Pada hakikatnya wanita mendambakan sebuah pernikahan, entah
yang mewah ataupun yang sederhana. menyempurnakan separuh agama, membangun
rumah tangga yang sakinah, punya suami sholeh dan anak-anak yang lucu.
Kata orang tua-tua, bulan ini adalah bulan yang sangat baik
untuk melangsungkan pernikahan. Tak heran pesta pernikahan dimana-mana. Gedung
pernikahan disiapkan, Toko-toko yang menjual berbagai macam jenis kain kebaya
ramai dikunjungi, tempat percetakan undangan yang
semula sepi kini dipadati pengunjung.Fotograferterbaik sibuk menentukan lokasi foto prewedding, tak kalah sibuk dengan pegawai catering mempersiapkan beberapa jenis menu makanan.
semula sepi kini dipadati pengunjung.Fotograferterbaik sibuk menentukan lokasi foto prewedding, tak kalah sibuk dengan pegawai catering mempersiapkan beberapa jenis menu makanan.
Calon pengantin mulai dipingit,
tidak boleh keluar rumah, tidak boleh ini, tidak boleh itu.berbagai ritual adat
mulai dilakukan,Seisi rumah dipenuhi wajah-wajah bahagia, gelak tawa riang
terdengar disetiap sudut ruangan. itulah sekilas persiapan pernikahan pada
umumnya.
Semua wanita mendambakan sebuah pernikahan, begitupun dengan
Rianty. Ara sahabatnya, baru saja mengantar undangan pernikahan salah satu teman
mereka dibangku kuliah dulu. Ini adalah undangan ke lima yang ia terima minggu
ini.
Lagi-lagi iabertengkardengan hatinya.Meyakinkan diri untuk
menghadiri undangan tersebut. Setidaknya ia harus mempersiapkan telinga dan
perasaan yang kuat saat diserang dengan pertanyaan “Kapan Nikah?”, “Kapan
Nyusul?”, “Rencananya kapan nih, keburu tua lo?”. Pertanyaan yang selalu sukses
membuat nafsu makannya lenyap seketika.
Dihadapannya duduk seorang lelakiberalis tebal, matanya
tajam,rahangnya kokoh, tegas dan pekerja keras.Lelaki yang berhasil merebut
seluruh hatinya, lelaki yang rela berhenti merokok demi dirinya, lelaki yang
tidak akan fokus bekerja bila Rianty marah. Namanya Rian.
Rian bekerja disalah satu Sekolah IslamNegeri dikota ini,disamping
itu ia juga sibuk kuliah. Ini adalah tahun kedelapannya dikampus. Bulan depan
ia akan wisuda, Inshaallah, semoga dipermudah. Do’a yang selalu dipanjatkan Rianty
untuknya.
Waktu menunjukkan pukul 19:30 menit, mereka tengah duduk dibawahpayung
yang disediakan oleh pedangang kaki lima.pengunjung taman mulai ramai, terlihat
beberapa anak balita sedang memperebutkan ayunan disudut taman, muda-mudi
sedang asyik berfoto denganbackground
air mancur, penjual balon gas mulai dikerumuni anak-anak,kerlap-kerlip lampu odong-odong memeriahkan suasana taman
malam itu.
Rianty mengusap wajahnya yang tidak berkeringat,sesekali
berdehem. Rian sedang asyik bermain Game
di Hp-nya.Rianty ingin menanyakan sesuatunamun semuanya seperti tertahan
ditenggorokan. Apa salahnya mencoba. Bismillah, ia memberanikan diri.
“An, ka…kapan rencana kita menikah?” bisiknya dengan suara
terbata.
Rian meletakkan Hp-nya, wajar jika Rianty menanyakan hal
itu, wajar jika ia cemas melihat teman-temannya sudah memiliki pendamping
hidup. Hubungan mereka hampir berusia delapan bulan. Rianmemandangi wajahnya
dalam-dalam, menatapnya lembut.
“Ty, kan sudah pernah dibahas kemarin” jawabnya dengan nada
rendah. mohon bersabarlah sedikit, Kalau semua urusan kampus sudah benar-benar
selesai aku akan datang menemui keluargamu. Sekarang ini aku butuh dukunganmu.
Setelah itu kita akan sama-sama menuju mimpi kita.”
“Tapi sampai kapan? Aku tidak mau pacaran lama-lama, teman-teman
sekelasku pada nikah semua An, aku malu kalau mesti ditanya kapan. Jawabnya
selalu inshaallah.” Bantah Rianty mulai kesal
“Sayang, nikah itu bukan trend.
Nikah itu syariat agama, nikah itu sunnah, ibadah. butuh kesiapan dan pemahaman.
Nikah itu menyatukan perbedaan, perbedaan Suku dan budaya kita. Pleace, bersabarlah sedikit.”
“Aku tidak mau dengar ceramah kamu! Aku mau pulang!
Sekarang!”
Diperjalanan pulang tak ada yang berani membuka suara.
Keduanya tenggelam dengan angan masing-masing. Rianty yang sensitive, Rian yang sibuk memikirkan cara agar Rianty tidak marah
lagi. Kalaupun tidak berhasil maka ia harus siap didiamkan selama beberapa
hari.
“Nikah itu perjanjian yang sakral yang
menuntut pertanggungjawaban setelah menikah. Maka, jika engkau menyatakan siap
menikah, itu artinya kau juga siap menanggung segala resiko usai nikah.”
Mata Rianty mulai berkaca saat membaca salah satu paragraf
dari buku “The Perfect Muslimah”
karangan Ahmad Rifa’i Rif’an. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, ia teringat
akan penjelasan Rian malam itu.
“Ty, Rian mau pindah tugas keluar kota. Kalau kamu memang
ingin mengakhiri semuanya bicaralah baik-baik. Setidaknya ucapkan salam perpisahan. Jangan diam seperti
ini. jam 4 sore nanti dia berangkat.” Jelas Ara panjang lebar sambil
memperbaiki letak kacamatanya.
Tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap, gerimis mulai
turun membasahi bumi.Setelah hampir setengah jam meyakinkan diri, akhirnya Rianty
memutuskan untuk menyusul Rian di terminal.
Rianty sibuk mencari-cari sosok Rian, dari kejauhan ia bisa
mengenalinya. Rian yang waktu itu mengenakan jaket hitam Germany kesayangannya, tengah sibuk memasukkan barang-barang
kedalam bagasi mobil yang akan ditumpanginya.
“An…!” Rianty mencoba memberanikan diri
“Ty, kamu kenapa hujan-hujanan?” sambil melangkah
mendekatinya
“Aku minta maaf atas kejadian kemarin, seharusnya aku tidak
perlu marah-marah, seharusnya aku mendengar penjelasanmu.”
“Tidak apa-apa,Sekarang ini aku cuma butuh dukunganmu.
Setelah semua urusan kampus selesai kita akan sama-sama kerumah orang tuamu.”
Jelasnya meyakinkan.
“Janji?” Rianty mengacungkan jari kelingkingnya
Rian tersenyum dan mengangguk, “Janji sayang”
“Kalau begitu,
kutunggu lamaranmu setelah kau wisuda! Tapi bisakah kau membatalkan tugas untuk
pindah keluar daerah?”
“Pindah? Tugas luar daerah? Maksud kamu? Aku Cuma mengantar
keluarga yang berlibur disini” Rian sepertinya bingung
“Jadi….?” Wajah Rianty memerah menahan malu
Diseberang jalan, Ara sahabatnya yang
mengenakan payung berwarna kuning melambaikan tangan, tertawa penuh kemenangan.
***






0 komentar:
Posting Komentar