Sore ini kau mengajakku
ke Tangga 2000, salah satu tempat wisata di Kota Gorontalo yang terletak di
kelurahan Pohe. Aku masih ingat dengan polosnya kita menghitung anak tangga
yang ternyata tidak berjumlah 2000. Angka itu diambil dari tahun peresmian tempat
wisata tersebut.
Tempat ini selalu dipadati
pengunjung dari semua kalangan usia. Sambil menikmati jagung bakar manis dengan
pemandangan laut yang indah.
pemandangan laut yang indah.
Cuaca sore itu sangat
dingin namun tak menghalangi niatmu untuk mengajakku duduk didekat tebing,
berusaha dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya dibawah naungan
langit jingga.
Kau adalah bintang langitku
dan aku adalah bintang lautmu. Kita berdua sama-sama tergila-gila dengan pantai,
laut, ombak, langit biru, hujan, pelangi, awan putih, senja, bulan purnama,
sunrise, sunset dan yang paling kau sukai adalah bintang saat langit hitam kelam
sedangkan aku sangat menyukai bintang laut diantara terumbu karang.
Kau masih asyik menceritakan
mimpi-mimpimu untuk bisa menjelajah luar angkasa, melihat bintangmu dalam jarak
dekat. Aku mendengarkanmu dengan serius sambil bersandar dibahumu.
Pandangan kita sama-sama tertuju pada kilau sinar matahari yang akan terbenam
sore itu.
“Bintang langitku,
apakah didasar laut sana ada bintang laut berwarna hijau…???” Aku ingin sekali melihatnya.
Dengan gaya manjaku.
“Aku akan mendapatkannya
untukmu sayang…” senyuman dan tatapannya selalu berhasil membuatku bahagia.
Hari kedua, sore itu kau
mengajakku kembali ketangga 2000, kita masih duduk ditempat yang sama, berusaha
dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya sambil menikmati jagung bakar.
Bersandar dibahumu dan tanganmu menggenggam erat tanganku.
“Bintang langitku…Mungkinkah
kita akanbersatu…??? Bagaimana mungkin bintang laut dan bintang langit bisa bersatu…???”
Tanyaku masih dengan gaya manja. Dia terdiam sesaat, menatapku lembut, kemudian
tersenyum sambil membelai rambutku. “Yakinlah, kita pasti akan bersatu. Kalaupun
takdir memisahkan kita…kata-katanya terputus, dia berdiri dan membusungkan dada
“aku sebagai bintang langitmu akan terus menjagamu dari atas sana”. Aku berdiri
mendekapnya, erat. Sanga terat.
Hari ketiga, kau masih
mengajakku kembali ketangga 2000, kita masih duduk ditempat yang sama, berusaha
dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya sambil menikmati jagung bakar.
Bersandar dibahumu dan tanganmu menggenggam erat tanganku.
Hari itu berbeda dari
hari-hari sebelumnya, tempat itu mendadak sepi, tak ada pengunjung, hanya ada kita
berdua, aku merinding, suasana terasa mencekam.Namun genggaman tanganmu tak pernah
gagal mengusir kegundahanku.
“Bintang lautku,
besok aku akan pergi ketempat yang sangat jauh…” dia memelukku erat.Sanga terat.
“Kau akan meninggalkanku
sendirian…???” Mataku mulai berkaca-kaca
“Aku sebagai bintang langitmu
akan selalu mengawasimu diatas sana…”
Aku langsung menghambur
kepelukannya, menangis dalam dekapannya.
Setelah mengantarku pulang,
hatiku mendadak gelisah. Aku tidak bisa tidur, dia belum juga menelponku. Hal
yang sering dilakukannya ketika tiba dirumah.
Ada nyeri yang sangat
dalam ketika kuterima kabar bahwa Bintang
langitku kecelakaan dalam perjalanan pulang. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau
itu bukanlah dia, mungkin saja orang yang miripdia, atau mungkin saja baju yang
dipakainya sama persis dengan bintangku. Sekali lagi kuyakinkan hatiku saat melangkah
masuk menuju kamar jenazah.
