YAH, JOMBLO LAGI
DEH
Sudah seminggu Didit
menerorku dengan pertanyaannya tentang “Minta
Jodoh.” Minta? Emang gue Tuhan? Hello…!!!
Gue aja masih jomblo. Kalau saja Didit
bukan temanku, sudah lama nomor hp-nya ku delete.
Bagaimana tidak bosan? dari matahari terbit sampai terbenam, isi pesannya itu-itu saja.
Pagi…
“Hana
yang cantik, cariin gebetan di tempatmu, dong. Nggak perlu cantik. Yang penting
dia baek. Kayak kamu.”
Siang…
“Hana
yang manis, kalo nggak ada ditempatmu, aku minta kontak BB-mu yang cewek deh.
pleace.”
Malam…
“Hana
yang imut, sebentar jalan-jalan, yuk. Ajak Caca sama Rino juga. Kita nonton , sekalian
bahas bisnis kita. hehe”
Arrrrggghhhh…. Aku
hanya bisa menonjok bantal guling, melampiaskan segala kekesalanku. Sebenarnya,
Didit tidak sengebet ini. Seingatku Dulu dia punya kekasih. Terbilang lama,
tahunan mungkin, mirip kredit mobil. Kata temanku yang masih sempat satu
sekolahan dengan kekasihnya itu, konon
wanita itu pintar, baik, sopan, sholeha pula. Tapi tak tau kenapa kandas di
tepi jalan, eh, maksudnya ditengah jalan. Entahlah, kata orang tua sih ‘belum
jodoh’. Lagi pula waktu itu, kami belum seakrab sekarang ini.
Dikampus, kami memang
sekelas tapi semua punya teman dekat masing-masing dan semua benar-benar hilang
kontak setelah wisuda. Takdir mempertemukan kami kembali pada acara pernikahan
teman sekelas. Tahun kemarin seharusnya memasuki musim hujan, tiba-tiba saja mendadak
berubah menjadi musim kawin, kata orang tua bulan ini adalah bulan yang sangat
baik untuk melangsungkan pernikahan. Maka berramai-ramailah lelaki dikota ini melamar sang
kekasih pujaaan hatinya, Anehnya, tak ada seorangpun yang melamarku atau
melamar Caca, bahkan si Rino dan Didit juga tak kunjung melamar wanita pujaan
hati mereka.
Pernikahan
teman sekelas mendadak jadi ajang reunian,
saling bertanya-tanya kabar, foto-foto, tukaran nomor HP, tukaran pin BB, membahas
gosip-gosip terbaru, dan berbagai pembahasan heboh lainnya. Semenjak itu takdir
terus mempertemukan kami dihari-hari bahagia lainnya.
Seperti yang aku bilang
musim ini benar-benar menjadi musim kawin. Selang satu bulan kami kembali dipertemukan
diacara pernikahan si Susan, kemudian bertemu lagi diacara Aqiqah anaknya si
Heri kemudian pernikahan si Opan, hadir di ulang tahun anaknya si Evi, Jenguk
si Anti yang baru bersalin, hadir kembali diacara pernikahan si Yusuf, hadir kembali ke acara pernikahan si Maman,
ketemu lagi di acara peminangannya si Nurlin, bertemu lagi di resepsinya si Rahmat,
kemudian si Novi yang tidak pernah sama sekali terlihat jalan bareng cowok
tiba-tiba mengirimkan undangan
pernikahan. Anehkan? Mungkin pemikiranku saja yang aneh.
Dari pertemuan-pertemuan itu, aku menyadari
satu hal, bahwa spesies single di alumni kami perlahan-lahan berkurang. semua
sibuk dengan urusan masing-masing, hanya sebagian kecil saja yang hadir, jika ada acara yang
diselenggarakan lagi. Mereka punya sejuta warna-warni alasan, Si Susan liburan kerumah mertua, Si Novi ikut
pindah kekampung suami, si Anty sibuk ngurus bayi kecilnya, si Evi sibuk
dikantor, si Nurlin lagi hamil muda, nggak boleh jalan –jalan jauh, si Maman
pindah tugas, si Kambo kerja diluar kota dan entahlah teman-teman yang lain
hilang kemana. Hanya Foto-foto bahagia mereka yang bertebaran di wall facebook. Foto bareng pasangan
maupun bayi mereka yang lucu-lucu. Maka,
tinggallah kami berempat yang tersisa. Didit, Rino, Caca dan aku.
