Selasa, 07 April 2015

Kerudung Hijau



         Aku adalah cucu kesayangan Nenek, karna aku diasuh dan dibesarkan oleh Nenek setelah Bunda meninggal dunia 24 Tahun silam. Semua kegiatanku selalu diawasi nenek bahkan ketika usiaku menginjak 15 tahun aku masih tidur bersama nenek.
Setelah aku lulus Madrasah Tsanawiyah, aku mengutarakan
niatku untuk melanjutkan study ke Madrasah Aliyah yang letaknya jauh dari Desaku dengan Beasiswa yang ditawarkan oleh pihak sekolah, kemungkinan besar aku harus tinggal diasrama santri. Nenek sangat keberatan, nenek tidak mau berpisah denganku, namun aku berusaha meyakinkan nenek sampai akhirnya dengan berat hati nenek mengizinkanku.
Tiga tahun telah berlalu, aku lulus dengan nilai yang memuaskan, nenek sangat bahagia melihat kedatanganku. Meski aku sering datang disaat liburan sekolah.
“Nenek, aku ingin kuliah. Aku ingin membahagiakan nenek, aku ingin nenek melihatku berhasil kelak…”bisikku sambil menyandarkan kepala dibahunya
“Tapi biayanya dari mana Nak, Kakekmu sudah tua. Nenek ingin kamu disini bersama nenek. Nenek tidak butuh kebahagiaan yang lain lagi, kau adalah kebahagiaan terpenting dalam hidup nenek…”
“Nenek tidak usah khawatir, aku akan cari kerja untuk membiayai kuliahku, aku sudah dewasa dan nenek harus yakin aku bisa menjaga diri dengan semua doa-doa tulus dari nenek…”
Aku tidak sanggup menatap wajah nenek malam itu, tangannya yang keriput, matanya yang mulai rabun, rambutnya yang sudah memutih, tubunya yang mulai bongkok termakan usia. Tapi aku harus meraih cita-citaku, aku ingin membuktikan bahwa nenek telah sukses mendidikku, aku ingin buktikan pada ayahbahwa aku bisa berhasil tanpanya, Ayah yang lebih memilih pergi meninggalkanku dan bunda demi wanita lain.
Dengan berat hati aku berpamitan dengan nenek, air mata memenuhi perpisahan malam itu. Kapal Ferry yang ku tumpangi perlahan-lahan melepaskan jangkarnya, berlayar menjauh dari Desaku, berlayar membelah lautan menuju laut Gorontalo.
Alhamdulilllah atas semua kebaikan Allah dan doa tulus dari nenek aku bisa bekerja disebuah usaha kecil milik kenalan sahabatku dan aku juga diterima disalah satu Universitas Swasta.
Tiap bulannya aku mengirimkan uang buat nenek, baju dan makanan kesukaan nenek. tak jarang juga kusempatkan waktu menengok nenek. Istimewanya aku adalah obat paling mujarab bagi nenek, setiap nenek sakit, meski telah minum obat dari dokter itu takkan berpengaruh bagi kesembuhan nenek tapi dengan kedatanganku nenek bisa sembuh detik itu juga. Berulang-ulang kali itu terjadi, nenek terlalu sangat merindukanku.
Tak terasa kini aku sudah semester tujuh, tinggal satu semester lagi aku akan wisuda, sampai pada akhirnya aku menerima kabar nenek sakit lagi, aku ingin sekali pulang tapi malam itu adalah jadwal presentasiku, dan itu adalah pertemuan terakhir mata kuliah itu.
Aku mencoba menelpon kakakdirumah berharap ada kabar baik.Dengan kuasa Allah, nenek yang sudah lima hari koma akhirnya bisa bicara kembali setelah mengetahui aku menelpon.
“Assalamualaikum Nek, besok aku pulang nenek. Nenek bertahan ya, kita akan bertemu lagi. Aku akan bawakan semua makanan kesukaan nenek, kita akan tidur bersama lagi nek, aku mohon nenek bertahan demi aku…” suara tangisku mulai terdengar
“Waalaikumsalam Nak, nenek baik-baik saja. Cepatlah pulang. Jangan lama-lama. Nenek merindukanmu sayang…”suara nenek terdengar sama-samar
Malam itu aku tidak bisa tidur, kuhabiskan malamku untuk berbicara kepada Sang-Pemilik Kehidupan lewat sholat malam dan dzikirku. aku tidak mau beraktifitas hari ini. aku ingin mendoakan nenek disepanjang hari ini. sampai Adzan Ashar berkumandang seiring dering telponku, kakak mengabarkan nenek telah berpulang kerahmatullah, dunia terasa gelap, langit seolah runtuh menimpaku, nenek pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Nenek pergi tanpa menunggu kedatanganku.
          Malam itu aku langsung berangkat, tiba didesaku keesokan paginya. Tubuhku lemas melihat jenazah nenek diruang tamu. Mulutku terkunci, aku berlari dan memeluk jenazah nenek. Suara tangis terdengar dimana-mana. Sampai pemakaman berakhir kakak menghampiriku dan menyerahkan sebuah kerudung berwarna hijau.
“Ini titipan Nenek buatmu, satu minggu sebelum nenek meninggal dia memberikan kerudung ini, nenek bilang untuk hadiah ulang tahunmu.”
Tangiskupun pecah seketika, aku sangat menyesal tidak bisa  bersama nenek disaat-saat terakhirnya. Aku menangis hingga tertidur. aku bertemu nenek dalam mimpiku. Tempat nenek sangat indah, wajah nenek terlihat bercahaya.
“Nenek, kenapa nenek pergi meninggalkanku, bukankah nenek sangat menyayangiku…???”tanyaku disela tangis
“Maafkan Nenek sayang, sudah waktunya nenek pergi. Dunia hanyalah tempat persinggahan, disini adalah tempat nenek yang sesungguhnya. Pintar-pintarlah menjaga diri, jadilah anak yang sholeha, jangan pernah tinggalkan sholat karna doa yang selalu kau kirimkan akan menerangi tempat nenek…”sambil mengusap kepalaku
“Iya Nek, aku tidak akan pernah melupakan semua amanat Nenek, semoga kita akan bertemu dikehidupan selanjutnya…”
Sore itu aku berziarah kemakam Nenek mengenakan kerudung hijau pemberian nenek.
“Terimakasih atas semua kebaikan nenek padaku, maafkan aku yang belum sempat membalasnya. Semoga Allah memberikan tempat terindah disisi-Nya. Amin…”
                                                          ***

0 komentar:

Posting Komentar