Selasa, 07 April 2015

MAAFKAN AKU TUHAN



Siapa yang bisa menjelaskan arti perpisahan? Saat orang-orang yang kita cintai tak lagi bersama kita,saat sosok yang kita bangga-banggakan telah memilih untuk pergi.Rasa  Kecewa, sakit, marah, ingin memberontak, tapi pada siapa?
Aku hanya mempunyai tiga orang terpenting dalam
hidup ini.Nenek, Kakek dan Tante Ica.Ayah dan Ibu?aku tidak tau itu makhluk seperti apa, wajah dan rupanya tak pernah terlintas.Bahkan nama itu hanya kudengar dari teman-teman sepermainanku.
Kakek adalah sosok pendidik yang baik, beliau sangat dihormati dikampung, selalu menanamkan nilai-nilai agama semenjak aku kecil.Kakek adalah pejuang dimedan perang pada masa penjajahan Belanda dulu.Kakek adalah seorang yang pandai,tidak pernah marah,selalusholat tepat waktu, hebatnya lagi kakek bisa menghatamkan Al-Quran dalam waktu tiga hari.
Nenek adalah seorang yang sangat penyayang,rela terbakar matahari bersama kakek dilautan demi mencari ikan untuk membiayai sekolahku.Nenek tidak akan bisa makan sendirian tanpa kehadiranku, selalu menunggu jam pulang sekolah untuk makan bersama.
Tante Ica adalah seorang yang rela mengorbankan masa mudanya untuk merawatku tanpa mengeluh sedikitpun. Tante Ica akan marah besar jika ada anak-anak yang mengolok-olokku tidak memiliki Ayah dan Ibu.
Disamping itu, aku adalah anak yang patuh dan taat,rajin sekolah, rajin  sholat dan mengaji, selalu dapat ranking dikelas. Tumbuh dalam kederhanaan yang mewah.Punya orang-orang terhebat yang sangat menyayangiku.
Siapa yang mampu menjelaskan arti luka?
Saat sosok kakek yang sangat kubanggakan menjadi diam, nafasnya terhenti, tubuhnya kaku.kucoba membangunkannya, namun tak ada jawaban. Aku menangis, berteriak, tapi kakek tetap tidak mau mendengar suaraku.Kakek pergi menghadap Ilahi saat usiaku tiga belas tahun.
Aku masih mempercayai-Mu Tuhan, perpisahan yang menyakitkan adalah bentuk kasih sayang-Mu.Aku masih mepercayai-Mu, dengan semua ilmu agama yang diajarkan kakek semasa hidupnya.
Berat rasanya meninggalkan Nenek dan Tante Ica saat kuutarakan niat untuk kuliah diluar daerah.Aku harus menjalankan wasiat kakek.“Sesulit apapun keadaan, jangan pernah berhenti menuntut ilmu Nak!”
Siapa yang mampu mengartikan rasa sakit?
Saat kuterima kabar Tante Ica tiba-tiba dilarikan ke ICU, mendadak koma, Dokter tidak mampu menangani penyakitnya?bukankah itu sudah sangat gawat?bukakah zaman sudah serba canggih?bukankah peralatan medis sudah sangat lengkap?  Bukankah kata Kakek Tuhan mengirimkan penyakit beserta obatnya?.Tante Ica pergi menyusul Kakek.Bahkan Tuhan tidak mengijinkanku bertemu dengannya, saat tiba dikampung Tante Ica sudah dimakamkan.
Sampai saat ini aku masih berusaha mempercayai Tuhan.Kata kakek Tuhan benar-benar sayang kepada umat-Nya yang diberikan cobaan.Aku semakin rajin beribadah, mendoakan Neneksatu-satunya yang kumiliki sehat wal’ afiat.Aku terpaksa harus kembali keperantauan, semester depan adalah ujian akhir untuk meraih gelar sarjana.Berat rasanya meninggalkan Nenek.
Siapa yang bisa menjelaskan arti kehilangan?
Saat Nenek dikabarkan sakit.Aku berusaha pulang hari itu juga, kukemasi barang-barang seperlunya, aku tidak mau menyesal untuk yang kesekian kalinya.Saat adzan Ashar berkumandang sebuah pesan singkat kuterima dilayar Hp, Nenek telah pergi menyusul, Kakek dan Tante Ica.Sekali lagi Tuhan tidak mengijinkanku bertemu dengan Nenek, Bahkan airmata darahpun takkan bisa menjelaskan apa yang kurasakan saat ini.
Aku marah, marah sekali pada-Mu Tuhan.Inikah bukti kasih sayang-Mu kepadaku? Aku selalu menjalankan apa yang-Kau perintahkan, menjauhi semua hal-hal yang Engkau larang, tapi kenapa Engkau mengam bil semua orang-orang yang aku sayangi, kenapa bukan orang-orang yang sering mabuk-mabukan, penjudi atau pencuri, kenapa Tuhan? Kenapa?
