Sabtu, 13 Agustus 2016
BISAKAH AKU PERGI?
Kita sudah
melalui 750 hari bersama-sama. Menempuh perjalanan yang amat panjang. Tak bisa
kuhitung lagi jarak yang sudah kita lewati ini. Tak peduli jalanan yang
berliku, tanjakan, berbatu, bahkan jalan
yang penuh kerikil tajam tak menyurutkan langkah kita. Terkadang cuaca sering
kali tak menentu. Tiba-tiba gerimis, hujan deras, bahkan ketika angin bertiup kencang,
kita tetap melangkah. Aku mempererat genggaman tangan kita. Takut jika kita
tiba-tiba terpisah dalam badai.
Ditengah
perjalan, kita pernah sepakat untuk tidak menoleh kebelakang. Apapun yang
terjadi, kita berdua akan tetap melangkah kedepan. Kau mengangguk waktu itu dan
aku tersenyum menatapmu. Sorot matamu yang tajam seolah meyakinkanku, bahwa
tidak akan terjadi apa-apa. Maka, kubuang semua ragu yang bersarang didada.
Malam ini
diperjalanan, saat kita sedang asyik bercanda, tiba-tiba genggaman tangamu tak
seerat kemarin. Aku menghentikan langkah. Menatapmu penuh tanya. Kemudian menunduk
terdiam. Seketika rasa ngilu menusuk hatiku. Rongga dadaku terasa sempit. Ada
sakit yang perlahan menjalar dan aku sama sekali tidak bisa mencegahnya. Aku
mencoba menarik nafas perlahan, menenangkan hati. Meyakinkan diri bahwa tidak
akan terjadi apa-apa. Semua baik-baik saja. Dan nyatanya aku keliru.
Malam ini, kau
mengusik masa lalumu. Bukan masa lalu itu yang memanggil. Tapi kaulah yang
menghampiri. Katamu hanya lelucon, tapi sungguh ini tidak lucu. Katamu hanya
bercanda, tapi ini sama sekali tidak mengundang tawa. Mungkinkah selera humor
kita yang berbeda?
Bukankah sudah
kukatakan berkali-kali, jangan pernah menoleh pada masa lalumu. Harus dengan
cara apalagi menyampaikannya agar kau faham maksudku. Dengan bahasa apalagi
harus ku katakan agar kau benar-benar mengerti. Lidahku kelu. Kau seolah
mengabaikannya, kau seolah dengan sengaja menulikan pendengaranmu. Kau
menganggap semua yang ku katakan tidak serius dan itu sangat mengecewakan.
“Kau marah hanya
karna itu?” nada suaramu seperti berusaha ingin menenangkanku.
“Hanya?”
Kau diam.
Sekeliling kita juga ikut hening. Aku tak peduli dengan pandangan-pandangan
yang sedari tadi menatap kita.
“Aku hanya
mengujimu. Tidak ada maksud apa-apa.” Kau masih berusaha menenangkanku.
“Menguji? Berarti
selama ini kau masih ragu? Selama ini kau tidak yakin?”
Kau terdiam. Aku
tau kau menyesali kalimat yang kau ucapkan. Mungkin bukan itu maksudmu. Tapi
semua sudah terucap. setelah itu tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut
kita berdua. Kita sama-sama diam, tenggelam dalam fikiran masing-masing.
Aku tidak tau
apa yang ada dalam fikiranmu. Aku tidak tau apa maksudmu. Aku tidak tau apa
tujuanmu. Dan aku tidak ingin tau. Yang jelas, malam ini, aku merasa
benar-benar lelah. Aku sudah lelah memahamimu.
Bisakah aku
pergi?







0 komentar:
Posting Komentar