Selasa, 14 Juni 2016

TERNYATA MEREKA SALING MENUNGGU

14 Juni 2016
9 Ramadhan 1437 H

TERNYATA MEREKA SALING MENUNGGU

Sekeluarnya dari pintu Bank siang itu, aku memutuskan untuk duduk sejenak di parkiran depan Bank. Kebetulan ada sebuah bangku kayu dibawah pohon yang cukup rindang. Aku duduk sambil membalas beberapa pesan dari dari teman-teman.
Didepanku terlihat seorang perempuan yang mondar-mandir tak jelas. Ia kemudian duduk disampingku, dibangku kayu yang sama. Perempuan itu mungkin seumuran denganku. Ia terlihat gusar. Beberapa kali menelpon seseorang yang sejak tadi belum juga tersambung.
Sungguh, aku tidak berniat mendengarkan percakapan perempuan itu dengan lelaki yang ditelponnya. Dia duduk disampingku, sangat dekat. Hingga aku bisa mendengar nada sambung telponnya. Ia begitu gelisah  tak memperhatikan sekelilingnya. Sepertinya juga ia mengabaikan keberadaanku.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara seorang lelaki diseberang telpon.
“Kamu benar sudah menikah?”
Aku sedikit kaget, dan menoleh kearahnya. Wajahnya nampak tegang menunggu jawaban. Jika bisa ku terka, mungkin ia berdoa dalam hati semoga lelaki itu menjawab ‘tidak’.
“Jawab!” Wajahnya berkeringat dingin.
“I..iya.” Lelaki itu terdengar ragu menjawab.
Ia menggenggam erat ujung bajunya.
“Haaahhh? Kapan?”
“U... udah lama.”
Perempuan itu menggigit bibirnya,
“Kamu kenapa nggak ngasih tau aku?” Nada suaranya sedikit meninggi.
“Gimana mau ngasih tau, kamu yang aku tunggu nggak peka.” Laki-laki itu juga tak mau kalah.
“Emang kamu pernah ngasih sinyal?”
“Ya, ngggak sih. Ya kamu ngerti aja sendiri.”
“Perempuan itu butuh kepastian. Bukan cuma nebak-nebak doang.”
Mereka terdiam beberapa saat.
“Kamu bahagia?” Tanya perempuan itu dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Biasa aja.” Suara lelaki itu terdengar hampa.
“Lalu kenapa kamu menikah kalo nggak bahagia?”
“Ceritanya panjang, aku nggak tega bilang ke kamu waktu itu.”
“Ceritain sekarang.” Pintanya.
“Panjang banget.”
“Aku punya cukup waktu mendengarkannya.”
Mereka terdiam lagi. Cukup lama. Dadaku tiba-tiba berdegup kencang. Aku bisa merasakannya perasaannya.
“De…” Lelaki itu memanggilnya.
“Aku ikhlas” Nadanya suaranya bergetar, seperti menahan tangis.
“Aku nggak tega jika harus mendoakanmu tak bahagia. Sumpah, aku benar-benar ikhlas, semoga ini adalah pilhan terbaikmu. Assalamualaikum.” Ia mematikan telpon tanpa menunggu jawaban.
Hening. wajahnya tertunduk, memandang ujung sepatunya.
“Allah pasti punya rencana yang lebih indah untukmu.” Tiba-tiba kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
Ia mengangkat wajah, menoleh padaku. Kemudian tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

***




copas picture:
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Finajiun.files.wordpress.com%2F2014%2F04%2F10171067_609943475750228_5202584407662520202_n.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Finajiun.wordpress.com%2F2014%2F04%2F23%2Fketika-dia-tidak-sadar-kita-menunggu%2F&docid=OTScoTszfcTiYM&tbnid=y8xm-ncA9xksLM%3A&w=370&h=254&bih=626&biw=1040&ved=0ahUKEwixps-IyqfNAhVENI8KHQLDDEs4ZBAzCFcoVDBU&iact=mrc&uact=8

0 komentar:

Posting Komentar