Sore itu aku sedang asyik
mendengarkan lagu india favoritku, selang beberapa menit terdengar suara salam
dari luar. Aku terkejut melihat Rulli adiknya mantan kekasihku. Kupersilahkan
dia masuk, namun ia menolak sepertinya terlihat buru-buru. Ia menyodorkan
undangan pernikahan berwarna hijau. Hatiku berdetak kencang, mungkinkah dia
yang menikah..??? Ya Allah, aku tidak sanggup membacanya.
Seperti tau isi hatiku dia
tersenyum dan berkata “Tidak usah tegang, itu bukan pernikahan kakakku. Tapi
pernikahanku. Mama dan semua keluarga sangat
berharap kau datang.Mama sangat merindukanmu. Aku permisi dulu, Assalamualaikum…”
berharap kau datang.Mama sangat merindukanmu. Aku permisi dulu, Assalamualaikum…”
Perlahan aku membuka undangan
itu, Astagfirullah… pernikahannya tanggal 24 Juni, mendadak memoriku terbang
kemasa lalu, seperti kaset yang diputar kembali.
Bulan Juni 2013 saat dia melamarku dan ditolak
halus oleh keluargaku dengan alasan Wisudaku sudah didepan mata, alasan
pekerjaan, nafkah dan lain-lain. Bulan Juni saat ku katakan alasan itu dia
malah tidak mau menerima, bulan Juni aku melihat dia dengan seorang wanita yang
kudengar adalah mantan kekasihnya di SMA dulu, mungkin sebagai bukti
kekecewaannya padaku, Bulan Juni Ulang Tahunnya, aku mengiriminya kue ulang
tahun dan sepucuk surat perpisahan untuknya.
Aku tidak siap jika ternyata hatinya terbagi untuk wanita selain aku.
Meski setelah menerima suratku tak
ada protes atau penjelasan apapun darinya. Aku begitu mencintainya, namun
mungkin Allah punya rencana lain.Bulan ini genap setahun kejadian itu, namun
aku belum bisa melupakannya, setahun aku mendo’akan segala yang terbaik
untuknya, setahun aku hanya mengadukan semuanya kepada “Sang Pemilik Hati”.
“Tidak usah datang Ti, kau pasti
akan sakit lagi kalau ketemu dia” Protes sahabat dekatku
“Mendingan tidak usah datang Ti,
kamu sudah berjuang selama ini buat melupakan dia. Jangan biarkanluka itu
berdarah lagi. Oke kalau kamu memang sayang sama keluarganya tapi ingat juga,
kamu harus sayang diri kamu. Terutama hati kamu,” Kata sahabatku yang agak
lebih bijak
“Tidak usah datang deh… kita
semua tidak mau liat kamu menangis lagi karna dia”.
Hufftttt… aku mendesah dalam
hati, tak ada satupun yang mengizinkanku untuk datang kesana, aku tidak mau mengecewakan
mereka.
Aku memohon petunjuk kepada Allah
dalam sholat Tahajjud, apakah aku harus memenuhi undangan itu atau tidak.
“Datanglah Nak, disana ada
kebahagiaan yang menatikanmu” Kata seorang Kakek Tua sambil berlalu pergi. Astagfirullah,
aku bermimpi. Saat terbangun ternyata aku masih mengenakan mukena. Aku tertidur
setelah selesai Sholat Tahajjud tadi.
