Senin, 06 Juni 2016

MENJEMPUT SENJA DI BENTENG OTANAHA

MENJEMPUT SENJA DI BENTENG OTANAHA

I’ll never try to hold you back
I wouldn’t try controlling you
If it’s what you want
It’s want I want
I want what’s best for you
And if there’s something else that you’re looking for
I’ll be the first to help you try
Believe me when I say
It’s hard to say goodbye

Lirik lagu Celin Dion dan Paul Anka mengalun lembut. Menemani perjalanan kami sore itu. Aku menarik nafas perlahan, mataku mendadak terasa panas. Lagu itu benar-benar membuat dada semakin sesak. Kualihkan pandangan dari angan yang mengambang. Buru-buru mengusap ujung mata sebelum Uchan menyadarinya dan akan kembali menggodaku. Aku merapikan kerudung, memperbaiki posisi duduk, menghembuskan nafas perlahan dan berbisik pada hatiku.
 “Aku ikhlas, Ya Rabb.”

Mobil Avanza silver melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan sempit. Kak Lia duduk dengan anggun dibelakang kemudi, disamping kirinya duduk Ibunda tercinta yang baru tiba dari Makassar. Dibangku kedua sebelah kanan ada adiknya Kak Lia, namanya Steven. Keren. Ditengah, Uchan sibuk memperkenalkan Gorontalo pada Ibunya Kak Lia, sedangkan aku duduk disebelah kirinya. Masih tenggelam dengan angan.
Aku hafal jalan ini, bahkan sangat hafal. Ini jalan menuju rumahnya. Aku menggigit bibir, perih jika harus mengingat segala kenangan itu. Tidak ada yang bisa kulakukan ketika dengan tiba-tiba seluruh kenangan itu datang bertamu dihatiku. Dibenakku. Sungguh, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menghadapinya, mengingat setiap detail kejadiannya. Membiasakan diri mengingat segalanya agar hati tetap kuat. Kebal. Dan tak akan merasa sakit lagi.
“Ibu, itu Danau Limboto!” Uchan berseru, membuyarkan segala khayalku.
“Tapi sudah agak kering, ya? mungkin pengaruh kemarau.” Kak Lia ikut menoleh.
Selang beberapa menit kami tiba di Benteng Otanaha. Salah satu tempat wisata bersejarah di Kota Gorontalo. Benteng Otanaha terletak diatas bukit Kelurahan Dembe yang dibangun pada tahun 1522 Masehi. Dari puncak benteng, kami dapat melihat Danau Limboto yang terbaring anggun. Langit jingga sore itu menambah indahnya suasana senja kali ini.
Kutatap wajah mereka satu persatu, ada kebahagiaan yang tersirat. Namun, ada kegundahan yang terpendam. Aku kembali menghela nafas. Memejamkan mata, membentangkan kedua tanganku. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dan berbisik kepada angin.
 “Aku merindukanmu. Sungguh, aku sangat merindukanmu.

