Aku
adalah cucu kesayangan Nenek, karna aku diasuh dan dibesarkan oleh Nenek
setelah Bunda meninggal dunia 24 Tahun silam. Semua kegiatanku selalu diawasi
nenek bahkan ketika usiaku menginjak 15 tahun aku masih tidur bersama nenek.
Setelah
aku lulus Madrasah Tsanawiyah, aku mengutarakan
niatku untuk melanjutkan study ke Madrasah Aliyah yang letaknya jauh dari Desaku dengan Beasiswa yang ditawarkan oleh pihak sekolah, kemungkinan besar aku harus tinggal diasrama santri. Nenek sangat keberatan, nenek tidak mau berpisah denganku, namun aku berusaha meyakinkan nenek sampai akhirnya dengan berat hati nenek mengizinkanku.
niatku untuk melanjutkan study ke Madrasah Aliyah yang letaknya jauh dari Desaku dengan Beasiswa yang ditawarkan oleh pihak sekolah, kemungkinan besar aku harus tinggal diasrama santri. Nenek sangat keberatan, nenek tidak mau berpisah denganku, namun aku berusaha meyakinkan nenek sampai akhirnya dengan berat hati nenek mengizinkanku.
Tiga
tahun telah berlalu, aku lulus dengan nilai yang memuaskan, nenek sangat bahagia
melihat kedatanganku. Meski aku sering datang disaat liburan sekolah.
“Nenek,
aku ingin kuliah. Aku ingin membahagiakan nenek, aku ingin nenek melihatku
berhasil kelak…”bisikku sambil menyandarkan kepala dibahunya
“Tapi
biayanya dari mana Nak, Kakekmu sudah tua. Nenek ingin kamu disini bersama
nenek. Nenek tidak butuh kebahagiaan yang lain lagi, kau adalah kebahagiaan
terpenting dalam hidup nenek…”
“Nenek
tidak usah khawatir, aku akan cari kerja untuk membiayai kuliahku, aku sudah
dewasa dan nenek harus yakin aku bisa menjaga diri dengan semua doa-doa tulus
dari nenek…”
Aku
tidak sanggup menatap wajah nenek malam itu, tangannya yang keriput, matanya
yang mulai rabun, rambutnya yang sudah memutih, tubunya yang mulai bongkok
termakan usia. Tapi aku harus meraih cita-citaku, aku ingin membuktikan bahwa
nenek telah sukses mendidikku, aku ingin buktikan pada ayahbahwa aku bisa
berhasil tanpanya, Ayah yang lebih memilih pergi meninggalkanku dan bunda demi
wanita lain.
Dengan
berat hati aku berpamitan dengan nenek, air mata memenuhi perpisahan malam itu.
Kapal Ferry yang ku tumpangi perlahan-lahan melepaskan jangkarnya, berlayar
menjauh dari Desaku, berlayar membelah lautan menuju laut Gorontalo.
Alhamdulilllah
atas semua kebaikan Allah dan doa tulus dari nenek aku bisa bekerja disebuah
usaha kecil milik kenalan sahabatku dan aku juga diterima disalah satu Universitas
Swasta.
Tiap
bulannya aku mengirimkan uang buat nenek, baju dan makanan kesukaan nenek. tak
jarang juga kusempatkan waktu menengok nenek. Istimewanya aku adalah obat
paling mujarab bagi nenek, setiap nenek sakit, meski telah minum obat dari dokter
itu takkan berpengaruh bagi kesembuhan nenek tapi dengan kedatanganku nenek
bisa sembuh detik itu juga. Berulang-ulang kali itu terjadi, nenek terlalu sangat
merindukanku.
Tak
terasa kini aku sudah semester tujuh, tinggal satu semester lagi aku akan
wisuda, sampai pada akhirnya aku menerima kabar nenek sakit lagi, aku ingin
sekali pulang tapi malam itu adalah jadwal presentasiku, dan itu adalah
pertemuan terakhir mata kuliah itu.
Aku
mencoba menelpon kakakdirumah berharap ada kabar baik.Dengan kuasa Allah, nenek
yang sudah lima hari koma akhirnya bisa bicara kembali setelah mengetahui aku
menelpon.
“Assalamualaikum
Nek, besok aku pulang nenek. Nenek bertahan ya, kita akan bertemu lagi. Aku akan
bawakan semua makanan kesukaan nenek, kita akan tidur bersama lagi nek, aku
mohon nenek bertahan demi aku…” suara tangisku mulai terdengar
“Waalaikumsalam
Nak, nenek baik-baik saja. Cepatlah pulang. Jangan lama-lama. Nenek
merindukanmu sayang…”suara nenek terdengar sama-samar
Malam
itu aku tidak bisa tidur, kuhabiskan malamku untuk berbicara kepada
Sang-Pemilik Kehidupan lewat sholat malam dan dzikirku. aku tidak mau
beraktifitas hari ini. aku ingin mendoakan nenek disepanjang hari ini. sampai Adzan
Ashar berkumandang seiring dering telponku, kakak mengabarkan nenek telah
berpulang kerahmatullah, dunia terasa gelap, langit seolah runtuh menimpaku,
nenek pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Nenek pergi tanpa menunggu
kedatanganku.
Malam itu aku langsung berangkat, tiba
didesaku keesokan paginya. Tubuhku lemas melihat jenazah nenek diruang tamu.
Mulutku terkunci, aku berlari dan memeluk jenazah nenek. Suara tangis terdengar
dimana-mana. Sampai pemakaman berakhir kakak menghampiriku dan menyerahkan sebuah
kerudung berwarna hijau.
“Ini
titipan Nenek buatmu, satu minggu sebelum nenek meninggal dia memberikan
kerudung ini, nenek bilang untuk hadiah ulang tahunmu.”
Tangiskupun
pecah seketika, aku sangat menyesal tidak bisa
bersama nenek disaat-saat terakhirnya. Aku menangis hingga tertidur. aku
bertemu nenek dalam mimpiku. Tempat nenek sangat indah, wajah nenek terlihat
bercahaya.
“Nenek,
kenapa nenek pergi meninggalkanku, bukankah nenek sangat
menyayangiku…???”tanyaku disela tangis
“Maafkan
Nenek sayang, sudah waktunya nenek pergi. Dunia hanyalah tempat persinggahan,
disini adalah tempat nenek yang sesungguhnya. Pintar-pintarlah menjaga diri,
jadilah anak yang sholeha, jangan pernah tinggalkan
sholat karna doa yang selalu kau kirimkan akan menerangi tempat nenek…”sambil
mengusap kepalaku
“Iya
Nek, aku tidak akan pernah melupakan semua amanat Nenek, semoga kita akan
bertemu dikehidupan selanjutnya…”
Sore
itu aku berziarah kemakam Nenek mengenakan kerudung hijau pemberian nenek.
“Terimakasih
atas semua kebaikan nenek padaku, maafkan aku yang belum sempat membalasnya.
Semoga Allah memberikan tempat terindah disisi-Nya. Amin…”
***






0 komentar:
Posting Komentar