Terik matahari siang itu
tak menyurutkan langkahkumendatangi kantor-Kantor swasta untuk melamar pekerjaan.
Selama ini semua hanya sebatas psikotes dan wawancara. Selanjutnya nihil.
Ini adalah surat lamaran
ketujuh yang kubuat. Selesai menitipkannya kepada salah satu staff dikantor itu,
aku langsung bergegas pulang. Saat menunggu kendaraan ditepi jalan, seorang ibu
paruh baya menghampiriku. “Nak, kacang rebus, masih hangat lo…”
Uang didompetku tinggal duapuluh ribu,
hanya
cukup untuk makandan ongkos pulang kekos. “Maaf bu, jalan saja dulu…”
cukup untuk makandan ongkos pulang kekos. “Maaf bu, jalan saja dulu…”
“Beli lima ribu aja nak, masih hangat kok…”
wajah ibu itu tampak kelelahan
“Maaf ya bu..” akumelangkah, sedikit menjauh
dari si ibu penjual kacang itu. pura-pura tidakmendengarkan panggilannya.
Waktu
telah menunjukkan pukul 01:30 menit namun rasa kantuk tak juga menghampiriku. Mendadak wajah ibu tua
penjual kacang itu terbayang memenuhi langit-langit kamarku. Peluh yang
menghiasi wajahnya, keriput tangannya. Akh…benar-benar menyedihkan.
Keesokan harinya ibu itu
tiba-tiba lewat didepan kosku. “Nak, kacang rebus nak. Masih hangat lo…”
Aku terdiam, aku baru saja meminjam uang
seratus ribu dari temanku untuk makan beberapa hari dan ongkos kendaraan mengantar
lamaran lagi.
“Beli lima ribu aja nak, masih hangat kok…”
kalimat yang sama dengan kemarin.
“Maaf bu, inshaallah lain kali saja ya…”
Wajah ibu itu tampak kecewa, aku menggigit
bibirku. Menahan rasa iba dan rasa bersalah.
Wajah ibu itu kembali
terbayang, membuatku tak bisa tidur. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.
Sebuah kotak terjatuh dari atas lemari, Astagfirullah, kotak itu adalah kado untuk
ibu yang lupaku berikan. Kado untuk HARI IBU setahun yang lalu. Aku tidak akan pulang
sebelum mendapatkan pekerjaan. Ibu sangat mengerti dan menghargai keputusanku.
Kulirik kalender dimeja belajarku.
“Astagfirullah hari ini adalah HARI IBU..”
Kuraih Handphone diatas tempat tidur dan mencari kontak yang tertulis Ibuku
Sayang. ”Assalamualaikum bu, Selamat HARI IBU ya. Terimakasih atas segala kasih
saying ibu selama ini. Maaf ucapannya telat. Ibu sehatkan…???”
“Waalaikumsalam, terimakasih nak. Alhamdulillah
ibu sehat. Kamu juga sehatkan…???” Suara lembut ibu membuat mataku berkaca-kaca.
“Alhamdulillah bu, sehat. Tapi masih pengangguran.hehehe.
Maaf ya bu, Anty belum bisa pulang. Inshaallah kalau Anty sudah dapat pekerjaan
baru Anty pulang. Biar ibu bangga. Kado ibu masih Anty simpan kok. Semoga saja tahun
depan Anty bisa merayakan HARI IBU dirumah.” Kalimatku tersendat menahan tangis.
“Walaupun pengangguran, Anty tetap anak
ibu yang baik, ibu akan selalu mendoakan
yang terbaik buat Anty. Kadonya berikan saja kepada yang membutuhkan .Ingat nak,
agar tetap slalu bersyukur dalam segala keadaan. Kesehatan itu juga adalah nikmat
terbesar yang sering kali lupa kita syukuri.”
“Iyabu, Anty akan selalu ingat pesan ibu…” wajah ibu penjual kacang itu kembali terbayang
memenuhi fikiranku.
Hujan deras bukanlah penghalang
bagiku untuk mendatangi kantor berikutnya. Setelah mengantarkan surat lamaran
yang kedelapan. Aku berteduh dihalte. Aku mengusap wajah dan membersihkan kerudungku.
Waktu menunjukkan pukul 11:45 menit. Suara pengajian terdengar disalah satu
masjid yang tidak jauh dari tempatku berteduh.
“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain
kebaikan pula. Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan…??? (QS.Ar-Rahman
:60-61)
“Nak, kacang nak. Masih hangat kok…”
suara ibu itu membuyarkan lamunanku
Uang didompetku masih tersisa Sembilan
puluh ribu.“ saya beli Sembilan puluh ribu ya bu…” kataku tersenyum
“Sembilan puluh ribu nak…???Alhamdulillah…”
dengan semangat ibu membungkuskan kacang rebusnya, tangan keriputnya sedikit gemetar
saat memberikan bungkusan kacang rebus itu.
“Ini uangnya bu. Saya punya kado untuk
ibu. Mohon diterima. Semoga bermanfaat ya bu.”
“Alhamdulillah, terimakasih banyak yan
ak.” Dengan wajah bahagia ibu penjual kacang itu langsung mengenakan pashmina
pemberianku. Kado untuk ibu yang tak sempat kuberikan.
“Ibu doakan semoga nak sehat selalu,
panjang umur dan selalu diberi kemudahan dalam segala kesulitan.”
“Aamiin ya allah, terimakasih bu…”
Kini wajah ibuku yang
menghiasi lamunanku, aku sangat merindukanmu Ibu. Kuputuskan untuk berjalan
kaki ke kos, ada sebuah kebahagiaan tersendiri dihatiku. Wajah ibu penjual kacang
yang tersenyum membuat kusangat lega. Aku melangkah riang dibawah gerimis hujan.
“Ampuni hamba Ya Allah, terimakasih atas
segala nikmat dan karunia-Mu.”
Selesai sholat Ashar aku
menerima pesan teks di layar Handphoneku.
”Selamat sore, Saudara Rianty, mulai besok anda sudah bisa bekerja. Selamat bergabung
diperusahaan kami.”
“Alhamdulillahirobbilalamin…,
Terimasih Ya Rabb…, Terimakasih Ibu…, Terimakasih Ibu penjual kacang.”
***






0 komentar:
Posting Komentar