Selasa, 07 April 2015

TANGGAL 24 JUNI



Sore itu aku sedang asyik mendengarkan lagu india favoritku, selang beberapa menit terdengar suara salam dari luar. Aku terkejut melihat Rulli adiknya mantan kekasihku. Kupersilahkan dia masuk, namun ia menolak sepertinya terlihat buru-buru. Ia menyodorkan undangan pernikahan berwarna hijau. Hatiku berdetak kencang, mungkinkah dia yang menikah..??? Ya Allah, aku tidak sanggup membacanya.
Seperti tau isi hatiku dia tersenyum dan berkata “Tidak usah tegang, itu bukan pernikahan kakakku. Tapi pernikahanku. Mama dan semua keluarga sangat
berharap kau datang.Mama sangat merindukanmu. Aku permisi dulu, Assalamualaikum…”
Perlahan aku membuka undangan itu, Astagfirullah… pernikahannya tanggal 24 Juni, mendadak memoriku terbang kemasa lalu, seperti kaset yang diputar kembali.
Bulan Juni 2013 saat dia melamarku dan ditolak halus oleh keluargaku dengan alasan Wisudaku sudah didepan mata, alasan pekerjaan, nafkah dan lain-lain. Bulan Juni saat ku katakan alasan itu dia malah tidak mau menerima, bulan Juni aku melihat dia dengan seorang wanita yang kudengar adalah mantan kekasihnya di SMA dulu, mungkin sebagai bukti kekecewaannya padaku, Bulan Juni Ulang Tahunnya, aku mengiriminya kue ulang tahun  dan sepucuk surat perpisahan untuknya. Aku tidak siap jika ternyata hatinya terbagi untuk wanita selain aku.
Meski setelah menerima suratku tak ada protes atau penjelasan apapun darinya. Aku begitu mencintainya, namun mungkin Allah punya rencana lain.Bulan ini genap setahun kejadian itu, namun aku belum bisa melupakannya, setahun aku mendo’akan segala yang terbaik untuknya, setahun aku hanya mengadukan semuanya kepada “Sang Pemilik Hati”.
“Tidak usah datang Ti, kau pasti akan sakit lagi kalau ketemu dia” Protes sahabat dekatku
“Mendingan tidak usah datang Ti, kamu sudah berjuang selama ini buat melupakan dia. Jangan biarkanluka itu berdarah lagi. Oke kalau kamu memang sayang sama keluarganya tapi ingat juga, kamu harus sayang diri kamu. Terutama hati kamu,” Kata sahabatku yang agak lebih bijak
“Tidak usah datang deh… kita semua tidak mau liat kamu menangis lagi karna dia”.
Hufftttt… aku mendesah dalam hati, tak ada satupun yang mengizinkanku untuk datang kesana, aku tidak mau mengecewakan mereka.
Aku memohon petunjuk kepada Allah dalam sholat Tahajjud, apakah aku harus memenuhi undangan itu atau tidak.
“Datanglah Nak, disana ada kebahagiaan yang menatikanmu” Kata seorang Kakek Tua sambil berlalu pergi. Astagfirullah, aku bermimpi. Saat terbangun ternyata aku masih mengenakan mukena. Aku tertidur setelah selesai Sholat Tahajjud tadi.
Malam ini aku memantapkan hatiuntuk menghadiri pesta pernikahan adiknya. Saattiba dipintu masuk adiknya yang nomor tiga menjemputku, aku langsung disambut oleh keluarganya dan duduk diantara mereka. sepasang pengantin yang mengenakan pakaianadat Gorontaloterlihat melambaikan tangan padaku, Aku hanya membalasnya dengan senyuman.mataku menyapu seluruh undangan yang hadir malam itu, aku mencari sosoknya. Tiba-tiba dia lewat di hadapanku, dia yang pernah mengisi hatiku, yang membuatku bahagia dan menderita dalam sekejap. Dia tak sendirian disampingnya terlihat seorang wanita. Wanita yang sama, yang pernah kulihat setahun yang lalu. Mereka mengenakan baju yang sama, Dia menegurku dengan senyuman khasnya. tatapan dan senyumannya masih sama seperti setahun yang lalu. Masih hangat dan teduh. Aku menggigit bibir sambil menggenggam erat tasku, dadaku terasa sesak, mataku perih,. Aku ingin berlari pulang..aku tidak kuat melihatnya.
Setelah selesai acara aku dipaksa keluarganya untuk mampir kerumahnya, mereka semua sedang asyik duduk diteras rumah. Ada beberapa keluarganya yang belum pernah kulihat, mungkindatang dari daerah yang lain. Aku sedikit  agak canggung, namun mereka terlihat sudah sangat mengenalku. Mamanya memelukku dan mencium kedua pipiku. Setelahhendak pamit tiba-tiba dia muncul, wanita itu masih bersamanya. Kemudian dia berlutut dihadapanku, didepan semua anggota keluarganya.
“Ti, Menjelang Bulan Ramadhan ini, Maukah kau menikah denganku, maukah kau menjadi Ma’mumku, Maukah kau menjadi pelengkap tulang rusukku, Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku kelak…???” serasa disambar petir, dadaku bergemuruh mendengar kata-katanya
“Maafkan aku Ti, maafkan segala kesalahanku. Aku sadar telah menyia-nyiakan dirimu, aku ingin menebus semua kesalahanku, aku akan mendatangi keluargamu untuk melamarmu langsung, aku tau tanggal 24 ini adalah hari yang paling buruk untukmu tapi aku akan mengubahnya menjadi hari yang bahagia.itupun kalau aku belum terlambat dan belum ada yang mengisi hatimu, aku ingin kembali bukan sebagai kekasihmu tapi aku kembali ingin menjadi imammu, pendamping yang halal bagimu. Aku mohon berilah kesempatan untukku memperbaiki segalanya. aku sudah lama menunggu hari ini”
Mataku berkaca-kaca, aku memandangi wanita yang masih berdiri disampingnya.
“Terima saja Ti, aku dan dia udah lama memutuskan untuk jadi sahabat. Tak ada yang bisa menggantikan posisimu dihatinya. BajuCouple kami ini hanya semata-mata rencana saja, biar kamu cemburu. Semua sudah disusun sejak lama Ti..”Jelasnya dengan senyuman
Aku menatap sekeliling, Mama yang tersenyum, Ayah, Adik-adiknya, Tante-tantenya dan semua Paman-pamannya… semua tersenyum sambil mengangguk, ternyata semua sudah direncanakan.
Aku menatapnya dia yang masih berlutut dihadapanku… semua bersorak “Terima…Terimaaa…Mauuuuu,..Mauuu…”
Dengan suara bergetar aku menjawab “Maaf, aku tidak bisa…” Semua tiba-tiba menjadi hening
“Aku tidak bisa menolak”. dan airmatakupun tak terbendung lagi…
Yeeeee…..semua bersorak gembira.. kami berdua saling menatap bahagia. Terimakasih Ya Rabb, penantian dan do’a selama setahun tak sia-sia. Kau rubah dia menjadi seseorang yang hebat. Rencana-Mu selalu indah. Terimakasih Ya Allah
Dia akan pergi bersamaku, menemui keluargaku. Dan kita akan menikah dalam waktu yang dekat. Tak ada alasan untuk menunda lagi. Soal rezeki, nafkah dan lain-lain yang dikhawatirkan keluargaku akan menjadi rahasia Allah dan akan menjadi kejutan selanjutnya.
                                                ***

0 komentar:

Posting Komentar