Senin, 06 Juni 2016

YAH, JOMBLO LAGI DEH



YAH, JOMBLO LAGI DEH

Sudah seminggu Didit menerorku dengan pertanyaannya tentang  “Minta Jodoh.” Minta? Emang gue Tuhan? Hello…!!! Gue aja masih jomblo. Kalau saja Didit bukan temanku, sudah lama nomor hp-nya ku delete. Bagaimana tidak bosan? dari matahari terbit sampai terbenam,  isi pesannya itu-itu saja.
Pagi…
“Hana yang cantik, cariin gebetan di tempatmu, dong. Nggak perlu cantik. Yang penting dia baek. Kayak kamu.”
Siang…
“Hana yang manis, kalo nggak ada ditempatmu, aku minta kontak BB-mu yang cewek deh. pleace.”
Malam…
“Hana yang imut, sebentar jalan-jalan, yuk. Ajak Caca sama Rino juga. Kita nonton , sekalian bahas bisnis kita. hehe”

Arrrrggghhhh…. Aku hanya bisa menonjok bantal guling, melampiaskan segala kekesalanku. Sebenarnya, Didit tidak sengebet ini. Seingatku Dulu dia punya kekasih. Terbilang lama, tahunan mungkin, mirip kredit mobil. Kata temanku yang masih sempat satu sekolahan  dengan kekasihnya itu, konon wanita itu pintar, baik, sopan, sholeha pula. Tapi tak tau kenapa kandas di tepi jalan, eh, maksudnya ditengah jalan. Entahlah, kata orang tua sih ‘belum jodoh’. Lagi pula waktu itu, kami belum seakrab sekarang ini.
Dikampus, kami memang sekelas tapi semua punya teman dekat masing-masing dan semua benar-benar hilang kontak setelah wisuda. Takdir mempertemukan kami kembali pada acara pernikahan teman sekelas. Tahun kemarin seharusnya  memasuki musim hujan, tiba-tiba saja mendadak berubah menjadi musim kawin, kata orang tua bulan ini adalah bulan yang sangat baik untuk melangsungkan pernikahan. Maka  berramai-ramailah lelaki dikota ini melamar sang kekasih pujaaan hatinya, Anehnya, tak ada seorangpun yang melamarku atau melamar Caca, bahkan si Rino dan Didit juga tak kunjung melamar wanita pujaan hati mereka.
            Pernikahan teman sekelas mendadak  jadi ajang reunian, saling bertanya-tanya kabar, foto-foto, tukaran nomor HP, tukaran pin BB, membahas gosip-gosip terbaru, dan berbagai pembahasan heboh lainnya. Semenjak itu takdir terus mempertemukan kami dihari-hari bahagia lainnya.
Seperti yang aku bilang musim ini benar-benar menjadi musim kawin. Selang satu bulan kami kembali dipertemukan diacara pernikahan si Susan, kemudian bertemu lagi diacara Aqiqah anaknya si Heri kemudian pernikahan si Opan, hadir di ulang tahun anaknya si Evi, Jenguk si Anti yang baru bersalin, hadir kembali diacara pernikahan si Yusuf,  hadir kembali ke acara pernikahan si Maman, ketemu lagi di acara peminangannya si Nurlin, bertemu lagi di resepsinya si Rahmat, kemudian si Novi yang tidak pernah sama sekali terlihat jalan bareng cowok tiba-tiba  mengirimkan undangan pernikahan. Anehkan? Mungkin pemikiranku saja yang aneh.
 Dari pertemuan-pertemuan itu, aku menyadari satu hal, bahwa spesies single di alumni kami perlahan-lahan berkurang. semua sibuk dengan urusan masing-masing, hanya sebagian kecil  saja yang hadir, jika ada acara yang diselenggarakan lagi. Mereka punya sejuta warna-warni alasan,  Si Susan liburan kerumah mertua, Si Novi ikut pindah kekampung suami, si Anty sibuk ngurus bayi kecilnya, si Evi sibuk dikantor, si Nurlin lagi hamil muda, nggak boleh jalan –jalan jauh, si Maman pindah tugas, si Kambo kerja diluar kota dan entahlah teman-teman yang lain hilang kemana. Hanya Foto-foto bahagia mereka yang bertebaran di wall facebook. Foto bareng pasangan maupun bayi mereka yang lucu-lucu.  Maka, tinggallah kami berempat yang tersisa. Didit, Rino, Caca dan aku.
