MENJEMPUT SENJA DI BENTENG OTANAHA
I’ll
never try to hold you back
I
wouldn’t try controlling you
If
it’s what you want
It’s
want I want
I
want what’s best for you
And
if there’s something else that you’re looking for
I’ll
be the first to help you try
Believe
me when I say
It’s
hard to say goodbye
Lirik lagu Celin Dion dan Paul Anka mengalun lembut. Menemani perjalanan kami sore itu. Aku
menarik nafas perlahan, mataku mendadak terasa panas. Lagu itu benar-benar membuat
dada semakin sesak. Kualihkan pandangan dari angan yang mengambang. Buru-buru mengusap
ujung mata sebelum Uchan menyadarinya dan akan kembali menggodaku. Aku merapikan
kerudung, memperbaiki posisi duduk, menghembuskan nafas perlahan dan berbisik pada
hatiku.
“Aku ikhlas,
Ya Rabb.”
Mobil Avanza silver melaju dengan kecepatan sedang, membelah
jalanan sempit. Kak Lia duduk dengan anggun dibelakang kemudi, disamping kirinya
duduk Ibunda tercinta yang baru tiba dari Makassar. Dibangku kedua sebelah kanan
ada adiknya Kak Lia, namanya Steven. Keren. Ditengah, Uchan sibuk memperkenalkan
Gorontalo pada Ibunya Kak Lia, sedangkan aku duduk disebelah kirinya. Masih
tenggelam dengan angan.
Aku hafal jalan ini,
bahkan sangat hafal. Ini jalan menuju rumahnya. Aku menggigit bibir, perih jika
harus mengingat segala kenangan itu. Tidak ada yang bisa kulakukan ketika dengan
tiba-tiba seluruh kenangan itu datang bertamu dihatiku. Dibenakku. Sungguh, tidak
ada yang bisa kulakukan kecuali menghadapinya, mengingat setiap detail
kejadiannya. Membiasakan diri mengingat segalanya agar hati tetap kuat. Kebal. Dan
tak akan merasa sakit lagi.
“Ibu, itu Danau Limboto!”
Uchan berseru, membuyarkan segala khayalku.
“Tapi sudah agak kering,
ya? mungkin pengaruh kemarau.” Kak Lia ikut menoleh.
Selang beberapa menit
kami tiba di Benteng Otanaha. Salah satu tempat wisata bersejarah di Kota Gorontalo.
Benteng Otanaha terletak diatas bukit Kelurahan Dembe yang dibangun pada tahun
1522 Masehi. Dari puncak benteng, kami dapat melihat Danau Limboto yang
terbaring anggun. Langit jingga sore itu menambah indahnya suasana senja kali
ini.
Kutatap wajah mereka satu
persatu, ada kebahagiaan yang tersirat. Namun, ada kegundahan yang terpendam. Aku
kembali menghela nafas. Memejamkan mata, membentangkan kedua tanganku. Menghirup
udara sebanyak-banyaknya. Dan berbisik kepada angin.
“Aku merindukanmu.
Sungguh, aku sangat merindukanmu.”
Sungguh, masalah perasaan
itu rumit sekali. Bahkan hubungan bertahun-tahun yang kau jalani belum tentu itu
yang terbaik. Tidak ada yang bisa menjamin sebuah rasa akan tetap sama. Perasaan
itu mudah berubah. Bisa jadi hari ini kau mengatakan dialah segala-galanya
bagiku, namun esok kau malah berkata sebaliknya.
***
Aku menoleh, menatap Uchan
yang sedang ber-selfie ria dengan selembar
kertas ditangannya. Kertas yang bertuliskan sebuah ucapan selamat ulang tahun kepada
seseorang.
“Aku juga punya rasa
yang sama.” Katamu sambil menunduk.
Pengakuanmu siang itu mengagetkanku.
Kau bercerita tentang perasaan nyaman yang kau dapatkan dari seseorang yang
baru kau kenal beberapa bulan terakhir. Terkadang hati benar-benar mengalahkan logika.
Hubungan yang kau jalani selama lima tahun terhapus oleh sebuah kenyamanan yang
baru tercipta. Siapa yang menyangka kau akan
berubah?
Aku juga tak bisa
berkata banyak. Kau yang lebih tau, tentang semua yang kau rasakan. Dibalik wajah
ceriamu sore ini, aku tau kau menyimpan sebuah kegundahan. Antara rasa sayang
dan cinta, perjuangan dan pengorbanan. Aku faham rasa itu. Ketika jenuh datang
menghampiri, jenuh berjuang sendiri dengan orang yang telah kita yakini.
