Rabu, 22 Juni 2016

SETIA MENANTIMU

17 Juni 2016
13 Ramadhan 1437 H

SETIA MENANTIMU

Di halte yang kusinggahi siang itu, nampak seorang Kakek dengan sebuah tas belanjaannya yang berisi sayur dan rempah-rempah. Ia mengenakan kemeja abu-abu yang sudah lusuh, celana panjang yang tidak layak dibilang warna hitam lagi, dan sebuh peci hitam yang mulai pudar. Ia sedang memandang langit yang mulai mendung. Pandangannya kosong, seperti memikirkan sesuatu.
Sebenarnya bukan itu yang menarik perhatianku, tapi sebuah tulisan yang ada di pergelangan tangannya. ‘Setia Menantimu’. Rasa penasaranpun menghinggapiku. Aku perlahan mendekatinya, berbasa-basi kemudian menanyakan tulisan dilengannya.
“Kakek, di tato itu sakit nggak ya?” Semoga saja Kakek ini tidak risih.
Kakek itu menoleh padaku, kemudian melihat tulisan dilengannya. Ia tersenyum.
“Maksud kamu ini?” Ia menunjukkan lengannya.
Aku mengangguk mantap. Aku bisa membacanya dengan jelas. ‘SETIA MENANTIMU’. Ditulis dengan huruf balok.
“Sakit. Tapi lebih sakit ketika dia pergi meninggalkan Kakek.”
Kata-kata Kakek itu begitu dalam. Mungkin aku telah salah menanyainya tentang tulisan  itu. Sepertinya aku tak sengaja menyentuh luka yang mulai mengering.
“Dia? Maksud Kakek?” Aku pura-pura bingung, padahal itu adalah wujud dari rasa penasaranku.
“Dia, wanita yang Kakek cintai sampai detik ini.”
Sampai detik ini? Begitu besarkah cinta Kakek ini hingga menunggu sampai usia senja? Aku semakin penasaran.
“Memangnya dia kemana, Kek?” Aku memandang lekat wajah Kakek.
“Dia pergi kesebuah Kota, katanya pasti akan kembali.” Jawab Kakek sambil memandang langit, gerimis mulai turun, matanyapun mulai berkaca-kaca.
“Kakek, tidak coba mencarinya?”
“Sudah, bahkan berkali-kali. Tapi Kakek tidak tau alamatnya.”
“Atau mungkin dia sudah bersama orang lain, Kek?”
Satu bulir air mata jatuh. Perlahan merayap dikulit pipi Kakek yang mulai keriput. Aku mengigit bibir, merasa bersalah telah mengucapkan kalimat itu.
“Entahlah, tapi janji tetaplah janji. Sebelum dia pergi, kami berjanji untuk tetap saling mencintai apapun yang terjadi. Tak peduli meski jarak memisahkan, tak peduli jika suatu saat kami tidak bisa bersama. Kami sudah berjanji untuk tetap saling mencintai. Didalam hati. Karena sejatinya, cinta tak harus saling memiliki.”
Kini, malah aku yang tak kuasa menahan haru. Sebegitu dalamnyakah cinta Kakek pada wanita itu? Sampai harus berkorban menunggunya yang tak kunjung datang?
“Kakek, tidak mencoba untuk mencari penggantinya?”
“Sudah, bahkan berkali-kali. Namun, entahlah. Kakek tidak bisa melupakannya. Jadi lebih baik Kakek berhenti mencari dan tetap menantinya.”
“Kakek, masih yakin akan bertemu dengan dia?”
Kakek itu mengusap matanya yang sembab, dengan sapu tangan abu-abu dari sakunya.
“Kakek yakin, sangat yakin. Suatu saat, Kakek pasti akan bertemu dengan dia. Jika bukan di dunia ini, mungkin di dunia lain.”
“Nak, berjanjilah dengan hati, bukan hanya dibibir. Kelak yang datang dari hati pasti akan kembali kehati.” Ia menepuk pundakku dan berlalu pergi.
Sekali lagi aku mengusap air mataku, berdoa dalam hati. Semoga Allah mengabulkan mimpi sederhana Kakek itu.


***



copas picture:
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Fpks-riyadh.org%2Fwp-content%2Fuploads%2F2015%2F01%2Fjanji.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fpks-riyadh.org%2Fmenepati-janji-janji-mu%2F&docid=RHX1vH4TBUnLkM&tbnid=IxzfQziTmGxdoM%3A&w=683&h=427&bih=575&biw=1034&ved=0ahUKEwiV1_uj47vNAhWBOI8KHXG3CH8QMwgaKAAwAA&iact=mrc&uact=8

0 komentar:

Posting Komentar