Sabtu, 01 Oktober 2016

DAN AKHIRNYA MARAHMU KURINDUKAN

02 Oktober 2016
DAN AKHIRNYA MARAHMU KURINDUKAN

Bersyukurlah jika orang tua atau keluarga masih memarahimu, mengomeli panjang lebar dan melarang segala tingkah lakumu. Kelak suatu hari nanti, kau akan merindukan segalanya. Kau tau, jika suara lengkingan marah dan teriakan yang memekakkan telinga itu tak terdengar lagi, artinya ia tak lagi disisimu. Pergi. Jauh. Dan tak akan kembali lagi.
            Dering telepon genggam membangunkanku, pukul 22:08 menit. Belum sempat kuucapkan ‘halo’ suara tangis histeris terdengar menyayat hati. Aku menggigit bibir. Menggenggam erat ujung baju. Membujuk hati sebisa mungkin. Semua baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa. Aku melafalkan kalimat itu beberapa kali. Berharap bisa meredam gemuruh didada.
Suara diseberang terbata-bata, patah-patah, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat itu. Suara isakan membuat semua tak terdengar jelas ditelinga. Aku mungkin salah dengar. Kutanyakan sekali lagi. Berita yang sama. Duka kembali bertamu. Menghampiri dan menyelimuti. Aku kaku. Diam. Tanganku gemetar. Dadaku sesak. Gelap. Seakan ada pusaran angin yang menghisapku kemasa lalu.
Cepatlah menikah, biarpun Tante sakit sampai tidak bisa berjalan,  Tante akan tetap menyaksikan pernikahanmu di Gorontalo.” Ucapnya berulang-ulang setiap kali menemuiku. Kalimat itu kembali terngiang-ngiang ditelingaku.
Yang paling menyakitkan bukanlah kematian, tapi penyesalan. Itulah kenapa sebuah kenangan sangat berharga, karena ia tak akan terulang kembali. Adakah cara jitu untuk memundurkan waktu? berharap bisa melakukan sesuatu yang terbaik untukmu, membuatmu bahagia dan tersenyum. Sungguh, tak ada yang bisa aku lakukan selain menyesalinya.
Maafkan aku yang selalu jengkel saat kau memarahiku. Maafkan aku yang selalu mengira kau tidak menyayangiku, maafkan aku atas segala prasangka burukku. Harusnya aku bersyukur, kau telah menjadi pengganti Ibu. Kau selalu mendoakan yang terbaik untukku. Kau selalu memperhatikanku, mengurusi segala hal-hal kecil yang tidak penting menurutku.
Terimakasih atas segala kasih sayang dan perhatianmu, atas segala cinta dan pengorbananmu, atas segala doa disetiap sujudmu. Maaf atas segala khilafku. Maaf belum bisa membanggakanmu. Maaf belum sempat membahagiakanmu. Maafkan aku.
Dan kini aku merindukan marahmu, omelanmu, teriakanmu, teguranmu dan segala laranganmu. Kini aku mengerti, semua itu semata untuk kebaikanku. Aku saja yang selalu menyalah artikannya. Maafkan aku yang tak sempat mendampingi kepergianmu. Aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku mengasihimu dan aku akan selalu merindukanmu.
“Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosanya, terimalah segala amal ibadahnya dan berikanlah tempat yang layak disisi-Mu. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.”

0 komentar:

Posting Komentar