Setahun bukanlah
waktu yang singkat untuk perjalanan cinta Aan dan Ecy, dengan berbagai macam
warna-warni cobaan dalam hubungan mereka. apalagi untuk meyakinkan keluarga Ecy
atas niat baik Aan yang akan segera melamarnya. Ecy adalah anak bungsu dari
keluarga sederhana, namun kakak sulungnya ingin menjadikan dia seseorang yang
sukses. Setelah menyelesaikan kuliahnya disalah satu universitas swasta di
Gorontalo bukan menjadi ukuran kesuksesan bagi kakak sulungnya. Kakaknya menginginkan
Ecy mempunyai pekerjaan tetap, yang kelak
bisa menjamin masa depannya,dengan demikian kakaknya akan mengizinkannya untuk memikirkan hal-hal yang lain termasuk menikah.
bisa menjamin masa depannya,dengan demikian kakaknya akan mengizinkannya untuk memikirkan hal-hal yang lain termasuk menikah.
Sekarang Ecy telah
bekerja disalah satu perusahaan swasta, meskipun hanya sebagai karyawan
kontrak. Dengan keyakinan hatinya Ecy mencoba membicarakan tentang niat baik
Aan kepada keluarganya, Alhamdulillah kakaknya menyambut baik dan akan segera
mempersiapkan diri menanti kedatangan keluarganya Aan ke Sulawesi Tengah. Namun
cobaan cinta mereka tak sampai disini saja, ternyata Aan tidak bersedia datang
kerumah Ecy, Aan dan Keluarganya berniat melaksankan pernikahan mereka di
Gorontalo. Jelaslah Ecy dengan tegas menolak mentah-mentah permintaan Aan dan
keluarganya.
“Kalau kamu benar-benar
mencintaiku kamu tidak akan beralasan konyol, alasan takut naik kapal, itu
bukan alasan yang masuk akal An. Aku sudah berjuang untuk menjelaskan segalanya
terhadap keluargaku sampai akhirnya mereka menyetujui niat baik kita tapi kamu
tidak menghargai itu. Dimana-mana pernikahan itu akan dilaksanakan dirumah wanita
An, bagaimana lagi aku harus menjelaskan semuanya pada keluargaku…???”Isakan Ecy
mulai terdengar
“Bukan begitu
maksudku sayang, Aku benar-benar takut naik kapal dan kamu tau sendirikan kalau
Mama sakit-sakitan. Tolong mengerti, Aku ingin bahagiakan Mama, Aku ingin
melihat Mama bahagia dihari pernikahan kita…”
“Cukup An, aku tidak
mau dengar alasan kamu lagi. Percuma kita bersama selama setahun kalau kamu
tetap saja egois, aku kecewa sama kamu. Aku mohon jangan pernah temui aku lagi
dan ingat satu hal, aku juga ingin membahagiakan keluargaku…” Sambil berlalu
pergi
Malam itu juga Ecy
memutuskan untuk pulang kekampung halamannya. Sementara Aan menyesali semua
keputusannya.Dia telah membiarkan wanita yang dicintainya pergi begitu saja
tanpa bisa mencegahnya, wanita yang hampir setiap hari selalu bersamanya,
wanita yang selalu terlibat dalam setiap jengkal cerita kehidupannya.
Tiga bulan terpisah
dari Ecy membuat kehidupan Aan terasa hampa, semua aktifitas terhambat, Aan
kebanyakan mengurung diri dikamar, hampir tak ada lagi senyuman diwajahnya,Aan
sangat merindukan Ecy.
Siang itu Aan hanya
bisa memandang foto-foto kebersamaan mereka lewat Laptop kesayangannya. Tanpa
sengaja Aan membuka folder film Bollywood favorit Ecy. Tiba-tiba saja Aan
teringat kata-kata Ecy dulu…
“Sayang, kalau kamu
sudah nonton film Bollywood “2 States” kamu pasti akan mengerti artinya
memperjuangkan cinta dan kamu pasti akan memperjuangkan cinta kita, kita akan
berjuang sama-sama…”
Aanpun kemudian
memutar film Bollywood yang Ecy ceritakan dengan mata berbinar-binar dulu.
Tanpa sadar airmata membanjiri kedua pipinya yang mulai terlihat tirus. Aan
akhirnya sadar akan semua keegoisannya. Ternyata cobaan cinta mereka belum sebanding
dengan cobaan yang ada di film itu. Film itu benar-benar memberi pelajaran
besar bagi Aan.
Butuh waktu satu jam
untuk menjelaskan semuanya kepada keluarganya, pukul 17:00 Aan dan keluarganya
berangkat menuju Pelabuhan Ferry Gorontalo. Aan tak sabar lagi ingin bertemu
dengan Ecy.
Setelah sampai
keesokan harinya Aan berusaha mencari tau alamat rumah Ecy. Ini adalah pertama
kalinya Aan menginjakkan kaki dikampung halaman Ecy. Alhamdulillah ada
seseorang yang kenal dekat dengan kakak Ecy dan bersedia mengantarkan mereka
kerumahnya.
Ecy yang tengah
berkumpul dengan keluarga dan bermain dengan keponakannya terkejut melihat
kedatangan Aan dan keluarganya. Aan lelaki yang sangat dicintai dan
dirindukannya selama tiga bulan terakhir ini.
Aan kemudian meminta
maaf dihadapan keluarganya Ecy dan menjelaskan segala niat baiknya datang
kembali untuk menikahi Ecy. Setelah musyawarah dilakukan akhirnya akad nikah
dilaksanakan esok harinya. Akad nikah yang sederhana di Masjid “Libasut Taqwa”
sesuai dengan impian Ecy.
Ecy dan Aan tidak
menginginkan kemewahan dalam pernikahan, yang terpenting bagi mereka pernikahannya
telah tercatat sah dimata Agama dan Negara.
“Sayang,
aku berjanji akan menjadi suami yang terbaik untukmu. Untuk itu, ku seberangi lautan demi mendapatkan cintamu kembali…”
***






0 komentar:
Posting Komentar