Selasa, 07 April 2015

Bintang Langitku



Sore ini kau mengajakku ke Tangga 2000, salah satu tempat wisata di Kota Gorontalo yang terletak di kelurahan Pohe. Aku masih ingat dengan polosnya kita menghitung anak tangga yang ternyata tidak berjumlah 2000. Angka itu diambil dari tahun peresmian tempat wisata tersebut.
Tempat ini selalu dipadati pengunjung dari semua kalangan usia. Sambil menikmati jagung bakar manis dengan
pemandangan laut yang indah.
Cuaca sore itu sangat dingin namun tak menghalangi niatmu untuk mengajakku duduk didekat tebing, berusaha dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya dibawah naungan langit jingga.
Kau adalah bintang langitku dan aku adalah bintang lautmu. Kita berdua sama-sama tergila-gila dengan pantai, laut, ombak, langit biru, hujan, pelangi, awan putih, senja, bulan purnama, sunrise, sunset dan yang paling kau sukai adalah bintang saat langit hitam kelam sedangkan aku sangat menyukai bintang laut diantara terumbu karang.
Kau masih asyik menceritakan mimpi-mimpimu untuk bisa menjelajah luar angkasa, melihat bintangmu dalam jarak dekat. Aku mendengarkanmu dengan serius sambil bersandar dibahumu. Pandangan kita sama-sama tertuju pada kilau sinar matahari yang akan terbenam sore itu.
“Bintang langitku, apakah didasar laut sana ada bintang laut berwarna hijau…???” Aku ingin sekali melihatnya. Dengan gaya manjaku.
“Aku akan mendapatkannya untukmu sayang…” senyuman dan tatapannya selalu berhasil membuatku bahagia.
Hari kedua, sore itu kau mengajakku kembali ketangga 2000, kita masih duduk ditempat yang sama, berusaha dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya sambil menikmati jagung bakar. Bersandar dibahumu dan tanganmu menggenggam erat tanganku.
“Bintang langitku…Mungkinkah kita akanbersatu…??? Bagaimana mungkin bintang laut dan bintang langit bisa bersatu…???” Tanyaku masih dengan gaya manja. Dia terdiam sesaat, menatapku lembut, kemudian tersenyum sambil membelai rambutku. “Yakinlah, kita pasti akan bersatu. Kalaupun takdir memisahkan kita…kata-katanya terputus, dia berdiri dan membusungkan dada “aku sebagai bintang langitmu akan terus menjagamu dari atas sana”. Aku berdiri mendekapnya, erat. Sanga terat.
Hari ketiga, kau masih mengajakku kembali ketangga 2000, kita masih duduk ditempat yang sama, berusaha dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya sambil menikmati jagung bakar. Bersandar dibahumu dan tanganmu menggenggam erat tanganku.
Hari itu berbeda dari hari-hari sebelumnya, tempat itu mendadak sepi, tak ada pengunjung, hanya ada kita berdua, aku merinding, suasana terasa mencekam.Namun genggaman tanganmu tak pernah gagal mengusir kegundahanku.
“Bintang lautku, besok aku akan pergi ketempat yang sangat jauh…” dia memelukku erat.Sanga terat.
“Kau akan meninggalkanku sendirian…???” Mataku mulai berkaca-kaca
“Aku sebagai bintang langitmu akan selalu mengawasimu diatas sana…”
Aku langsung menghambur kepelukannya, menangis dalam dekapannya.
Setelah mengantarku pulang, hatiku mendadak gelisah. Aku tidak bisa tidur, dia belum juga menelponku. Hal yang sering dilakukannya ketika tiba dirumah.
Ada nyeri yang sangat dalam  ketika kuterima kabar bahwa Bintang langitku kecelakaan dalam perjalanan pulang. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau itu bukanlah dia, mungkin saja orang yang miripdia, atau mungkin saja baju yang dipakainya sama persis dengan bintangku. Sekali lagi kuyakinkan hatiku saat melangkah masuk menuju kamar jenazah.
Airmataku tak terbendung lagi, ruang seakan tak member kesempatan kepadaparu-paruku untuk bernafas, SESAK. Dia bintangku, bintang  langitku. Wajahnya begitu damai. Dia pergi meninggalkanku sendiri. Aku menangis sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya. Sebuah kotak terjatuh dari saku jaketnya. Kubuka perlahan-lahan dengan tangan gemetar, kotak itu berisi sebuah cincin bintang dengan lima permata disetiap sisinya. Selembar kartu ucapan berwarna hijau bertuliskan : “Bintang Lautku, aku pergi… aku akan selalu menjagamu dari atas  sana…dilangit, aku akan selalu mendekapmu…”
“Bintaaaaaaaaanggggggggggggg…..!!!! jangan tinggalkan akuuuu……..!!!!!”
Tiga hari setelah kepergianmu, sore itu aku kembali datang ketangga 2000. Duduk ditempat yang sama, deburan ombakpun masih sama, sore ini begitu ramai, namun aku merasa sendiri. Tak ada lagi dirimu yang selalu duduk disampingku, tak ada lagi tanganmu yang selalu menggenggam tanganku, tak ada lagi bahu teduh tempatku bersandar, tak ada lagi pelukan eratmu, tak ada lagi tatapan dan senyuman indahmu. Aku merindukanmu bintang langitku… aku sangat merindukanmu…
“Tetaplah menjadi bintang dilangit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menerangi malam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua….”
Lagu itu sayup-sayup terdengar dari warung jagung bakar yang selalu kita datangi… lagu it umenemani tangisku merindukanmu.
                                                          ***