            Waktu mengangkrabkan kami berempat, hingga kemana-mana sering pergi bersama. Saking dekatnya, banyak yang sering salah faham, di sangka kami pacaran. Padahal jauh dari lubuk hati kami yang terdalam, sejujurnya kami berempat ini adalah sekumpulan orang yang belum laku, terlalu sadis ya? Maksudnya, kami adalah sekumpulan orang yang belum menemukan tulang rusuk kami yang hilang. Cieee…
Rino dan Caca, memiliki sikap yang hampir mirip. Santai menjalani hidup, baik ada pasangan maupun saat jomblo seperti sekarang. Sedangkan si Didit berubah-ubah kayak bunglon. Kadang tegar kadang rapuh. Menyesuaikan dengan isi dompet, apa hubungan coba? Kalau Aku sih, sebenarnya santai-santai juga menghadapi kejomblo-an ini, tapi terkadang baper sering kali datang menghampiri kalau liat pasangan yang mojok pas malam mingguan.
“Diajak mojok bangga, di ajak ke KUA tuh, baru bangga.” Caca menghiburku.
***
“Hana yang baik, gimana bisnis kita?” Didit menagih janji tempo hari.
Bisnis? Kalau menghasilkan uang itu baru bisnis.
“Aku nggak mau jadi mak comblang, titik!” Seruku.
“Galak amat. Biasa aja, keles.” Didit merajuk.
“Aku nggak berbakat dalam hal ini, Dit. Minta tolong sama Caca, deh. Pokoknya aku nggak mau nyariin kamu gebetan.” Reaksiku terlalu berlebihan. Rino dan caca memandangiku dengan bola mata setengah keluar. Serem.
Semenjak aksi tegang malam itu kami tidak lagi bertemu. Mungkin Didit masih marah, atau sibuk kerja, entahlah. Aku juga tak berani menanyakan kabarnya. Hingga hampir dua bulan berlalu. Kami dipertemukan kembali dipesta pernikahan si Nining, teman sekelas dulu. Yah, meski dengan pemandangan yang berbeda. Hampir semua teman-teman membawa pasangan masing-masing. Termasuk si Didit. Aku mendengus lega. Akhirnya dia benar-benar berusaha mencari gebetannya sendiri.
Aku berdecak kagum dalam hati, pasangannya benar-benar cantik nauzubillah. Kulitnya putih mulus, wajahnya kinclong tanpa jerawat, bibirnya merah delima, alisnya tebal seperti alis shincan, pokoknya style-nya keren abis. Kekinian banget. Aku sama Caca jauh ketinggalan. Tentu saja si Didit dengan bangga menggandengnya.
Seperti kata orang bijak, manusia tak ada yang sempurna. Begitupun dengan pasangan si Didit ini, meskipun cantiknya luar biasa tapi sikapnya rada-rada angkuh. Aku sama Caca sama sekali tidak disapa, padahal aku sudah mempersiapkan senyum termanisku untuknya. Malah dia hanya memandangku datar tanpa reaksi. Sebel kan?
“Yang namanya temen baik, kita harusnya ikut bahagia, Na.” Caca mencoba meredamkan fikiran negatifku.
“Ikut bahagia teman kita punya pacar sombong dan angkuh?” Protesku. “Bukannya sebagai teman yang baik kita harus mengingatkan agar dia tidak salah pilih pasangan?” Lanjutku lagi.
 “Kalau cinta sudah bersemi, bulu ketiak terasa indomie, tau.” Canda Caca.
“Emang kamu pernah makan bulu ketiak?” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Ih, Hana! telmi deh. Ini perumpamaan.” Wajah Caca terlihat kesal.
Biarlah aku tenggelam dengan fikiran negatifku tentang pacarnya si Didit yang cantik itu, yang penting si Didit bahagia, nggak galau lagi. Setelah pisah dengan perempuan berhijab yang putus entah karena apa. Semudah itu memutuskan hubungan? Aku tak pernah mengerti dengan pemikiran lelaki. Apa sih yang sebenarnya dicari?.
“Kamu aja tuh yang syirik.” Caca menggodaku.
“Enak aja, biar jomblo yang penting berkwalitas.” Bantahku.
***
Beberapa bulan dilanda kesibukan, Rino mendadak mengajak kami berkumpul ditempat biasa. Kafe out door di sudut jalan, aku sering lupa nama tempat ini, jadi kunamakan saja kafe out door, karena memang letaknya diluar, tidak seperti kafe lain yang mempunyai bangunan. Sebenarnya  Si Caca sudah bosan dengan tempat ini, tapi aku sih masih nyaman-nyaman saja selama semuanya serba gratis, maklum anak kos. Hehe
