Selasa, 07 April 2015

BAJU LEBARAN




Disebuah Desa kecil yang terletak dipesisir laut, seorang anak sedang duduk termenung, Pandangannya kosong menatap hamparan birunya laut. Perlahan air mata merayap turun membanjiri pipinya, ia menangis sesenggukan. Sampai menjelang sholat Ashar ia masih menangis dengan wajah yang ditekuk.
Dia gadis kecil berumur 9 tahun, ibunya sudah meninggal dunia saat dia berusia 11 bulan, ayahnya pergidengan wanita lain. Ia dan kedua kakak perempuannya hanya diasuh oleh sang Nenek dan Kakek yang
begitu sangat menyayanginya.
Dia baru duduk dibangku kelas IV SD, biaya sekolah ditanggung oleh Sang Nenek dan Kakek yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Terkadang pula biaya sekolah ditanggung oleh pihak sekolah karna sering mendapat Beasiswa prestasi, ia tergolong anak yang cerdas dan pendiam, rajin pergi ke masjid dan rajin mengaji, tak heran jika kelas IV ini dia sudah Wisuda penamatan Al-Qur,an.
Ayahnya tak pernah sekalipun menengoknya semenjak ibunya meninggal dunia, ia tak pernah menanyakan dimana ibu dan ayahnya. Baginya memiliki nenek dan kekek yang sangat menyayanginya adalah anugerah Tuhan yang paling berharga.
Sore itu, dirumah yang sangat sederhana beberapa tetangga berkumpul sekedar berbincang-bincang, sang nenek sedang sibuk memilih buah pinang yang ada dibakul birunya, Kakek sedang membaca Al-Quan diruang tamu, kedua kakak dan tantenya sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.
“Mama, belikan baju lebaran seperti punyanya Wita ya, Ma…”Kata seorang anak tetangganya sambil merengek kepada ibunya.
“Iya, besok mama belikanya…”jawab sang ibu
“Aku juga ya ma, belikan baju yang sama dengan mereka” Tambah seorang anak yang masih keluarga dekatnya.
“iya, nanti besok sama-sama pergi ketoko baju” jawab si ibu sambil memarut kelapa
Gadis kecil itu menunduk terdiam, jauh didalam hatinya ia ingin punya baju lebaran yang baru seperti punya teman-temannya, ia juga ingin merengek seperti teman-temannya, namun ia tau nenek tidak semampu mereka. Sang nenek hanya menatapnya dengan iba. Dia berusaha menahan tangisnya, agar nenek tidak sedih melihatnya.
Seusai sholat Tarwih, ia bersiap-siap untuk tidur lebih cepat agar tidak bangun kesiangan untuk sahur dan sholat shubuh dimasjid. Ia tidur memeluk sang nenek, meskipun beralaskan tikar usang yang sudah sedikit bolong ia tetap bahagia memeluk neneknya. Tertidur dengan dongeng islami yang sering dikisahkan kakek sebelum ia terlelap.
Sang Nenek memandang wajahnya yang terlelap, dengan tangan keriputnya ia membelai rambut sigadis kecil itu.
“Nenek sangat bahagia melihatmu tumbuh, semoga Allah akan selalu melindungimu, semoga Nenek akan tetap selalu disisimu sampai kau dewasa” sambil mengecup keningnya.
          Keesokan harinya, menjelang sholat Ashar sang nenek mengayuh perahu kecilnya. Berharap mendapat sedikit rezeki dari Allah untuk membelikan baju lebaran untuk cucu kesayangannya.
Allah tidak buta, Allah tidak tidur, Allah melihat hamba-hamba-Nya yang kesusahan, Allah melihat hamba-Nya yang sabar dan ikhlas. Dengan kuasa Allah sang nenek mendapatkan seekor ikan yang cukup besar, ukurannya hamper setengah dari perahu yang dimiliki sang nenek. Dengan menyebut nama Allah dan dibantu oleh seorang nelayan yang kebetulan lewat akhirnya sang nenek berhasil mendapatkan ikan itu.
Segala puji-pujian terucap dari bibir sang nenek, dengan semangat bahagia ia mengayuh perahunya menuju rumah, ikan hasil tangkapan sang nenek segera dijual kepasar. Alhamdulillah harganya cukup tinggi. Tak henti-hentinya nenek mengucapkan syukur.
“Nak, ambillah uang ini. Belilah baju lebaran seperti punya teman-temanmu..” kata sang nenek dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak butuh baju lebaran nek... Melihat nenek sehat saja itu sudah merupakan hadiah lebaran yang sangat berharga bagiku.” Kata sigadis kecil  disela tangisnya.
“Tidak nak, ambillah uang ini. Pergilah dengan kakakmu ketoko. Belilah baju lebaran untukmu.” Sambil memeluk sang cucu.
“Terimakasih Nek, Aku sangat menyayangi nenek…” sigadis kecil mencium tangan neneknya berulang-ulang kali.

                                                          ***

0 komentar:

Posting Komentar