Waktu
mengangkrabkan kami berempat, hingga kemana-mana sering pergi bersama. Saking
dekatnya, banyak yang sering salah faham, di sangka kami pacaran. Padahal jauh
dari lubuk hati kami yang terdalam, sejujurnya kami berempat ini adalah
sekumpulan orang yang belum laku, terlalu sadis ya? Maksudnya, kami adalah
sekumpulan orang yang belum menemukan tulang rusuk kami yang hilang. Cieee…
Rino dan Caca, memiliki
sikap yang hampir mirip. Santai menjalani hidup, baik ada pasangan maupun saat
jomblo seperti sekarang. Sedangkan si Didit berubah-ubah kayak bunglon. Kadang
tegar kadang rapuh. Menyesuaikan dengan isi dompet, apa hubungan coba? Kalau Aku sih, sebenarnya santai-santai juga
menghadapi kejomblo-an ini, tapi terkadang baper
sering kali datang menghampiri kalau liat pasangan yang mojok pas malam
mingguan.
“Diajak mojok bangga,
di ajak ke KUA tuh, baru bangga.” Caca menghiburku.
***
“Hana yang baik, gimana
bisnis kita?” Didit menagih janji tempo hari.
Bisnis?
Kalau menghasilkan uang itu baru bisnis.
“Aku nggak mau jadi mak
comblang, titik!” Seruku.
“Galak amat. Biasa aja,
keles.” Didit merajuk.
“Aku nggak berbakat
dalam hal ini, Dit. Minta tolong sama Caca, deh. Pokoknya aku nggak mau nyariin
kamu gebetan.” Reaksiku terlalu berlebihan. Rino dan caca memandangiku dengan
bola mata setengah keluar. Serem.
Semenjak aksi tegang malam
itu kami tidak lagi bertemu. Mungkin Didit masih marah, atau sibuk kerja,
entahlah. Aku juga tak berani menanyakan kabarnya. Hingga hampir dua bulan
berlalu. Kami dipertemukan kembali dipesta pernikahan si Nining, teman sekelas
dulu. Yah, meski dengan pemandangan yang berbeda. Hampir semua teman-teman
membawa pasangan masing-masing. Termasuk si Didit. Aku mendengus lega. Akhirnya dia benar-benar berusaha mencari
gebetannya sendiri.
Aku berdecak kagum
dalam hati, pasangannya benar-benar cantik nauzubillah.
Kulitnya putih mulus, wajahnya kinclong tanpa jerawat, bibirnya merah delima,
alisnya tebal seperti alis shincan,
pokoknya style-nya keren abis. Kekinian
banget. Aku sama Caca jauh ketinggalan. Tentu saja si Didit dengan bangga
menggandengnya.
Seperti kata orang
bijak, manusia tak ada yang sempurna. Begitupun dengan pasangan si Didit ini,
meskipun cantiknya luar biasa tapi sikapnya rada-rada angkuh. Aku sama Caca
sama sekali tidak disapa, padahal aku sudah mempersiapkan senyum termanisku
untuknya. Malah dia hanya memandangku datar tanpa reaksi. Sebel kan?
“Yang namanya temen
baik, kita harusnya ikut bahagia, Na.” Caca mencoba meredamkan fikiran
negatifku.
“Ikut bahagia teman
kita punya pacar sombong dan angkuh?” Protesku. “Bukannya sebagai teman yang baik
kita harus mengingatkan agar dia tidak salah pilih pasangan?” Lanjutku lagi.
“Kalau cinta sudah bersemi, bulu ketiak terasa
indomie, tau.” Canda Caca.
“Emang kamu pernah
makan bulu ketiak?” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Ih, Hana! telmi deh. Ini perumpamaan.” Wajah Caca
terlihat kesal.
Biarlah aku tenggelam
dengan fikiran negatifku tentang pacarnya si Didit yang cantik itu, yang
penting si Didit bahagia, nggak galau lagi. Setelah pisah dengan perempuan
berhijab yang putus entah karena apa. Semudah itu memutuskan hubungan? Aku tak
pernah mengerti dengan pemikiran lelaki. Apa sih yang sebenarnya dicari?.
“Kamu aja tuh yang
syirik.” Caca menggodaku.
“Enak aja, biar jomblo
yang penting berkwalitas.” Bantahku.
***
Beberapa bulan dilanda kesibukan,
Rino mendadak mengajak kami berkumpul ditempat biasa. Kafe out door di sudut jalan, aku sering lupa nama tempat ini, jadi
kunamakan saja kafe out door, karena
memang letaknya diluar, tidak seperti kafe lain yang mempunyai bangunan.
Sebenarnya Si Caca sudah bosan dengan
tempat ini, tapi aku sih masih nyaman-nyaman saja selama semuanya serba gratis,
maklum anak kos. Hehe
Aku dan Caca tiba lebih
dulu dan langsung memesan menu favorti kami, ‘Roti pemuas hasrat’ dan cappuccino dingin. Ah, dua lelaki itu memang
sering terlambat, lama. Mandinya lama apalagi dandannya. Kalah aku sama Caca.