Aku dan Caca tiba lebih dulu dan langsung memesan menu favorti kami, ‘Roti pemuas hasrat’ dan cappuccino dingin. Ah, dua lelaki itu memang sering terlambat, lama. Mandinya lama apalagi dandannya. Kalah aku sama Caca. Selang lima menit kemudian Rino dan Didit datang, ada mendung yang menggantung diwajah si Didit. Ia lebih banyak diam. Hanya sekali-sekali saja menjawab, itupun  jawabannya Cuma hm, ya, tidak, terserah. Selebihnya, ia sibuk main game COC. Apalagi saat lagu ‘Kamu Egois’ dari Arie Lasso diputar, matanya sempat berkaca-kaca. Aku mencium aroma hati yang terkoyak-koyak.
Pramusaji datang mengantarkan pesanan kami.
“Mbak, bisa minta tolong lagunya diganti sama lagu India wale? Atau Chennai express?” Usulku. Si Mbak pramusaji malah bengong.
“Lagu yang Mbak putar sekarang bisa membunuh teman saya. Dia lagi galau. Kalau dia mendadak pingsan, Mbak mau tanggung jawab?” Aku menegaskan. Caca buru-buru menyikut lenganku. Sepertinya reaksiku terlalu berlebihan, Si Didit tak bergeming. Masih sibuk dengan game-nya, sedangkan si Rino tetap asyik menimati rokoknya dari tadi.
Si Mbak cepat-cepat berlalu dan memutar lagu pesananku tadi. Itulah spesialnya tempat ini. Pelanggan benar-benar menjadi raja. Pelayanan ramah, meskipun makanannya agak lama disajikan. Ya iyalah, semuanyakan butuh proses. Bahkan mie instan saja, toh harus di rebus dulu. Tempat ini Free wifi plus colokan kalau hp kehabisan batrey. Itu yang bikin aku sama Rino betah berlama-lama di kaffe ini. Kalau Caca lebih suka mencoba tempat-tempat yang baru. Aku sih kalau udah nyaman sama sesuatu, ya bakalan nggak berpaling. apapun yang terjadi. Baper lagi.
Sempurna. Kafe ini mendadak serasa pindah ke India. Si Mbak pramusaji ngambek dan memutar semua lagu-lagu india di play list-nya, padahal tadi aku Cuma request dua lagu. Mungkin si mbak takut dengan kemungkinan yang kan terjadi jika ia tetap memutar lagu-lagu galau. Si mbak memang baik hati. Aku tenggelam dengan khayalanku.
“Ca, cariin gebetan ditempatmu, donk?” Didit membuka suara.
Sontak khayalan tentang Shahruk Khan menghilang diudara.
“Yang kemarin kemana?” Caca bertanya penuh wibawa.
“Udah selesai.” Jawabnya singkat.
“Hah? Semudah itu? Apa yang sih kamu cari?” Nada suaraku meninggi. Caca memperlihatkan kepalan tinjunya sebagai isyarat agar aku diam.
Didit masih diam, mempermainkan sendok nasi gorengnya. Si Rino santai-santai aja sesekali menyela dan kembali menikmati rokoknya.
“Hmmm… nanti aku coba cariin.” Caca memberikan harapan. Aku baru saja ingin protes tapi kakiku buru-buru diinjak Caca.
Dari dulu sampai sekarang aku masih belum mengerti apa sih yang dicari lelaki. Kalo jomblo, mati-matian nyari gebetan. Pas dapet, mudah ditinggalin. Emang nggak ada komitmen gitu atau apa kek yang mengikat. Mudah sekali mengakhiri sebuah hubungan.
Dipenghujung malam Didit sudah kembali tersenyum, mungkin karena harapan palsu Caca. Yang jelas sebelum pulang semua biasa-biasa saja. Tak ada acara balap-balapan siapa yang bakalan sampai lebih dulu dikos.
***
Dua minggu semenjak pertemuan malam itu, Caca diteror oleh Didit dengan pesan menagih janjinya.
“Kamu sih, PHP-in Didit.” Protesku.
“Sekedar memberikan harapan saja, biar dia semangat lagi. Nggak tau bakalan seserius ini.”
“Bukan gitu caranya, Ca. Kasih pencerahan kek tentang hakikat mencari pasangan.” Kataku berapi-api.
“Sok, bijak lu.” Caca menimpukku dengan bantal.
Caca kembali melakukan rutinitasnya, luluran. Dan mataku tibs-tiba terbelalak.
“Ca, liat status BBM-nya Didit.”
Caca dengan cepat meraih hp-nya diatas kasur. Buru-buru melihat status dan pic yang dipasang Didit.
