Selasa, 07 April 2015

KUTUNGGU LAMARANMU SETELAH KAU WISUDA



Pada hakikatnya wanita mendambakan sebuah pernikahan, entah yang mewah ataupun yang sederhana. menyempurnakan separuh agama, membangun rumah tangga yang sakinah, punya suami sholeh dan anak-anak yang lucu.
Kata orang tua-tua, bulan ini adalah bulan yang sangat baik untuk melangsungkan pernikahan. Tak heran pesta pernikahan dimana-mana. Gedung pernikahan disiapkan, Toko-toko yang menjual berbagai macam jenis kain kebaya ramai dikunjungi, tempat percetakan undangan yang
semula sepi kini dipadati pengunjung.Fotograferterbaik sibuk menentukan lokasi foto prewedding, tak kalah sibuk dengan pegawai catering mempersiapkan beberapa jenis menu makanan.
Calon pengantin mulai dipingit, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh ini, tidak boleh itu.berbagai ritual adat mulai dilakukan,Seisi rumah dipenuhi wajah-wajah bahagia, gelak tawa riang terdengar disetiap sudut ruangan. itulah sekilas persiapan pernikahan pada umumnya.
Semua wanita mendambakan sebuah pernikahan, begitupun dengan Rianty. Ara sahabatnya, baru saja mengantar undangan pernikahan salah satu teman mereka dibangku kuliah dulu. Ini adalah undangan ke lima yang ia terima minggu ini.
Lagi-lagi iabertengkardengan hatinya.Meyakinkan diri untuk menghadiri undangan tersebut. Setidaknya ia harus mempersiapkan telinga dan perasaan yang kuat saat diserang dengan pertanyaan “Kapan Nikah?”, “Kapan Nyusul?”, “Rencananya kapan nih, keburu tua lo?”. Pertanyaan yang selalu sukses membuat nafsu makannya lenyap seketika.
Dihadapannya duduk seorang lelakiberalis tebal, matanya tajam,rahangnya kokoh, tegas dan pekerja keras.Lelaki yang berhasil merebut seluruh hatinya, lelaki yang rela berhenti merokok demi dirinya, lelaki yang tidak akan fokus bekerja bila Rianty marah. Namanya Rian.
Rian bekerja disalah satu Sekolah IslamNegeri dikota ini,disamping itu ia juga sibuk kuliah. Ini adalah tahun kedelapannya dikampus. Bulan depan ia akan wisuda, Inshaallah, semoga dipermudah. Do’a yang selalu dipanjatkan Rianty untuknya.
Waktu menunjukkan pukul 19:30 menit, mereka tengah duduk dibawahpayung yang disediakan oleh pedangang kaki lima.pengunjung taman mulai ramai, terlihat beberapa anak balita sedang memperebutkan ayunan disudut taman, muda-mudi sedang asyik berfoto denganbackground air mancur, penjual balon gas mulai dikerumuni anak-anak,kerlap-kerlip lampu odong-odong memeriahkan suasana taman malam itu.
Rianty mengusap wajahnya yang tidak berkeringat,sesekali berdehem. Rian sedang asyik bermain Game di Hp-nya.Rianty ingin menanyakan sesuatunamun semuanya seperti tertahan ditenggorokan. Apa salahnya mencoba. Bismillah, ia memberanikan diri.
“An, ka…kapan rencana kita menikah?” bisiknya dengan suara terbata.
Rian meletakkan Hp-nya, wajar jika Rianty menanyakan hal itu, wajar jika ia cemas melihat teman-temannya sudah memiliki pendamping hidup. Hubungan mereka hampir berusia delapan bulan. Rianmemandangi wajahnya dalam-dalam, menatapnya lembut.
“Ty, kan sudah pernah dibahas kemarin” jawabnya dengan nada rendah. mohon bersabarlah sedikit, Kalau semua urusan kampus sudah benar-benar selesai aku akan datang menemui keluargamu. Sekarang ini aku butuh dukunganmu. Setelah itu kita akan sama-sama menuju mimpi kita.”
“Tapi sampai kapan? Aku tidak mau pacaran lama-lama, teman-teman sekelasku pada nikah semua An, aku malu kalau mesti ditanya kapan. Jawabnya selalu inshaallah.” Bantah Rianty mulai kesal
“Sayang, nikah itu bukan trend. Nikah itu syariat agama, nikah itu sunnah, ibadah. butuh kesiapan dan pemahaman. Nikah itu menyatukan perbedaan, perbedaan Suku dan budaya kita. Pleace, bersabarlah sedikit.”
“Aku tidak mau dengar ceramah kamu! Aku mau pulang! Sekarang!”
Diperjalanan pulang tak ada yang berani membuka suara. Keduanya tenggelam dengan angan masing-masing. Rianty yang sensitive, Rian yang sibuk memikirkan cara agar Rianty tidak marah lagi. Kalaupun tidak berhasil maka ia harus siap didiamkan selama beberapa hari.

“Nikah itu perjanjian yang sakral yang menuntut pertanggungjawaban setelah menikah. Maka, jika engkau menyatakan siap menikah, itu artinya kau juga siap menanggung segala resiko usai nikah.”

Mata Rianty mulai berkaca saat membaca salah satu paragraf dari buku “The Perfect Muslimah” karangan Ahmad Rifa’i Rif’an. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, ia teringat akan penjelasan Rian malam itu.
“Ty, Rian mau pindah tugas keluar kota. Kalau kamu memang ingin mengakhiri semuanya bicaralah baik-baik. Setidaknya  ucapkan salam perpisahan. Jangan diam seperti ini. jam 4 sore nanti dia berangkat.” Jelas Ara panjang lebar sambil memperbaiki letak kacamatanya.
Tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap, gerimis mulai turun membasahi bumi.Setelah hampir setengah jam meyakinkan diri, akhirnya Rianty memutuskan untuk menyusul Rian di terminal.
Rianty sibuk mencari-cari sosok Rian, dari kejauhan ia bisa mengenalinya. Rian yang waktu itu mengenakan jaket hitam Germany kesayangannya, tengah sibuk memasukkan barang-barang kedalam bagasi mobil yang akan ditumpanginya.
“An…!” Rianty mencoba memberanikan diri
“Ty, kamu kenapa hujan-hujanan?” sambil melangkah mendekatinya
“Aku minta maaf atas kejadian kemarin, seharusnya aku tidak perlu marah-marah, seharusnya aku mendengar penjelasanmu.”
“Tidak apa-apa,Sekarang ini aku cuma butuh dukunganmu. Setelah semua urusan kampus selesai kita akan sama-sama kerumah orang tuamu.” Jelasnya meyakinkan.
“Janji?” Rianty mengacungkan jari kelingkingnya
Rian tersenyum dan mengangguk, “Janji sayang”
“Kalau  begitu, kutunggu lamaranmu setelah kau wisuda! Tapi bisakah kau membatalkan tugas untuk pindah keluar daerah?”
“Pindah? Tugas luar daerah? Maksud kamu? Aku Cuma mengantar keluarga yang berlibur disini” Rian sepertinya bingung
“Jadi….?” Wajah Rianty memerah menahan malu
Diseberang jalan, Ara sahabatnya yang mengenakan payung berwarna kuning melambaikan tangan, tertawa penuh kemenangan.


***

0 komentar:

Posting Komentar