Aku masih terdiam didepan pusara Nenek,tak mampu menangis lagi.Mungkin air mataku sudah habis.Bahkan kalaupun aku menagis berdara-darah Kau takkan mengembalikan mereka.
“Maafkan aku Nenek, kakek, Tante icha.Tuhan yang kalian bangga-banggakan telah memisahkan kita, maafkan aku Nek, mulai saat ini aku akan melupakan Tuhan kalian itu.”
Rasa marah, sakit, luka dan kecewa menyelimuti hatiku.Kuputuskan untuk tinggal menetap diperantauan.Berjuang keras dalam kesendirian, berusaha menyelesaikan kuliah.Aku berhenti beribadah, berhenti berdo’a dan berhenti bersyukur.Kutinggalkan Tuhan yang sering diperkenalkan Kakek kepadaku 24 tahun silam.
Do’a Iftitah yang berhasil kuhafal saat usiaenam tahun sudah kulupa, entah kalimat Musliminyang lebih dulu ataukah Musrykiin, entah Wa Mamaatii dulu ataukah Wa Mahyaya. Begitupun dengan Do’a Tahiyyatakhir  mungkinkalimatAssalaamu’alainaalebih dulu ataukah Assalaamu’alaika. Entahlah, Aku lupa.
Senja sore itu sangat indah, membuatku tiba-tiba merindukan mereka, mereka yang berusaha kulupakan.Aku menatap langit.Mencoba melukis wajah Nenek, Kakek dan Tante Icha disana.Namun, Kejadian-kejadian menyakitkan itu terpampang dihadpanku,bagai film yang diputar kembali dengan layar 3D, Sakit.Nyeri itu kembali menggerogoti jiwaku, Akumembenamkan wajah diantara kedua lututku, menangis terisak.“Aku merindukan kalian, sangat-sangat merindukan kalian.”
“Kakak menangis?” suara anak kecil itu mengagetkanku
Aku memandangnya, usianya mungkin sekitar 7 tahun, wajahnya manis hanya saja penuh debu, pakaiannya lusuh, rambutnya acak-acakan. ditangannyaada sebuah kantong plastik besar berisi botol-botol bekas.
“Iya Dek, Kakak lagi rindu sama keluarga kakak yang jauh.” bisikku sambil mengusap airmata.
Dia kemudian duduk disampingku, “Memangnya mereka tinggal dimana kak.”
Aku mengusap wajah, menarik nafas pela-pelan, “Jauh Dek, sangat jauh.” jawabku datar.“Adek kelas berapa?”aku berusaha mengalihkan pembicaraan, untuk apa bercerita pada anak kecil, Toh dia tidak  mengerti arti kehilangan dan rasa sakit.
“Tidak sekolah Kak, Ibu dan Ayah meninggal saat aku masih kecil. Akutinggal sendirian, mengumpulkan botol-botol bekas untuk dijual buat makan Kak.” Jawabnya polos
Aku terdiam sejenak.tidak mengira hidupnya lebih sulit dariku.“Adik tidak sedih?Tidak marah pada Tuhan?”
Ia terseyum, memperbaiki anak rambut yang menutupi matanya. “untuk apa kak? Adek pernah dengar ceramah dimasjid bahwa orang-orang yang diuji Tuhan itu adalah orang-orang yang disayangi-Nya, didunia ini hanya tempat sementara, akanada kehidupan abadi selanjutnya. Jika kita sabar dan ikhlas, selalu mendoakan Ayah dan Ibu, kelak kita akan dipertemukan kembali diakhirat nanti. Makanya, adek berusaha untuk selalu berdoa buat Ayah dan Ibu, berusaha menguping bacaan-bacaan sholat dibalik tembok sekolah Madrasah, karna adek ingin sekali bertemu dengan Ayah dan Ibu. Adek ingin tinggal dengan ayah dan Ibu selama-lamanya dikehidupan selanjutnya nanti.”
Penjelasan Adik itu mengajarkanku sesuatu yang sangat berharga,aku malu pada diri sendiri, seharusnya aku lebih tau cara bersyukur dan mengikhlaskan sesuatu.Aku menangis terisak.Tangan mungilnya menyentuh pundakku,berusaha menenangkan.Adzan Maghrib berkumandang, Adik itu menghilang diujung jalan.
Mulai senja itu, aku memutuskan untuk kembali mencintai Tuhan.kuperbaiki kembali bacaan sholatku, menangis dalam sujud-sujud panjang diatas sejadah disepertiga malam, kutumpahkan segala keluh kesah yang kurasakan.
“Doa-doa yang kau kirim setiap waktu telah menjadi penerang bagi rumah kami disini.Terimakasih Nak, jangan pernah tinggalkan sholat.” pesan kakek dalam mimpiku.
 “Maafkan Aku Tuhan”!


***

0 komentar:

Posting Komentar