Siapa yang bisa
menjelaskan arti perpisahan? Saat orang-orang yang kita cintai tak lagi bersama
kita,saat sosok yang kita bangga-banggakan telah memilih untuk pergi.Rasa Kecewa, sakit, marah, ingin memberontak, tapi
pada siapa?
Aku hanya mempunyai
tiga orang terpenting dalam
hidup ini.Nenek, Kakek dan Tante Ica.Ayah dan Ibu?aku tidak tau itu makhluk seperti apa, wajah dan rupanya tak pernah terlintas.Bahkan nama itu hanya kudengar dari teman-teman sepermainanku.
hidup ini.Nenek, Kakek dan Tante Ica.Ayah dan Ibu?aku tidak tau itu makhluk seperti apa, wajah dan rupanya tak pernah terlintas.Bahkan nama itu hanya kudengar dari teman-teman sepermainanku.
Kakek adalah sosok pendidik
yang baik, beliau sangat dihormati dikampung, selalu menanamkan nilai-nilai
agama semenjak aku kecil.Kakek adalah pejuang dimedan perang pada masa
penjajahan Belanda dulu.Kakek adalah seorang yang pandai,tidak pernah
marah,selalusholat tepat waktu, hebatnya lagi kakek bisa menghatamkan Al-Quran
dalam waktu tiga hari.
Nenek adalah seorang
yang sangat penyayang,rela terbakar matahari bersama kakek dilautan demi
mencari ikan untuk membiayai sekolahku.Nenek tidak akan bisa makan sendirian
tanpa kehadiranku, selalu menunggu jam pulang sekolah untuk makan bersama.
Tante Ica adalah
seorang yang rela mengorbankan masa mudanya untuk merawatku tanpa mengeluh
sedikitpun. Tante Ica akan marah besar jika ada anak-anak yang mengolok-olokku
tidak memiliki Ayah dan Ibu.
Disamping itu, aku
adalah anak yang patuh dan taat,rajin sekolah, rajin sholat dan mengaji, selalu dapat ranking
dikelas. Tumbuh dalam kederhanaan yang mewah.Punya orang-orang terhebat yang
sangat menyayangiku.
Siapa yang mampu
menjelaskan arti luka?
Saat sosok kakek yang
sangat kubanggakan menjadi diam, nafasnya terhenti, tubuhnya kaku.kucoba
membangunkannya, namun tak ada jawaban. Aku menangis, berteriak, tapi kakek
tetap tidak mau mendengar suaraku.Kakek pergi menghadap Ilahi saat usiaku tiga
belas tahun.
Aku masih
mempercayai-Mu Tuhan, perpisahan yang menyakitkan adalah bentuk kasih
sayang-Mu.Aku masih mepercayai-Mu, dengan semua ilmu agama yang diajarkan kakek
semasa hidupnya.
Berat rasanya
meninggalkan Nenek dan Tante Ica saat kuutarakan niat untuk kuliah diluar
daerah.Aku harus menjalankan wasiat kakek.“Sesulit apapun keadaan, jangan
pernah berhenti menuntut ilmu Nak!”
Siapa yang mampu
mengartikan rasa sakit?
Saat kuterima kabar
Tante Ica tiba-tiba dilarikan ke ICU, mendadak koma, Dokter tidak mampu
menangani penyakitnya?bukankah itu sudah sangat gawat?bukakah zaman sudah serba
canggih?bukankah peralatan medis sudah sangat lengkap? Bukankah kata Kakek Tuhan mengirimkan
penyakit beserta obatnya?.Tante Ica pergi menyusul Kakek.Bahkan Tuhan tidak
mengijinkanku bertemu dengannya, saat tiba dikampung Tante Ica sudah dimakamkan.
Sampai saat ini aku
masih berusaha mempercayai Tuhan.Kata kakek Tuhan benar-benar sayang kepada
umat-Nya yang diberikan cobaan.Aku semakin rajin beribadah, mendoakan Neneksatu-satunya
yang kumiliki sehat wal’ afiat.Aku terpaksa harus kembali keperantauan,
semester depan adalah ujian akhir untuk meraih gelar sarjana.Berat rasanya
meninggalkan Nenek.
Siapa yang bisa
menjelaskan arti kehilangan?
Saat Nenek dikabarkan
sakit.Aku berusaha pulang hari itu juga, kukemasi barang-barang seperlunya, aku
tidak mau menyesal untuk yang kesekian kalinya.Saat adzan Ashar berkumandang
sebuah pesan singkat kuterima dilayar Hp, Nenek telah pergi menyusul, Kakek dan
Tante Ica.Sekali lagi Tuhan tidak mengijinkanku bertemu dengan Nenek, Bahkan
airmata darahpun takkan bisa menjelaskan apa yang kurasakan saat ini.
Aku marah, marah sekali
pada-Mu Tuhan.Inikah bukti kasih sayang-Mu kepadaku? Aku selalu menjalankan apa
yang-Kau perintahkan, menjauhi semua hal-hal yang Engkau larang, tapi kenapa Engkau
mengam bil semua orang-orang yang aku sayangi, kenapa bukan orang-orang yang sering
mabuk-mabukan, penjudi atau pencuri, kenapa Tuhan? Kenapa?
