Senin, 13 Juni 2016

DEWASA ITU NGGAK ENAK






13 Juni 2016
8 Ramadhan 1437 H

DEWASA ITU NGGAK ENAK

Andai waktu bisa diputar, aku ingin kembali ke masa kecil. Masa dimana masalah terbesar hanyalah mengerjakan PR Matematika, dijemur didepan tiang bendera karena terlambat upacara, dicubit karena sholatnya bolong, dan tangan dipukul pakai penggaris kayu karena lupa potong kuku.
Usai makan siang sepulang sekolah, langsung berkumpul bersama teman-teman main rumah-rumahan, masak-masakan, lompat tali, kejar-kejaran sampai tarik tambang. Tak peduli meski panas-panasan, Tak peduli kulit gosong dan rambut bau matahari, bahagia tak pernah sirna dari wajah-wajah kami. Tak peduli mandi tanpa sabun dan sampo, tetap saja selalu riang dan bernyanyi. Pergi beramai-ramai mandi dipantai. Meski pulang sering dihadiahi sapu lidi,
Aku masih ingat dengan jelas waktu itu Kakak sedang berkumpul dengan teman-teman seusianya. Aku melihat sepertinya menjadi orang dewasa itu adalah sesuatu yang hebat. Bisa beli baju sendiri, beli sepatu, tas baru dan banyak lagi. Saat itu aku ingin cepat-cepat menjadi dewasa, berdoa agar aku cepat lulus sekolah. Dan merasakan seperti apa dewasa yang ‘hebat’ menurutku.
Jadi dewasa itu ternyata nggak enak. terlalu banyak tuntutan. Mandi tanpa sabun dan sampo serasa dunia mau runtuh, belum lagi saat jerawat tumbuh, apa lagi saat kuku patah, langung curhat sama teman. Tidak mau berpanas-panasan, apalagi hujan-hujanan, selalu punya banyak masalah hati, sms tak dibalas pujaan hati galaunya sesemesta, selalu merisaukan banyak hal. Bahkan sebelum tidurpun selalu cemas akan hari esok.
Bagaimana caranya untuk kembali ke masa kecil?
Adakah alat ajaib seperti yang dimiliki Doraemon?
Lalu kecemasan itu kembali menghuni sebagian jiwa. Betah berlama-lama dalam hati dan fikiran.
Bagaimana jika ini? Bagaima jika itu?
Jangan-jangan nanti begini, jangan-jangan nanti begitu.
Takutnya  jadi begini, takutnya jadi begitu.
Kenapa aku begini? kenapa bukan begitu?
Ahhh…
Setiap hari selalu diawali dengan keluhan. seolah tidak pernah bahagia. Selalu mencemaskan sesuatu, selalu diliputi rasa ragu, gundah, dan segala macam perasaan tidak enak lainnnya. Setelah itu aku kemudian berfikir, sepertinya ada yang salah pada diriku. Ternyata aku jarang mensyukuri semua pemberian Allah. Nikmat kesehatan, kesempatan, dan cinta orang-orang disekelilingku. Aku terlalu sibuk mengamati kemewahan orang lain. Padahal belum tentu mereka bahagia. Sejak saat itu, setiap pagi aku bangun dengan penuh rasa syukur.
Ternyata dewasa itu enak juga…
Menjadi dewasa, kita akan tau banyak hal. Kita bisa menilai mana yang bisa dilakukan dan tidak, mana  sesuatu yang bisa dijadikan panutan mana yang harus diabaikan. Mana sesuatu yang harus kita perjuangkan dan yang harus kita tinggalkan.
Dewasa mengajarkan kita akan artinya hidup. Dewasa bukan seperti yang ku fikirkan pada masa kanak-kanak dulu. Dewasa adalah proses awal ku memulai sebuah kehidupan baru. Kehidupan untuk terus bersyukur atas semua pemberian-Nya. Dan menjadi dewasa aku  faham, tentang kehidupan yang ‘sesungguhnya’.
 Bersyukurlah…
Syukuri setiap detik yang kau miliki. Tidak usah khawatir akan hari esok. Lakukanlah yang terbaik untuk hari ini, dan bersiaplah untuk menjadi lebih baik pada hari-hari kedepannya. Tidak usah cemaskan tentang rezekimu, tentang usiamu yang belum menemukan jodoh, dan tentang pekerjaanmu yang belum menetap. Sesungguhnya Allah sudah menentukan semuanya, jauh sebelum kita terlahir ke dunia.

“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)




copas picture:
https://www.google.com/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Ftabungwakaf.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2015%2F10%2Flarge.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Ftabungwakaf.com%2Fbelum-bersyukur-jika-masih-seperti-ini%2F&docid=7UAu7knklMQfjM&tbnid=tCUJRq_wx_LUYM%3A&w=500&h=285&bih=657&biw=1366&ved=0ahUKEwjTnKnzk6XNAhWMro8KHQ-1Ao8QMwg0KAcwBw&iact=mrc&uact=8

0 komentar:

Posting Komentar