Sore ini kau mengajakku ke Tangga 2000, salah satu tempat wisata di Kota Gorontalo yang terletak di kelurahan Pohe. Aku masih ingat dengan polosnya kita menghitung anak tangga yang ternyata tidak berjumlah 2000. Angka itu diambil dari tahun peresmian tempat wisata tersebut.
Tempat ini selalu dipadati pengunjung dari semua kalangan usia. Sambil menikmati jagung bakar manis dengan pemandangan laut yang indah.
Cuaca sore itu sangat dingin namun tak menghalangi niatmu untuk mengajakku duduk didekat tebing, berusaha dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya dibawah naungan langit jingga.
Kau adalah bintang langitku dan aku adalah bintang lautmu. Kita berdua sama-sama tergila-gila dengan pantai, laut, ombak, langit biru, hujan, pelangi, awan putih, senja, bulan purnama, sunrise, sunset dan yang paling kau sukai adalah bintang saat langit hitam kelam sedangkan aku sangat menyukai bintang laut diantara terumbu karang.
Kau masih asyik menceritakan mimpi-mimpimu untuk bisa menjelajah luar angkasa, melihat bintangmu dalam jarak dekat. Aku mendengarkanmu dengan serius sambil bersandar dibahumu. Pandangan kita sama-sama tertuju pada kilau sinar matahari yang akan terbenam sore itu.
“Bintang langitku, apakah didasar laut sana ada bintang laut berwarna hijau…???” Aku ingin sekali melihatnya. Dengan gaya manjaku.
“Aku akan mendapatkannya untukmu sayang…” senyuman dan tatapannya selalu berhasil membuatku bahagia.
Hari kedua, sore itu kau mengajakku kembali ketangga 2000, kita masih duduk ditempat yang sama, berusaha dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya sambil menikmati jagung bakar. Bersandar dibahumu dan tanganmu menggenggam erat tanganku.
“Bintang langitku…Mungkinkah kita akanbersatu…??? Bagaimana mungkin bintang laut dan bintang langit bisa bersatu…???” Tanyaku masih dengan gaya manja. Dia terdiam sesaat, menatapku lembut, kemudian tersenyum sambil membelai rambutku. “Yakinlah, kita pasti akan bersatu. Kalaupun takdir memisahkan kita…kata-katanya terputus, dia berdiri dan membusungkan dada “aku sebagai bintang langitmu akan terus menjagamu dari atas sana”. Aku berdiri mendekapnya, erat. Sanga terat.
Hari ketiga, kau masih mengajakku kembali ketangga 2000, kita masih duduk ditempat yang sama, berusaha dekat dengan semburan ombak, merasakan percikan airnya sambil menikmati jagung bakar. Bersandar dibahumu dan tanganmu menggenggam erat tanganku.
Hari itu berbeda dari hari-hari sebelumnya, tempat itu mendadak sepi, tak ada pengunjung, hanya ada kita berdua, aku merinding, suasana terasa mencekam.Namun genggaman tanganmu tak pernah gagal mengusir kegundahanku.
“Bintang lautku, besok aku akan pergi ketempat yang sangat jauh…” dia memelukku erat.Sanga terat.
“Kau akan meninggalkanku sendirian…???” Mataku mulai berkaca-kaca
“Aku sebagai bintang langitmu akan selalu mengawasimu diatas sana…”
Aku langsung menghambur kepelukannya, menangis dalam dekapannya.
Setelah mengantarku pulang, hatiku mendadak gelisah. Aku tidak bisa tidur, dia belum juga menelponku. Hal yang sering dilakukannya ketika tiba dirumah.
Ada nyeri yang sangat dalam  ketika kuterima kabar bahwa Bintang langitku kecelakaan dalam perjalanan pulang. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau itu bukanlah dia, mungkin saja orang yang miripdia, atau mungkin saja baju yang dipakainya sama persis dengan bintangku. Sekali lagi kuyakinkan hatiku saat melangkah masuk menuju kamar jenazah.
Airmataku tak terbendung lagi, ruang seakan tak member kesempatan kepadaparu-paruku untuk bernafas, SESAK. Dia bintangku, bintang  langitku. Wajahnya begitu damai. Dia pergi meninggalkanku sendiri. Aku menangis sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya. Sebuah kotak terjatuh dari saku jaketnya. Kubuka perlahan-lahan dengan tangan gemetar, kotak itu berisi sebuah cincin bintang dengan lima permata disetiap sisinya. Selembar kartu ucapan berwarna hijau bertuliskan : “Bintang Lautku, aku pergi… aku akan selalu menjagamu dari atas  sana…dilangit, aku akan selalu mendekapmu…”
“Bintaaaaaaaaanggggggggggggg…..!!!! jangan tinggalkan akuuuu……..!!!!!”
Tiga hari setelah kepergianmu, sore itu aku kembali datang ketangga 2000. Duduk ditempat yang sama, deburan ombakpun masih sama, sore ini begitu ramai, namun aku merasa sendiri. Tak ada lagi dirimu yang selalu duduk disampingku, tak ada lagi tanganmu yang selalu menggenggam tanganku, tak ada lagi bahu teduh tempatku bersandar, tak ada lagi pelukan eratmu, tak ada lagi tatapan dan senyuman indahmu. Aku merindukanmu bintang langitku… aku sangat merindukanmu…
“Tetaplah menjadi bintang dilangit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menerangi malam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua….”
Lagu itu sayup-sayup terdengar dari warung jagung bakar yang selalu kita datangi… lagu it umenemani tangisku merindukanmu.
                                                          ***

1 komentar: