22 Juni 2016
17 Ramadhan 1437 H
KAUKAH JODOHKU?
ATAU PENGHALANG JODOHKU
YANG SEBENARNYA?
Hubungan ini tak
pernah mulus. Ada-ada saja yang selalu mengganggu. Ada-ada saja yang selalu
mengusik. Dan anehnya, selalu saja kau yang diganggu. Selalu saja kau yang
diusik. Atau kau yang sengaja mengganggu
mereka? Atau kau yang sengaja mengusik mereka? Atau mungkin kalian sepakat
untuk saling mengganggu? Sepakat untuk saling mengusik? Entahlah. Ini sudah
beberapa kali terjadi. Dan lagi-lagi aku mengikhlaskan segalanya. Memaafkanmu.
Lagi dan lagi.
Aku berfikir,
akukah yang salah dalam hubungan ini atau dirimu? Aku bingung. Kadang aku
berfikir kau adalah jodohku. Karena kita sudah melewati beribu-ribu hari. Saling
menunggu, saling memperjuangkan. Namun disisi lain, keraguan itu datang menghampiri.
Bukankah jodoh rahasia Ilahi? Lalu, siapa
aku yang bisa menebak-nebaknya sendiri.
Jika aku selalu
saja memafkanmu, pasti kau tak akan jera. Kemungkinan besar, kau akan kembali mengulangi
kesalahan yang sama. Karena kau berfikir, aku pasti memaafkanmu. Kesalahan yang
dimaafkan satu atau dua kali, maka secara tidak langsung membuka peluang untuk mengulangi kesalahan ketiga kali, empat dan seterusnya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meninggalkanmu?
Meninggalkan semua yang sudah kita perjuangkan selama ini?
Terkadang aku juga
berfikir, kaukah jodohku? Atau kaukah
yang menghalangi jodohku yang sebenarnya? Jika kau jodohku, kenapa Tuhan begitu sulit mempersatukan kita
dalam ikatan yang halal? Apakah Tuhan masih ingin melihat sejauh mana kita berjuang?
Sejauh mana kita bertahan meskipun tersakiti? Sejauh mana kita tetap mencintai
meskipun sering terabaikan?
Ataukah memang Tuhan ingin memperlihatkan sesuatu
kepadaku? kepada kita. Atau memang Tuhan sengaja
menghadirkan masalah-masalah diantara kita, agar kita berdua sadar. Bahwa kita
dipertemukan bukan untuk saling memiliki. Hanya sebatas dipertemukan, bukan
untuk disatukan.
Mungkin Tuhan
ingin aku mengetahui satu hal, bahwa kau bukanlah pemilik tulang rusukku yang
sebenarnya. Bahwa bukan kau yang akan menjadi imamku nanti. Bahwa kita berdua
harus menghentikan ini. Menghentikan perjuangan kita selama ini. Dan mengambil
jalan masing-masing. Memperbaiki diri dalam menyambut sang penggenap separuh
agama.
Jika kau benar-benar
adalah jodohku, maka datanglah pada keluargaku. Bawa rombonganmu. Buktikan
semua kesungguhanmu. Pinang aku dengan kemampuanmu. Jika keluargaku memberatkanmu, Aku berada
dipihakmu. Kan kuberi pengertian kepada mereka atas niat muliamu yang ingin
menghalalkanku. Dan jika dihatimu masih ragu, maka tinggalkan aku. Berhentilah
disitu. Pilihlah jalanmu. Temukan bidadarimu. Dan jangan menoleh lagi padaku.







0 komentar:
Posting Komentar