Airmataku tak terbendung
lagi, ruang seakan tak member kesempatan kepadaparu-paruku untuk bernafas,
SESAK. Dia bintangku, bintang langitku. Wajahnya
begitu damai. Dia pergi meninggalkanku sendiri. Aku menangis sambil mengguncang-guncangkan
tubuhnya. Sebuah kotak terjatuh dari saku jaketnya. Kubuka perlahan-lahan dengan
tangan gemetar, kotak itu berisi sebuah cincin bintang dengan lima permata disetiap
sisinya. Selembar kartu ucapan berwarna hijau bertuliskan : “Bintang Lautku,
aku pergi… aku akan selalu menjagamu dari atas
sana…dilangit, aku akan selalu mendekapmu…”
“Bintaaaaaaaaanggggggggggggg…..!!!!
jangan tinggalkan akuuuu……..!!!!!”
Tiga hari setelah kepergianmu,
sore itu aku kembali datang ketangga 2000. Duduk ditempat yang sama, deburan ombakpun
masih sama, sore ini begitu ramai, namun aku merasa sendiri. Tak ada lagi dirimu
yang selalu duduk disampingku, tak ada lagi tanganmu yang selalu menggenggam tanganku,
tak ada lagi bahu teduh tempatku bersandar, tak ada lagi pelukan eratmu, tak ada
lagi tatapan dan senyuman indahmu. Aku merindukanmu bintang langitku… aku sangat
merindukanmu…
“Tetaplah menjadi bintang
dilangit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap
menerangi malam ini
Agar menjadi saksi cinta
kita
Berdua….”
Lagu itu sayup-sayup terdengar
dari warung jagung bakar yang selalu kita datangi… lagu it umenemani tangisku merindukanmu.
***
Sore ini kau mengajakku
ke Tangga 2000, salah satu tempat wisata di Kota Gorontalo yang terletak di
kelurahan Pohe. Aku masih ingat dengan polosnya kita menghitung anak tangga
yang ternyata tidak berjumlah 2000. Angka itu diambil dari tahun peresmian tempat
wisata tersebut.
Tempat ini selalu dipadati
pengunjung dari semua kalangan usia. Sambil menikmati jagung bakar manis dengan
pemandangan laut yang indah.
Cuaca sore itu sangat
dingin namun tak menghalangi niatmu untuk mengajakku duduk didekat tebing,
berusaha dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya dibawah naungan
langit jingga.
Kau adalah bintang langitku
dan aku adalah bintang lautmu. Kita berdua sama-sama tergila-gila dengan pantai,
laut, ombak, langit biru, hujan, pelangi, awan putih, senja, bulan purnama,
sunrise, sunset dan yang paling kau sukai adalah bintang saat langit hitam kelam
sedangkan aku sangat menyukai bintang laut diantara terumbu karang.
Kau masih asyik menceritakan
mimpi-mimpimu untuk bisa menjelajah luar angkasa, melihat bintangmu dalam jarak
dekat. Aku mendengarkanmu dengan serius sambil bersandar dibahumu.
Pandangan kita sama-sama tertuju pada kilau sinar matahari yang akan terbenam
sore itu.
“Bintang langitku,
apakah didasar laut sana ada bintang laut berwarna hijau…???” Aku ingin sekali melihatnya.
Dengan gaya manjaku.
“Aku akan mendapatkannya
untukmu sayang…” senyuman dan tatapannya selalu berhasil membuatku bahagia.
Hari kedua, sore itu kau
mengajakku kembali ketangga 2000, kita masih duduk ditempat yang sama, berusaha
dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya sambil menikmati jagung bakar.
Bersandar dibahumu dan tanganmu menggenggam erat tanganku.