“Gebetan baru lagi kayaknya. Syukur deh, setidaknya aku bebas dari tugas mak comblang.”
 “Ekh, nggak boleh gitu. Kita sebagai teman yang baik harus menasehati Didit biar nggak salah pilih lagi. Bisa ajakan cantik tapi matre, atau cantik tapi oon. sebagai  sesama jomblo, eh sebagai sesama teman yang peduli, kita harus menasehati Didit, jangan sampai jatuh ke jurang yang sama. Kamu juga nggak mau kan kalau Didit galau lagi.” Jelasku panjang lebar.
“Huuuu… lebbay lu, Na. terlalu mendramatisir. Ikut senang kek, malah sewot.”
“Bukan gitu, Ca,…”
“Udah udah udah, aku mau mandi.” Caca berlalu kebelakang.
***
Didit kembali menjadi ceria, diwaktu senggang kami pergi nonton dan nongkrong di kaffe out door. Semua kembali normal. Tapi dia tetap lebih banyak diam dengan hp-nya. Bukan karena main game seperti tempo hari, tapi sibuk chat sama si miss BBM ini. Percuma juga menasehati agar jangan terlalu terbuai dengan dunia maya bisa saja semua berujung kekecewaan, tapi sebelum mengatakan itu Caca akan segera menginjak kakiku, menyikut lenganku dan aksi menyakitkan lainnya.
Malam ini aku nginap lagi dikos-an Caca, iseng saja biar punya temen rumpi sekalian nebeng makan gratis. Maklum kiriman dari rumah tak kunjung tiba. Saat sedang menikmati sup iga sapi buatan Caca, ada seseorang yang mengetuk pintu. Dan betapa terkejutnya aku ternyata itu Didit dengan kabut tebal berpuluh-puluh lapis yang menggantung diwajahnya. Aku memang ahli menebak suasana hati seseorang dari raut wajah.
Dia langsung menjatuhkan badan diatas kasur. Caca menatapku meminta penjelasan. Aku mengangkat bahu sambil menggeleng. Caca memberikan isyarat agar aku tak bertanya macam-macam. Caca menghilang sekejap dan kembali dengan secangkir teh hangat.
“Minum dulu, Dit. Diluar gerimis.” Caca memang sahabat yang pengertian.
Dia bangun dengan malas, duduk bersila dan mengusap wajahnya. Ia menunduk lama sekali. Kali ini tanpa menatap hp-nya. Hampir satu jam kami diam-diaman.
“Ternyata  dia tak secantik fotonya.” Didit akhirnya membuka suara.
“Si miss BBM itu maksud kamu?” Caca pura-pura bertanya. Didit mengangguk pelan.
Aku buru-buru menyela.
“Bisa saja cantik gara-gara camera atau ngeditnya yang keterlaluan. Sekarangkan lagi trendnya camera 360 yang buat wajah jadi kinclong atau camera B12.” Sambil mengunyah sisa daging sapi terakhir.
Camera B612 Hana sayang, kalau B12 itu vitamin.” Caca melotot kearahku.
Aku hanya bisa nyengir kuda.
Didit tetap diam, menyeruput teh hangatnya, mengusap wajah, menghembuskan nafas perlahan. Dia menatap kami secara bergantian.
“Mungkin belum jodoh.” Caca sok bijak lagi.
“Kamu sebenarnya nyari apa sih, Dit, katanya nggak perlu cantik yang penting baik. Bisa sajakan miss jelek itu, ekh maksudku miss bbm itu hatinya baik. Jangan memvonis dia hanya karena satu kali pertemuan.” Nadaku mulai meninggi.
“Seperti yang kamu bilang, Na. Ngeditnya keterlaluan. Jauh banget difoto sama aslinya.” Didit mulai terpancing.
“Bukannya kemaren kamu bilang nggak perlu cantik yang penting baik? Mana sih yang benar, konsisten donk sama omongan.” Aku mendadak emosi, mungkin syndrome pra-menstruasi.
“Hana, teman sedih bukannya dihibur malah ceramah.” Caca melerai.
Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha membujuk hati agar tak emosi. Berusaha meniru gaya bicara Caca yang kaya’ emak-emak.
“Makanya, nyari pasangan hidup itu berangkat dari niat yang tulus biar nggak dapat yang modus.”
“Yah, jomblo lagi deh.” Didit berusaha melucu.
Kami bertiga serentak tertawa, Rino  yang baru tiba didepan pintu menatap kami keheranan.

***




  1.                                                  

0 komentar:

Posting Komentar