Minggu, 26 Juni 2016

KAUKAH JODOHKU? ATAU PENGHALANG JODOHKU YANG SEBENARNYA?



22 Juni 2016
17 Ramadhan 1437 H

KAUKAH JODOHKU?
ATAU PENGHALANG JODOHKU YANG SEBENARNYA?

Hubungan ini tak pernah mulus. Ada-ada saja yang selalu mengganggu. Ada-ada saja yang selalu mengusik. Dan anehnya, selalu saja kau yang diganggu. Selalu saja kau yang diusik. Atau kau yang sengaja mengganggu mereka? Atau kau yang sengaja mengusik mereka? Atau mungkin kalian sepakat untuk saling mengganggu? Sepakat untuk saling mengusik? Entahlah. Ini sudah beberapa kali terjadi. Dan lagi-lagi aku mengikhlaskan segalanya. Memaafkanmu. Lagi dan lagi.
Aku berfikir, akukah yang salah dalam hubungan ini atau dirimu? Aku bingung. Kadang aku berfikir kau adalah jodohku. Karena kita sudah melewati beribu-ribu hari. Saling menunggu, saling memperjuangkan. Namun disisi lain, keraguan itu datang menghampiri. Bukankah jodoh rahasia Ilahi? Lalu, siapa aku yang bisa menebak-nebaknya sendiri.
Jika aku selalu saja memafkanmu, pasti kau tak akan jera. Kemungkinan besar, kau akan kembali mengulangi kesalahan yang sama. Karena kau berfikir, aku pasti memaafkanmu. Kesalahan yang dimaafkan satu atau dua kali, maka secara tidak langsung membuka peluang untuk  mengulangi kesalahan ketiga kali, empat  dan seterusnya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meninggalkanmu? Meninggalkan semua yang sudah kita perjuangkan selama ini?
Terkadang aku juga berfikir, kaukah jodohku? Atau kaukah yang menghalangi jodohku yang sebenarnya? Jika kau jodohku, kenapa Tuhan begitu sulit mempersatukan kita dalam ikatan yang halal? Apakah Tuhan masih ingin melihat sejauh mana kita berjuang? Sejauh mana kita bertahan meskipun tersakiti? Sejauh mana kita tetap mencintai meskipun sering terabaikan?
Ataukah memang Tuhan ingin memperlihatkan sesuatu kepadaku? kepada kita. Atau memang Tuhan sengaja menghadirkan masalah-masalah diantara kita, agar kita berdua sadar. Bahwa kita dipertemukan bukan untuk saling memiliki. Hanya sebatas dipertemukan, bukan untuk disatukan.
Mungkin Tuhan ingin aku mengetahui satu hal, bahwa kau bukanlah pemilik tulang rusukku yang sebenarnya. Bahwa bukan kau yang akan menjadi imamku nanti. Bahwa kita berdua harus menghentikan ini. Menghentikan perjuangan kita selama ini. Dan mengambil jalan masing-masing. Memperbaiki diri dalam menyambut sang penggenap separuh agama.

Jika kau benar-benar adalah jodohku, maka datanglah pada keluargaku. Bawa rombonganmu. Buktikan semua kesungguhanmu. Pinang aku dengan kemampuanmu.  Jika keluargaku memberatkanmu, Aku berada dipihakmu. Kan kuberi pengertian kepada mereka atas niat muliamu yang ingin menghalalkanku. Dan jika dihatimu masih ragu, maka tinggalkan aku. Berhentilah disitu. Pilihlah jalanmu. Temukan bidadarimu. Dan jangan menoleh lagi padaku.

0 komentar:

Posting Komentar