Selang lima menit kemudian Rino dan Didit datang, ada mendung yang menggantung
diwajah si Didit. Ia lebih banyak diam. Hanya sekali-sekali saja menjawab,
itupun jawabannya Cuma hm, ya, tidak,
terserah. Selebihnya, ia sibuk main game COC. Apalagi saat lagu ‘Kamu Egois’
dari Arie Lasso diputar, matanya sempat berkaca-kaca. Aku mencium aroma hati
yang terkoyak-koyak.
Pramusaji datang
mengantarkan pesanan kami.
“Mbak, bisa minta
tolong lagunya diganti sama lagu India wale? Atau Chennai express?” Usulku. Si
Mbak pramusaji malah bengong.
“Lagu yang Mbak putar
sekarang bisa membunuh teman saya. Dia lagi galau. Kalau dia mendadak pingsan,
Mbak mau tanggung jawab?” Aku menegaskan. Caca buru-buru menyikut lenganku. Sepertinya
reaksiku terlalu berlebihan, Si Didit tak bergeming. Masih sibuk dengan game-nya, sedangkan si Rino tetap asyik menimati
rokoknya dari tadi.
Si Mbak cepat-cepat
berlalu dan memutar lagu pesananku tadi. Itulah spesialnya tempat ini. Pelanggan
benar-benar menjadi raja. Pelayanan ramah, meskipun makanannya agak lama disajikan.
Ya iyalah, semuanyakan butuh proses. Bahkan mie instan saja, toh harus di rebus dulu. Tempat ini Free wifi plus colokan kalau hp
kehabisan batrey. Itu yang bikin aku sama Rino betah berlama-lama di kaffe ini.
Kalau Caca lebih suka mencoba tempat-tempat yang baru. Aku sih kalau udah
nyaman sama sesuatu, ya bakalan nggak berpaling. apapun yang terjadi. Baper lagi.
Sempurna. Kafe ini mendadak
serasa pindah ke India. Si Mbak pramusaji ngambek dan memutar semua lagu-lagu
india di play list-nya, padahal tadi
aku Cuma request dua lagu. Mungkin si
mbak takut dengan kemungkinan yang kan terjadi jika ia tetap memutar lagu-lagu
galau. Si mbak memang baik hati. Aku tenggelam dengan khayalanku.
“Ca, cariin gebetan
ditempatmu, donk?” Didit membuka suara.
Sontak khayalan tentang
Shahruk Khan menghilang diudara.
“Yang kemarin kemana?” Caca
bertanya penuh wibawa.
“Udah selesai.”
Jawabnya singkat.
“Hah? Semudah itu? Apa
yang sih kamu cari?” Nada suaraku meninggi. Caca memperlihatkan kepalan
tinjunya sebagai isyarat agar aku diam.
Didit masih diam,
mempermainkan sendok nasi gorengnya. Si Rino santai-santai aja sesekali menyela
dan kembali menikmati rokoknya.
“Hmmm… nanti aku coba
cariin.” Caca memberikan harapan. Aku baru saja ingin protes tapi kakiku buru-buru
diinjak Caca.
Dari dulu sampai
sekarang aku masih belum mengerti apa sih yang dicari lelaki. Kalo jomblo,
mati-matian nyari gebetan. Pas dapet, mudah ditinggalin. Emang nggak ada
komitmen gitu atau apa kek yang mengikat. Mudah sekali mengakhiri sebuah
hubungan.
Dipenghujung malam Didit
sudah kembali tersenyum, mungkin karena harapan palsu Caca. Yang jelas sebelum
pulang semua biasa-biasa saja. Tak ada acara balap-balapan siapa yang bakalan
sampai lebih dulu dikos.
***
Dua minggu semenjak
pertemuan malam itu, Caca diteror oleh Didit dengan pesan menagih janjinya.
“Kamu sih, PHP-in Didit.”
Protesku.
“Sekedar memberikan
harapan saja, biar dia semangat lagi. Nggak tau bakalan seserius ini.”
“Bukan gitu caranya, Ca.
Kasih pencerahan kek tentang hakikat mencari pasangan.” Kataku berapi-api.
“Sok, bijak lu.” Caca
menimpukku dengan bantal.
Caca kembali melakukan
rutinitasnya, luluran. Dan mataku tibs-tiba terbelalak.
“Ca, liat status
BBM-nya Didit.”
Caca dengan cepat
meraih hp-nya diatas kasur. Buru-buru melihat status dan pic yang dipasang Didit.
