02 Oktober 2016
DAN
AKHIRNYA MARAHMU KURINDUKAN
Bersyukurlah jika orang
tua atau keluarga masih memarahimu, mengomeli panjang lebar dan melarang segala
tingkah lakumu. Kelak suatu hari nanti, kau akan merindukan segalanya. Kau tau,
jika suara lengkingan marah dan teriakan yang memekakkan telinga itu tak
terdengar lagi, artinya ia tak lagi disisimu. Pergi. Jauh. Dan tak akan kembali
lagi.
Dering
telepon genggam membangunkanku, pukul 22:08 menit. Belum sempat kuucapkan
‘halo’ suara tangis histeris terdengar menyayat hati. Aku menggigit bibir.
Menggenggam erat ujung baju. Membujuk hati sebisa mungkin. Semua baik-baik saja. Tidak terjadi
apa-apa. Aku melafalkan kalimat itu beberapa kali. Berharap bisa meredam
gemuruh didada.
Suara diseberang terbata-bata,
patah-patah, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat itu.
Suara isakan membuat semua tak terdengar jelas ditelinga. Aku mungkin salah
dengar. Kutanyakan sekali lagi. Berita yang sama. Duka kembali bertamu. Menghampiri
dan menyelimuti. Aku kaku. Diam. Tanganku gemetar. Dadaku sesak. Gelap. Seakan
ada pusaran angin yang menghisapku kemasa lalu.
“Cepatlah menikah, biarpun Tante sakit sampai tidak bisa berjalan, Tante akan tetap menyaksikan pernikahanmu di
Gorontalo.” Ucapnya berulang-ulang setiap kali menemuiku. Kalimat itu kembali
terngiang-ngiang ditelingaku.
Yang paling menyakitkan
bukanlah kematian, tapi penyesalan. Itulah kenapa sebuah kenangan sangat
berharga, karena ia tak akan terulang kembali. Adakah cara jitu untuk
memundurkan waktu? berharap bisa melakukan sesuatu yang terbaik untukmu,
membuatmu bahagia dan tersenyum. Sungguh, tak ada yang bisa aku lakukan selain
menyesalinya.
Maafkan aku yang selalu
jengkel saat kau memarahiku. Maafkan aku yang selalu mengira kau tidak
menyayangiku, maafkan aku atas segala prasangka burukku. Harusnya aku bersyukur,
kau telah menjadi pengganti Ibu. Kau selalu mendoakan yang terbaik untukku. Kau
selalu memperhatikanku, mengurusi segala hal-hal kecil yang tidak penting
menurutku.
Terimakasih atas segala
kasih sayang dan perhatianmu, atas segala cinta dan pengorbananmu, atas segala
doa disetiap sujudmu. Maaf atas segala khilafku. Maaf belum bisa
membanggakanmu. Maaf belum sempat membahagiakanmu. Maafkan aku.
Dan kini aku merindukan
marahmu, omelanmu, teriakanmu, teguranmu dan segala laranganmu. Kini aku
mengerti, semua itu semata untuk kebaikanku. Aku saja yang selalu menyalah
artikannya. Maafkan aku yang tak sempat mendampingi kepergianmu. Aku
mencintaimu, aku menyayangimu, aku mengasihimu dan aku akan selalu
merindukanmu.
“Ya
Allah, ampunilah segala dosa-dosanya, terimalah segala amal ibadahnya dan
berikanlah tempat yang layak disisi-Mu. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.”







0 komentar:
Posting Komentar