Disebuah Desa kecil yang terletak
dipesisir laut, seorang anak sedang duduk termenung, Pandangannya kosong menatap
hamparan birunya laut. Perlahan air mata merayap turun membanjiri pipinya, ia menangis
sesenggukan. Sampai menjelang sholat Ashar ia masih menangis dengan wajah yang
ditekuk.
Dia gadis kecil berumur 9 tahun,
ibunya sudah meninggal dunia saat dia berusia 11 bulan, ayahnya pergidengan wanita
lain. Ia dan kedua kakak perempuannya hanya diasuh oleh sang Nenek dan Kakek
yang
begitu sangat menyayanginya.
begitu sangat menyayanginya.
Dia baru duduk dibangku kelas IV
SD, biaya sekolah ditanggung oleh Sang Nenek dan Kakek yang menggantungkan hidupnya
sebagai nelayan. Terkadang pula biaya sekolah ditanggung oleh pihak sekolah karna
sering mendapat Beasiswa prestasi, ia tergolong anak yang cerdas dan pendiam,
rajin pergi ke masjid dan rajin mengaji, tak heran jika kelas IV ini dia sudah Wisuda
penamatan Al-Qur,an.
Ayahnya tak pernah sekalipun menengoknya
semenjak ibunya meninggal dunia, ia tak pernah menanyakan dimana ibu dan ayahnya.
Baginya memiliki nenek dan kekek yang sangat menyayanginya adalah anugerah Tuhan
yang paling berharga.
Sore itu, dirumah yang sangat sederhana
beberapa tetangga berkumpul sekedar berbincang-bincang, sang nenek sedang sibuk
memilih buah pinang yang ada dibakul birunya, Kakek sedang membaca Al-Quan diruang
tamu, kedua kakak dan tantenya sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.
“Mama, belikan baju lebaran seperti
punyanya Wita ya, Ma…”Kata seorang anak tetangganya sambil merengek kepada ibunya.
“Iya, besok mama belikanya…”jawab
sang ibu
“Aku juga ya ma, belikan baju
yang sama dengan mereka” Tambah seorang anak yang masih keluarga dekatnya.
“iya, nanti besok sama-sama pergi
ketoko baju” jawab si ibu sambil memarut kelapa
Gadis kecil itu menunduk terdiam,
jauh didalam hatinya ia ingin punya baju lebaran yang baru seperti punya teman-temannya,
ia juga ingin merengek seperti teman-temannya, namun ia tau nenek tidak semampu
mereka. Sang nenek hanya menatapnya dengan iba. Dia berusaha menahan tangisnya,
agar nenek tidak sedih melihatnya.
Seusai sholat Tarwih, ia bersiap-siap
untuk tidur lebih cepat agar tidak bangun kesiangan untuk sahur dan sholat shubuh
dimasjid. Ia tidur memeluk sang nenek, meskipun beralaskan tikar usang yang
sudah sedikit bolong ia tetap bahagia memeluk neneknya. Tertidur dengan dongeng
islami yang sering dikisahkan kakek sebelum ia terlelap.
Sang Nenek memandang wajahnya yang
terlelap, dengan tangan keriputnya ia membelai rambut sigadis kecil itu.
“Nenek sangat bahagia melihatmu tumbuh,
semoga Allah akan selalu melindungimu, semoga Nenek akan tetap selalu disisimu sampai
kau dewasa” sambil mengecup keningnya.
Keesokan
harinya, menjelang sholat Ashar sang nenek mengayuh perahu kecilnya. Berharap mendapat
sedikit rezeki dari Allah untuk membelikan baju lebaran untuk cucu kesayangannya.
Allah tidak buta, Allah tidak tidur,
Allah melihat hamba-hamba-Nya yang kesusahan, Allah melihat hamba-Nya yang
sabar dan ikhlas. Dengan kuasa Allah sang nenek mendapatkan seekor ikan yang
cukup besar, ukurannya hamper setengah dari perahu yang dimiliki sang nenek.
Dengan menyebut nama Allah dan dibantu oleh seorang nelayan yang kebetulan lewat
akhirnya sang nenek berhasil mendapatkan ikan itu.
Segala puji-pujian terucap dari bibir
sang nenek, dengan semangat bahagia ia mengayuh perahunya menuju rumah, ikan hasil
tangkapan sang nenek segera dijual kepasar. Alhamdulillah harganya cukup tinggi.
Tak henti-hentinya nenek mengucapkan syukur.
“Nak, ambillah uang ini. Belilah baju
lebaran seperti punya teman-temanmu..” kata sang nenek dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak butuh baju lebaran nek...
Melihat nenek sehat saja itu sudah merupakan hadiah lebaran yang sangat berharga
bagiku.” Kata sigadis kecil disela tangisnya.
“Tidak nak, ambillah uang ini. Pergilah
dengan kakakmu ketoko. Belilah baju lebaran untukmu.” Sambil memeluk sang cucu.
“Terimakasih
Nek, Aku sangat menyayangi nenek…” sigadis kecil mencium tangan neneknya berulang-ulang
kali.
***







0 komentar:
Posting Komentar