“Gebetan baru lagi
kayaknya. Syukur deh, setidaknya aku bebas dari tugas mak comblang.”
“Ekh, nggak boleh gitu. Kita sebagai teman
yang baik harus menasehati Didit biar nggak salah pilih lagi. Bisa ajakan
cantik tapi matre, atau cantik tapi oon. sebagai sesama jomblo, eh sebagai sesama teman yang
peduli, kita harus menasehati Didit, jangan sampai jatuh ke jurang yang sama.
Kamu juga nggak mau kan kalau Didit galau lagi.” Jelasku panjang lebar.
“Huuuu… lebbay lu, Na. terlalu mendramatisir.
Ikut senang kek, malah sewot.”
“Bukan gitu, Ca,…”
“Udah udah udah, aku
mau mandi.” Caca berlalu kebelakang.
***
Didit kembali menjadi
ceria, diwaktu senggang kami pergi nonton dan nongkrong di kaffe out door. Semua kembali normal. Tapi dia
tetap lebih banyak diam dengan hp-nya. Bukan karena main game seperti tempo hari, tapi sibuk chat sama si miss BBM ini. Percuma juga menasehati agar jangan terlalu
terbuai dengan dunia maya bisa saja semua berujung kekecewaan, tapi sebelum
mengatakan itu Caca akan segera menginjak kakiku, menyikut lenganku dan aksi
menyakitkan lainnya.
Malam ini aku nginap
lagi dikos-an Caca, iseng saja biar punya temen rumpi sekalian nebeng makan
gratis. Maklum kiriman dari rumah tak kunjung tiba. Saat sedang menikmati sup
iga sapi buatan Caca, ada seseorang yang mengetuk pintu. Dan betapa terkejutnya
aku ternyata itu Didit dengan kabut tebal berpuluh-puluh lapis yang menggantung
diwajahnya. Aku memang ahli menebak suasana hati seseorang dari raut wajah.
Dia langsung
menjatuhkan badan diatas kasur. Caca menatapku meminta penjelasan. Aku
mengangkat bahu sambil menggeleng. Caca memberikan isyarat agar aku tak
bertanya macam-macam. Caca menghilang sekejap dan kembali dengan secangkir teh
hangat.
“Minum dulu, Dit. Diluar
gerimis.” Caca memang sahabat yang pengertian.
Dia bangun dengan malas,
duduk bersila dan mengusap wajahnya. Ia menunduk lama sekali. Kali ini tanpa
menatap hp-nya. Hampir satu jam kami diam-diaman.
“Ternyata dia tak secantik fotonya.” Didit akhirnya
membuka suara.
“Si miss BBM itu maksud kamu?” Caca
pura-pura bertanya. Didit mengangguk pelan.
Aku buru-buru menyela.
“Bisa saja cantik
gara-gara camera atau ngeditnya yang
keterlaluan. Sekarangkan lagi trendnya camera
360 yang buat wajah jadi kinclong atau camera
B12.” Sambil mengunyah sisa daging sapi terakhir.
“Camera B612 Hana sayang, kalau B12 itu vitamin.” Caca melotot kearahku.
Aku hanya bisa nyengir
kuda.
Didit tetap diam,
menyeruput teh hangatnya, mengusap wajah, menghembuskan nafas perlahan. Dia
menatap kami secara bergantian.
“Mungkin belum jodoh.” Caca
sok bijak lagi.
“Kamu sebenarnya nyari
apa sih, Dit, katanya nggak perlu cantik yang penting baik. Bisa sajakan miss jelek itu, ekh maksudku miss bbm itu hatinya baik. Jangan
memvonis dia hanya karena satu kali pertemuan.” Nadaku mulai meninggi.
“Seperti yang kamu
bilang, Na. Ngeditnya keterlaluan. Jauh banget difoto sama aslinya.” Didit
mulai terpancing.
“Bukannya kemaren kamu
bilang nggak perlu cantik yang penting baik? Mana sih yang benar, konsisten
donk sama omongan.” Aku mendadak emosi, mungkin syndrome pra-menstruasi.
“Hana, teman sedih bukannya
dihibur malah ceramah.” Caca melerai.
Aku menarik nafas
dalam-dalam, berusaha membujuk hati agar tak emosi. Berusaha meniru gaya bicara
Caca yang kaya’ emak-emak.
“Makanya, nyari
pasangan hidup itu berangkat dari niat yang tulus biar nggak dapat yang modus.”
“Yah, jomblo lagi deh.”
Didit berusaha melucu.
Kami bertiga serentak
tertawa, Rino yang baru tiba didepan
pintu menatap kami keheranan.
***







0 komentar:
Posting Komentar