Senin, 06 April 2015

GANTUNGAN KUNCI PERAHU LAYAR

         



             Pagi ini sangat cerah, angin berhembus dengan lembut melalui jendela kaca yang sudah terbuka sejak shubuh tadi, seolah mengabari gundah yang menyelimuti hati. Pagi ini juga kuingin awali dengan senyuman dan secercah harapan. Hari ini dia kembali lagi ke Gorontalo, setelah cuti kerja selama seminggu di Surabaya untuk menengok orang tuanya atau mungkin juga menengok dia, kekasihnya yang sudah menjadi tunangannya.
          Dia adalah lelaki yang kukagumi sejak awal bulan September 2013 lalu sampai sekarang, walaupun aku tau tak ada ruang kosong lagi dihatinya. Semata-mata hanya ada Allah, keluarga dan kekasihnya, namun kubiarkan
cinta itu tumbuh dihatiku.
          Sosoknya yang pendiam, dingin terhadap wanita dan perkataannya yang selalu bijaksana membuatku semakin penasaran. Perlahan dia mengobati kegundahanku tentang masa lalu, dia menyemangatiku untuk segera menyelesaikan skripsiku yang tertunda, dia selalu mendukungku dalam segala hal, dia yang membuatku kembali dekat dengan Allah.
        Di 1/3  malam yang tenang, saat semua mahluk terbuai dengan mimpi indahnya, Aku selalu berdo’a agar kelak dapat bersanding dengannya, menjadi pelengkap tulang rusuknya, menggelar sajadah dibelakangnya, bersujud disepenggal waktu yang sama, mendengarkannya melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an dan mengamini setiap do’a yang terucap darinya.
       “Maaf, aku tidak sempat membelikanmu oleh-oleh, hanya ini yang sempat kubawakan untukmu…, InsyaAllah pernikahanku tanggal 03 Mey bulan depan.” katanya sambil meletakkan sesuatu diatas meja kerjaku dan berlalu pergi.
      Seakan tak percaya dengan apa yang aku dengar, aku terdiam hingga beberapa menit,  menggenggam erat sesuatu yang diberikannya, berusaha menenangkan gemuruh dihatiku, berusaha mengendalikan kristal bening agar tak membentuk sungai kecil dipipiku.
Sebuah gantungan kunci berbentuk botol, berisikan sebuah perahu layar kecil yang dibuat sedemikian sederhana. Sebuah perahu layar yang akan siap untuk berlayar mengarungi bahtera rumah tangga. tepat dibulan kedelapan mencintaimu, dengan iklas ku melepaskan jangkar cinta yang berlabuh dihatiku, aku ikhlas melepasmu untuk dia yang benar-benar tepat menjadi pendampingmu. Aku yakin rencana Allah lebih indah dari segalanya.
      “Beri hamba kekuatan Ya-Rabb, Jadikan ia keluarga yang sakinah… Amin

                                                                    *****

0 komentar:

Posting Komentar