“Bintang langitku…Mungkinkah
kita akanbersatu…??? Bagaimana mungkin bintang laut dan bintang langit bisa bersatu…???”
Tanyaku masih dengan gaya manja. Dia terdiam sesaat, menatapku lembut, kemudian
tersenyum sambil membelai rambutku. “Yakinlah, kita pasti akan bersatu. Kalaupun
takdir memisahkan kita…kata-katanya terputus, dia berdiri dan membusungkan dada
“aku sebagai bintang langitmu akan terus menjagamu dari atas sana”. Aku berdiri
mendekapnya, erat. Sanga terat.
Hari ketiga, kau masih
mengajakku kembali ketangga 2000, kita masih duduk ditempat yang sama, berusaha
dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya sambil menikmati jagung bakar.
Bersandar dibahumu dan tanganmu menggenggam erat tanganku.
Hari itu berbeda dari
hari-hari sebelumnya, tempat itu mendadak sepi, tak ada pengunjung, hanya ada kita
berdua, aku merinding, suasana terasa mencekam.Namun genggaman tanganmu tak pernah
gagal mengusir kegundahanku.
“Bintang lautku,
besok aku akan pergi ketempat yang sangat jauh…” dia memelukku erat.Sanga terat.
“Kau akan meninggalkanku
sendirian…???” Mataku mulai berkaca-kaca
“Aku sebagai bintang langitmu
akan selalu mengawasimu diatas sana…”
Aku langsung menghambur
kepelukannya, menangis dalam dekapannya.
Setelah mengantarku pulang,
hatiku mendadak gelisah. Aku tidak bisa tidur, dia belum juga menelponku. Hal
yang sering dilakukannya ketika tiba dirumah.
Ada nyeri yang sangat
dalam ketika kuterima kabar bahwa Bintang
langitku kecelakaan dalam perjalanan pulang. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau
itu bukanlah dia, mungkin saja orang yang miripdia, atau mungkin saja baju yang
dipakainya sama persis dengan bintangku. Sekali lagi kuyakinkan hatiku saat melangkah
masuk menuju kamar jenazah.
Airmataku tak terbendung
lagi, ruang seakan tak member kesempatan kepadaparu-paruku untuk bernafas,
SESAK. Dia bintangku, bintang langitku. Wajahnya
begitu damai. Dia pergi meninggalkanku sendiri. Aku menangis sambil mengguncang-guncangkan
tubuhnya. Sebuah kotak terjatuh dari saku jaketnya. Kubuka perlahan-lahan dengan
tangan gemetar, kotak itu berisi sebuah cincin bintang dengan lima permata disetiap
sisinya. Selembar kartu ucapan berwarna hijau bertuliskan : “Bintang Lautku,
aku pergi… aku akan selalu menjagamu dari atas
sana…dilangit, aku akan selalu mendekapmu…”
“Bintaaaaaaaaanggggggggggggg…..!!!!
jangan tinggalkan akuuuu……..!!!!!”
Tiga hari setelah kepergianmu,
sore itu aku kembali datang ketangga 2000. Duduk ditempat yang sama, deburan ombakpun
masih sama, sore ini begitu ramai, namun aku merasa sendiri. Tak ada lagi dirimu
yang selalu duduk disampingku, tak ada lagi tanganmu yang selalu menggenggam tanganku,
tak ada lagi bahu teduh tempatku bersandar, tak ada lagi pelukan eratmu, tak ada
lagi tatapan dan senyuman indahmu. Aku merindukanmu bintang langitku… aku sangat
merindukanmu…
“Tetaplah menjadi bintang
dilangit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap
menerangi malam ini
Agar menjadi saksi cinta
kita
Berdua….”
Lagu itu sayup-sayup terdengar
dari warung jagung bakar yang selalu kita datangi… lagu it umenemani tangisku merindukanmu.
***






So sad :'(
BalasHapus