meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Semua baik-baik saja. Dan nyatanya aku keliru.
Malam ini, kau mengusik masa lalumu. Bukan masa lalu itu yang memanggil. Tapi kaulah yang menghampiri. Katamu hanya lelucon, tapi sungguh ini tidak lucu. Katamu hanya bercanda, tapi ini sama sekali tidak mengundang tawa. Mungkinkah selera humor kita yang berbeda?
Bukankah sudah kukatakan berkali-kali, jangan pernah menoleh pada masa lalumu. Harus dengan cara apalagi menyampaikannya agar kau faham maksudku. Dengan bahasa apalagi harus ku katakan agar kau benar-benar mengerti. Lidahku kelu. Kau seolah mengabaikannya, kau seolah dengan sengaja menulikan pendengaranmu. Kau menganggap semua yang ku katakan tidak serius dan itu sangat mengecewakan.
“Kau marah hanya karna itu?” nada suaramu seperti berusaha ingin menenangkanku.
“Hanya?”
Kau diam. Sekeliling kita juga ikut hening. Aku tak peduli dengan pandangan-pandangan yang sedari tadi menatap kita.
“Aku hanya mengujimu. Tidak ada maksud apa-apa.” Kau masih berusaha menenangkanku.
“Menguji? Berarti selama ini kau masih ragu? Selama ini kau tidak yakin?”
Kau terdiam. Aku tau kau menyesali kalimat yang kau ucapkan. Mungkin bukan itu maksudmu. Tapi semua sudah terucap. setelah itu tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut kita berdua. Kita sama-sama diam, tenggelam dalam fikiran masing-masing.
Aku tidak tau apa yang ada dalam fikiranmu. Aku tidak tau apa maksudmu. Aku tidak tau apa tujuanmu. Dan aku tidak ingin tau. Yang jelas, malam ini, aku merasa benar-benar lelah. Aku sudah lelah memahamimu.
Bisakah aku pergi?


0 komentar:

Posting Komentar