Sungguh, masalah perasaan itu rumit sekali. Bahkan hubungan bertahun-tahun yang kau jalani belum tentu itu yang terbaik. Tidak ada yang bisa menjamin sebuah rasa akan tetap sama. Perasaan itu mudah berubah. Bisa jadi hari ini kau mengatakan dialah segala-galanya bagiku, namun  esok kau malah berkata sebaliknya.
***
Aku menoleh, menatap Uchan yang sedang ber-selfie ria dengan selembar kertas ditangannya. Kertas yang bertuliskan sebuah ucapan selamat ulang tahun kepada seseorang.
“Aku juga punya rasa yang sama.” Katamu sambil menunduk.
Pengakuanmu siang itu mengagetkanku. Kau bercerita tentang perasaan nyaman yang kau dapatkan dari seseorang yang baru kau kenal beberapa bulan terakhir. Terkadang hati benar-benar mengalahkan logika. Hubungan yang kau jalani selama lima tahun terhapus oleh sebuah kenyamanan yang baru tercipta. Siapa yang menyangka kau akan berubah?
Aku juga tak bisa berkata banyak. Kau yang lebih tau, tentang semua yang kau rasakan. Dibalik wajah ceriamu sore ini, aku tau kau menyimpan sebuah kegundahan. Antara rasa sayang dan cinta, perjuangan dan pengorbanan. Aku faham rasa itu. Ketika jenuh datang menghampiri, jenuh berjuang sendiri dengan orang yang telah kita yakini. Sungguh tak ada yang bisa kita lakukan selain menyerah.
***
Aku mengalihkan pandangan lagi. Kak Lia sedang asyik memotret ibu dan adiknya. Sesekali tertawa renyah. Aku tau dibalik tawa itu ada sebuah kecemasan. Kecemasan akan hari esok. Aku masih ingat saat ia berkata.
“Aku sayang dia, tapi…” Ada keraguan yang mengambang dikalimat itu.
“Tapi dia ternyata sudah punya kekasih”. Lanjutnya dengan senyum setengah dipaksa.
Aku terdiam. Aku tau bagaimana rasanya. Saat kita nyaman dan dia berhasil membuat kita jatuh cinta, tapi ternyata dia telah lebih dulu mempunyai tambatan hati.
Percuma berusaha menghindar. Tak ada gunanya memutuskan komunikasi. Apalagi sampai mengubah jadwal ibadah-ibadah keagamaan hanya kerena dia. Tidak seharusnya kita menjauhi Tuhan sang pencipta hanya karena umat-Nya. Tidak ada cara lain kecuali penegasan terhadap diri sendiri. Hadapi. Bersikap dewasa. Dengan sendirinya, kita akan terbiasa dengan suasana ini.
Teori memang lebih gampang ketimbang harus mempraktekkannya. Bahkan aku akan galau setengah mati jika itu menimpaku. Namun, Kita akan mendadak berubah menjadi bijak saat teman membutuhkan kita, meski hanya sebagai pendengar setia. Sungguh, tak ada yang bisa aku lakukan selain menasehati. Mengingatkan, Menguatkan.
Berat memang, melalui masa setelah bertahun-tahun menutup hati. Dan ketika ada yang berusaha mengetuknya berkali-kali namun ternyata kita keliru, bukan dialah yang kita tunggu. Dia hanya mampir. Mungkin untuk mengisyaratkan, atau untuk sekedar mengajarkan sesuatu, atau malah ingin memberitahukan bahwa didepan sana ada seseorang yang bersedia mendampingi kita dalam segala suasana. Orang yang telah dipilihkan Tuhan. Bersabarlah sedikit lagi.
Orang yang tepat tidak datang dengan cara yang cepat.
***
Aku kembali mengalihkan pandangan kepada dua gadis yang tertawa disana. Zaila dan Nindy. Zaila adalah adik bungsunya Uchan. Gadis tomboy itu nyaris tak pernah galau. Aku suka caranya menikmati hidup. Mungkin masalahnya hanya terhambat pada skripsi. Fokus menyelesaikan skripsi, agar sesegera mungkin mempersembahkan keberhasilan pada orang tua tercinta.
Nindy teman sekelas Zaila. Gadis mungil itu juga sepertinya sedang menyimpan sesuatu dalam hatinya. Sungguh masalah hati tak ada yang bisa menebak. Selalu saja rumit. Tak bisa diterka.
Aku mengusap wajah. Kembali menikmati senja. Langit separuh berwarna jingga. Indah. Sang raja siang akan kembali berisitirahat. Sebelum benar-benar tenggelam, ia menyampaikan senyumannya yang berkilau lewat semburat cahayanya. Aku kembali berbisik.
 “Kuikhlaskan segala cerita tentang kita, bersama tenggelamnya matahari.”

Sungguh, menghikhlaskan sesuatu itu sangat indah. Meski kita tau itu sulit. Yakinlah, Tuhan punya sesuatu yang indah untuk kita. Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Tuhan selalu menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan.
Aku, Kak Lia, Uchan, Zaila dan Nindy. Berdiri menatap senja yang akan tenggelam. Kami mengucapkan salam perpisahan dalam hati. Salam perpisahan untuk segala ketakutan, untuk segala kegundahan, untuk segala kerisauan.
 Bersama senja kali ini, mari kita jemput bahagia. Hadapi semua yang akan terjadi dihari esok. Karena hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu. Meskipun sulit, meskipun berat, meskipun sakit. Namun, pada akhirnya kita bisa ikhlas melepaskan. Dan yang terpenting, kita berhasil menaklukkan diri sendiri.

Harus Bisa, Pasti Bisa, Yakin Bisa!!!

***





0 komentar:

Posting Komentar