Malam ini aku memantapkan hatiuntuk
menghadiri pesta pernikahan adiknya. Saattiba dipintu masuk adiknya yang nomor
tiga menjemputku, aku langsung disambut oleh keluarganya dan duduk diantara
mereka. sepasang pengantin yang mengenakan pakaianadat Gorontaloterlihat
melambaikan tangan padaku, Aku hanya membalasnya dengan senyuman.mataku menyapu
seluruh undangan yang hadir malam itu, aku mencari sosoknya. Tiba-tiba dia
lewat di hadapanku, dia yang pernah mengisi hatiku, yang membuatku bahagia dan
menderita dalam sekejap. Dia tak sendirian disampingnya terlihat seorang
wanita. Wanita yang sama, yang pernah kulihat setahun yang lalu. Mereka
mengenakan baju yang sama, Dia menegurku dengan senyuman khasnya. tatapan dan
senyumannya masih sama seperti setahun yang lalu. Masih hangat dan teduh. Aku
menggigit bibir sambil menggenggam erat tasku, dadaku terasa sesak, mataku
perih,. Aku ingin berlari pulang..aku tidak kuat melihatnya.
Setelah selesai acara aku dipaksa
keluarganya untuk mampir kerumahnya, mereka semua sedang
asyik duduk diteras rumah. Ada beberapa keluarganya yang belum pernah kulihat,
mungkindatang dari daerah yang lain. Aku sedikit agak canggung, namun mereka terlihat sudah
sangat mengenalku. Mamanya memelukku dan mencium kedua pipiku. Setelahhendak
pamit tiba-tiba dia muncul, wanita itu masih bersamanya. Kemudian dia berlutut
dihadapanku, didepan semua anggota keluarganya.
“Ti, Menjelang Bulan Ramadhan
ini, Maukah kau menikah denganku, maukah kau menjadi Ma’mumku, Maukah kau
menjadi pelengkap tulang rusukku, Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku kelak…???”
serasa disambar petir, dadaku bergemuruh mendengar kata-katanya
“Maafkan aku Ti, maafkan segala
kesalahanku. Aku sadar telah menyia-nyiakan dirimu, aku ingin menebus semua
kesalahanku, aku akan mendatangi keluargamu untuk melamarmu langsung, aku tau
tanggal 24 ini adalah hari yang paling buruk untukmu tapi aku akan mengubahnya
menjadi hari yang bahagia.itupun kalau aku belum terlambat dan belum ada yang
mengisi hatimu, aku ingin kembali bukan sebagai kekasihmu tapi aku kembali ingin
menjadi imammu, pendamping yang halal bagimu. Aku mohon berilah kesempatan
untukku memperbaiki segalanya. aku sudah lama menunggu hari ini”
Mataku berkaca-kaca, aku memandangi wanita yang
masih berdiri disampingnya.
“Terima saja Ti, aku dan dia udah
lama memutuskan untuk jadi sahabat. Tak ada yang bisa menggantikan posisimu
dihatinya. BajuCouple kami ini hanya
semata-mata rencana saja, biar kamu cemburu. Semua sudah disusun sejak lama
Ti..”Jelasnya dengan senyuman
Aku menatap sekeliling, Mama yang
tersenyum, Ayah, Adik-adiknya, Tante-tantenya dan semua Paman-pamannya… semua
tersenyum sambil mengangguk, ternyata semua sudah direncanakan.
Aku menatapnya dia yang masih
berlutut dihadapanku… semua bersorak “Terima…Terimaaa…Mauuuuu,..Mauuu…”
Dengan suara bergetar aku menjawab “Maaf, aku
tidak bisa…” Semua tiba-tiba menjadi hening
“Aku tidak bisa menolak”. dan
airmatakupun tak terbendung lagi…
Yeeeee…..semua bersorak gembira..
kami berdua saling menatap bahagia. Terimakasih Ya Rabb, penantian dan do’a
selama setahun tak sia-sia. Kau rubah dia menjadi seseorang yang hebat.
Rencana-Mu selalu indah. Terimakasih Ya Allah
Dia akan pergi bersamaku, menemui
keluargaku. Dan kita akan menikah dalam waktu yang dekat. Tak ada alasan untuk
menunda lagi. Soal rezeki, nafkah dan lain-lain yang dikhawatirkan keluargaku
akan menjadi rahasia Allah dan akan menjadi kejutan selanjutnya.
***






0 komentar:
Posting Komentar