Aku masih terdiam
didepan pusara Nenek,tak mampu menangis lagi.Mungkin air mataku sudah
habis.Bahkan kalaupun aku menagis berdara-darah Kau takkan mengembalikan
mereka.
“Maafkan aku Nenek,
kakek, Tante icha.Tuhan yang kalian bangga-banggakan telah memisahkan kita,
maafkan aku Nek, mulai saat ini aku akan melupakan Tuhan kalian itu.”
Rasa marah, sakit, luka
dan kecewa menyelimuti hatiku.Kuputuskan untuk tinggal menetap
diperantauan.Berjuang keras dalam kesendirian, berusaha menyelesaikan
kuliah.Aku berhenti beribadah, berhenti berdo’a dan berhenti bersyukur.Kutinggalkan
Tuhan yang sering diperkenalkan Kakek kepadaku 24 tahun silam.
Do’a Iftitah yang berhasil kuhafal saat
usiaenam tahun sudah kulupa, entah kalimat Musliminyang
lebih dulu ataukah Musrykiin, entah Wa Mamaatii dulu ataukah Wa Mahyaya. Begitupun dengan Do’a Tahiyyatakhir mungkinkalimatAssalaamu’alainaalebih dulu ataukah Assalaamu’alaika. Entahlah, Aku lupa.
Senja sore itu sangat
indah, membuatku tiba-tiba merindukan mereka, mereka yang berusaha
kulupakan.Aku menatap langit.Mencoba melukis wajah Nenek, Kakek dan Tante Icha
disana.Namun, Kejadian-kejadian menyakitkan itu terpampang dihadpanku,bagai
film yang diputar kembali dengan layar 3D, Sakit.Nyeri itu kembali menggerogoti
jiwaku, Akumembenamkan wajah diantara kedua lututku, menangis terisak.“Aku
merindukan kalian, sangat-sangat merindukan kalian.”
“Kakak menangis?” suara
anak kecil itu mengagetkanku
Aku memandangnya, usianya mungkin
sekitar 7 tahun, wajahnya manis hanya saja penuh debu, pakaiannya lusuh,
rambutnya acak-acakan. ditangannyaada sebuah kantong plastik besar berisi
botol-botol bekas.
“Iya Dek, Kakak lagi
rindu sama keluarga kakak yang jauh.” bisikku sambil mengusap airmata.
Dia kemudian duduk
disampingku, “Memangnya mereka tinggal dimana kak.”
Aku mengusap wajah,
menarik nafas pela-pelan, “Jauh Dek, sangat jauh.” jawabku datar.“Adek kelas
berapa?”aku berusaha mengalihkan pembicaraan, untuk apa bercerita pada anak
kecil, Toh dia tidak mengerti arti
kehilangan dan rasa sakit.
“Tidak sekolah Kak, Ibu
dan Ayah meninggal saat aku masih kecil. Akutinggal sendirian, mengumpulkan
botol-botol bekas untuk dijual buat makan Kak.” Jawabnya polos
Aku terdiam sejenak.tidak mengira
hidupnya lebih sulit dariku.“Adik tidak sedih?Tidak marah pada Tuhan?”
Ia terseyum,
memperbaiki anak rambut yang menutupi matanya. “untuk apa kak? Adek pernah
dengar ceramah dimasjid bahwa orang-orang yang diuji Tuhan itu adalah
orang-orang yang disayangi-Nya, didunia ini hanya tempat sementara, akanada
kehidupan abadi selanjutnya. Jika kita sabar dan ikhlas, selalu mendoakan Ayah
dan Ibu, kelak kita akan dipertemukan kembali diakhirat nanti. Makanya, adek
berusaha untuk selalu berdoa buat Ayah dan Ibu, berusaha menguping
bacaan-bacaan sholat dibalik tembok sekolah Madrasah, karna adek ingin sekali
bertemu dengan Ayah dan Ibu. Adek ingin tinggal dengan ayah dan Ibu
selama-lamanya dikehidupan selanjutnya nanti.”
Penjelasan Adik itu
mengajarkanku sesuatu yang sangat berharga,aku malu pada diri sendiri,
seharusnya aku lebih tau cara bersyukur dan mengikhlaskan sesuatu.Aku menangis
terisak.Tangan mungilnya menyentuh pundakku,berusaha menenangkan.Adzan Maghrib
berkumandang, Adik itu menghilang diujung jalan.
Mulai senja itu, aku
memutuskan untuk kembali mencintai Tuhan.kuperbaiki kembali bacaan sholatku,
menangis dalam sujud-sujud panjang diatas sejadah disepertiga malam,
kutumpahkan segala keluh kesah yang kurasakan.
“Doa-doa yang kau kirim
setiap waktu telah menjadi penerang bagi rumah kami disini.Terimakasih Nak,
jangan pernah tinggalkan sholat.” pesan kakek dalam mimpiku.
“Maafkan Aku Tuhan”!
***






0 komentar:
Posting Komentar