Sungguh tak ada yang bisa kita lakukan selain menyerah.
***
Aku mengalihkan pandangan
lagi. Kak Lia sedang asyik memotret ibu dan adiknya. Sesekali tertawa renyah. Aku
tau dibalik tawa itu ada sebuah kecemasan. Kecemasan akan hari esok. Aku masih ingat
saat ia berkata.
“Aku sayang dia, tapi…”
Ada keraguan yang mengambang dikalimat itu.
“Tapi dia ternyata sudah
punya kekasih”. Lanjutnya dengan senyum setengah dipaksa.
Aku terdiam. Aku tau bagaimana
rasanya. Saat kita nyaman dan dia berhasil membuat kita jatuh cinta, tapi ternyata
dia telah lebih dulu mempunyai tambatan hati.
Percuma berusaha
menghindar. Tak ada gunanya memutuskan komunikasi. Apalagi sampai mengubah
jadwal ibadah-ibadah keagamaan hanya kerena dia. Tidak seharusnya kita menjauhi
Tuhan sang pencipta hanya karena umat-Nya. Tidak ada cara lain kecuali
penegasan terhadap diri sendiri. Hadapi. Bersikap dewasa. Dengan sendirinya,
kita akan terbiasa dengan suasana ini.
Teori memang lebih gampang
ketimbang harus mempraktekkannya. Bahkan aku akan galau setengah mati jika itu
menimpaku. Namun, Kita akan mendadak berubah menjadi bijak saat teman
membutuhkan kita, meski hanya sebagai pendengar setia. Sungguh, tak ada yang
bisa aku lakukan selain menasehati. Mengingatkan, Menguatkan.
Berat memang, melalui
masa setelah bertahun-tahun menutup hati. Dan ketika ada yang berusaha
mengetuknya berkali-kali namun ternyata kita keliru, bukan dialah yang kita
tunggu. Dia hanya mampir. Mungkin untuk mengisyaratkan, atau untuk sekedar
mengajarkan sesuatu, atau malah ingin memberitahukan bahwa didepan sana ada
seseorang yang bersedia mendampingi kita dalam segala suasana. Orang yang telah
dipilihkan Tuhan. Bersabarlah sedikit lagi.
Orang
yang tepat tidak datang dengan cara yang cepat.
***
Aku kembali mengalihkan
pandangan kepada dua gadis yang tertawa disana. Zaila dan Nindy. Zaila adalah adik
bungsunya Uchan. Gadis tomboy itu nyaris tak pernah galau. Aku suka caranya menikmati
hidup. Mungkin masalahnya hanya terhambat pada skripsi. Fokus menyelesaikan
skripsi, agar sesegera mungkin mempersembahkan keberhasilan pada orang tua tercinta.
Nindy teman sekelas Zaila.
Gadis mungil itu juga sepertinya sedang menyimpan sesuatu dalam hatinya. Sungguh
masalah hati tak ada yang bisa menebak. Selalu saja rumit. Tak bisa diterka.
Aku mengusap wajah.
Kembali menikmati senja. Langit separuh berwarna jingga. Indah. Sang raja siang
akan kembali berisitirahat. Sebelum benar-benar tenggelam, ia menyampaikan senyumannya
yang berkilau lewat semburat cahayanya. Aku kembali berbisik.
“Kuikhlaskan segala cerita tentang kita, bersama tenggelamnya
matahari.”
Sungguh, menghikhlaskan
sesuatu itu sangat indah. Meski kita tau itu sulit. Yakinlah, Tuhan punya sesuatu
yang indah untuk kita. Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan,
tapi Tuhan selalu menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan.
Aku, Kak Lia, Uchan,
Zaila dan Nindy. Berdiri menatap senja yang akan tenggelam. Kami mengucapkan
salam perpisahan dalam hati. Salam perpisahan untuk segala ketakutan, untuk
segala kegundahan, untuk segala kerisauan.
Bersama senja kali ini, mari kita jemput bahagia.
Hadapi semua yang akan terjadi dihari esok. Karena hanya orang-orang kuatlah
yang bisa melepaskan sesuatu. Meskipun sulit, meskipun berat, meskipun sakit. Namun,
pada akhirnya kita bisa ikhlas melepaskan. Dan yang terpenting, kita berhasil menaklukkan
diri sendiri.
Harus
Bisa, Pasti Bisa, Yakin Bisa!!!
***







0 komentar:
Posting Komentar