Selasa, 07 April 2015

Pashmina Untuk Ibu



Terik matahari siang itu tak menyurutkan langkahkumendatangi kantor-Kantor swasta untuk melamar pekerjaan. Selama ini semua hanya sebatas psikotes dan wawancara. Selanjutnya nihil.
Ini adalah surat lamaran ketujuh yang kubuat. Selesai menitipkannya kepada salah satu staff dikantor itu, aku langsung bergegas pulang. Saat menunggu kendaraan ditepi jalan, seorang ibu paruh baya menghampiriku. “Nak, kacang rebus, masih hangat lo…”
Uang didompetku tinggal duapuluh ribu, hanya
cukup untuk makandan ongkos pulang kekos. “Maaf bu, jalan saja dulu…”
“Beli lima ribu aja nak, masih hangat kok…” wajah ibu itu tampak kelelahan
“Maaf ya bu..” akumelangkah, sedikit menjauh dari si ibu penjual kacang itu. pura-pura tidakmendengarkan panggilannya.
          Waktu telah menunjukkan pukul 01:30 menit namun rasa kantuk  tak juga menghampiriku. Mendadak wajah ibu tua penjual kacang itu terbayang memenuhi langit-langit kamarku. Peluh yang menghiasi wajahnya, keriput tangannya. Akh…benar-benar menyedihkan.
Keesokan harinya ibu itu tiba-tiba lewat didepan kosku. “Nak, kacang rebus nak. Masih hangat lo…”
Aku terdiam, aku baru saja meminjam uang seratus ribu dari temanku untuk makan beberapa hari dan ongkos kendaraan mengantar lamaran lagi.
“Beli lima ribu aja nak, masih hangat kok…” kalimat yang sama dengan kemarin.
“Maaf bu, inshaallah lain kali saja ya…”
Wajah ibu itu tampak kecewa, aku menggigit bibirku. Menahan rasa iba dan rasa bersalah.
Wajah ibu itu kembali terbayang, membuatku tak bisa tidur. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. Sebuah kotak terjatuh dari atas lemari, Astagfirullah, kotak itu adalah kado untuk ibu yang lupaku berikan. Kado untuk HARI IBU setahun yang lalu. Aku tidak akan pulang sebelum mendapatkan pekerjaan. Ibu sangat mengerti dan menghargai keputusanku.
Kulirik kalender dimeja belajarku. “Astagfirullah hari ini adalah HARI IBU..”
Kuraih Handphone diatas tempat tidur dan mencari kontak yang tertulis Ibuku Sayang. ”Assalamualaikum bu, Selamat HARI IBU ya. Terimakasih atas segala kasih saying ibu selama ini. Maaf ucapannya telat. Ibu sehatkan…???”
“Waalaikumsalam, terimakasih nak. Alhamdulillah ibu sehat. Kamu juga sehatkan…???” Suara lembut ibu membuat mataku berkaca-kaca.
“Alhamdulillah bu, sehat. Tapi masih pengangguran.hehehe. Maaf ya bu, Anty belum bisa pulang. Inshaallah kalau Anty sudah dapat pekerjaan baru Anty pulang. Biar ibu bangga. Kado ibu masih Anty simpan kok. Semoga saja tahun depan Anty bisa merayakan HARI IBU dirumah.” Kalimatku tersendat menahan tangis.
“Walaupun pengangguran, Anty tetap anak ibu yang baik, ibu  akan selalu mendoakan yang terbaik buat Anty. Kadonya berikan saja kepada yang membutuhkan .Ingat nak, agar tetap slalu bersyukur dalam segala keadaan. Kesehatan itu juga adalah nikmat terbesar yang sering kali lupa kita syukuri.”
“Iyabu, Anty akan selalu ingat pesan  ibu…” wajah ibu penjual kacang itu kembali terbayang memenuhi fikiranku.
Hujan deras bukanlah penghalang bagiku untuk mendatangi kantor berikutnya. Setelah mengantarkan surat lamaran yang kedelapan. Aku berteduh dihalte. Aku mengusap wajah dan membersihkan kerudungku. Waktu menunjukkan pukul 11:45 menit. Suara pengajian terdengar disalah satu masjid yang tidak jauh dari tempatku berteduh.
“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula. Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan…??? (QS.Ar-Rahman :60-61)
“Nak, kacang nak. Masih hangat kok…” suara ibu itu membuyarkan lamunanku
Uang didompetku masih tersisa Sembilan puluh ribu.“ saya beli Sembilan puluh ribu ya bu…” kataku tersenyum
“Sembilan puluh ribu nak…???Alhamdulillah…” dengan semangat ibu membungkuskan kacang rebusnya, tangan keriputnya sedikit gemetar saat memberikan bungkusan kacang rebus itu.
“Ini uangnya bu. Saya punya kado untuk ibu. Mohon diterima. Semoga bermanfaat ya bu.”
“Alhamdulillah, terimakasih banyak yan ak.” Dengan wajah bahagia ibu penjual kacang itu langsung mengenakan pashmina pemberianku. Kado untuk ibu yang tak sempat kuberikan.
“Ibu doakan semoga nak sehat selalu, panjang umur   dan selalu diberi kemudahan dalam segala kesulitan.”
“Aamiin ya allah, terimakasih bu…”
Kini wajah ibuku yang menghiasi lamunanku, aku sangat merindukanmu Ibu. Kuputuskan untuk berjalan kaki ke kos, ada sebuah kebahagiaan tersendiri dihatiku. Wajah ibu penjual kacang yang tersenyum membuat kusangat lega. Aku melangkah riang dibawah gerimis hujan.
“Ampuni hamba Ya Allah, terimakasih atas segala nikmat dan karunia-Mu.”
Selesai sholat Ashar aku menerima pesan teks di layar Handphoneku. ”Selamat sore, Saudara Rianty, mulai besok anda sudah bisa bekerja. Selamat bergabung diperusahaan kami.”
“Alhamdulillahirobbilalamin…, Terimasih Ya Rabb…, Terimakasih Ibu…, Terimakasih Ibu penjual kacang.”
                                                ***         

0 komentar:

Posting Komentar