17 Juni 2016
13 Ramadhan 1437 H
SETIA MENANTIMU
Di halte yang
kusinggahi siang itu, nampak seorang Kakek dengan sebuah tas belanjaannya yang
berisi sayur dan rempah-rempah. Ia mengenakan kemeja abu-abu yang sudah lusuh,
celana panjang yang tidak layak dibilang warna hitam lagi, dan sebuh peci hitam
yang mulai pudar. Ia sedang memandang langit yang mulai mendung. Pandangannya
kosong, seperti memikirkan sesuatu.
Sebenarnya bukan itu
yang menarik perhatianku, tapi sebuah tulisan yang ada di pergelangan tangannya.
‘Setia Menantimu’. Rasa penasaranpun menghinggapiku. Aku perlahan mendekatinya,
berbasa-basi kemudian menanyakan tulisan dilengannya.
“Kakek, di tato itu
sakit nggak ya?” Semoga saja Kakek ini tidak risih.
Kakek itu menoleh padaku, kemudian
melihat tulisan dilengannya. Ia tersenyum.
“Maksud kamu ini?” Ia
menunjukkan lengannya.
Aku mengangguk mantap.
Aku bisa membacanya dengan jelas. ‘SETIA MENANTIMU’. Ditulis dengan huruf
balok.
“Sakit. Tapi lebih
sakit ketika dia pergi meninggalkan Kakek.”
Kata-kata Kakek itu
begitu dalam. Mungkin aku telah salah menanyainya tentang tulisan itu. Sepertinya aku tak sengaja menyentuh luka
yang mulai mengering.
“Dia? Maksud Kakek?” Aku
pura-pura bingung, padahal itu adalah wujud dari rasa penasaranku.
“Dia, wanita yang Kakek
cintai sampai detik ini.”
Sampai
detik ini? Begitu
besarkah cinta Kakek ini hingga menunggu sampai usia senja? Aku semakin
penasaran.
“Memangnya dia kemana,
Kek?” Aku memandang lekat wajah Kakek.
“Dia pergi kesebuah Kota,
katanya pasti akan kembali.” Jawab Kakek sambil memandang langit, gerimis mulai
turun, matanyapun mulai berkaca-kaca.
“Kakek, tidak coba
mencarinya?”
“Sudah, bahkan
berkali-kali. Tapi Kakek tidak tau alamatnya.”
“Atau mungkin dia sudah
bersama orang lain, Kek?”
Satu bulir air mata jatuh.
Perlahan merayap dikulit pipi Kakek yang mulai keriput. Aku mengigit bibir,
merasa bersalah telah mengucapkan kalimat itu.
“Entahlah, tapi janji
tetaplah janji. Sebelum dia pergi, kami berjanji untuk tetap saling mencintai
apapun yang terjadi. Tak peduli meski jarak memisahkan, tak peduli jika suatu
saat kami tidak bisa bersama. Kami sudah berjanji untuk tetap saling mencintai.
Didalam hati. Karena sejatinya, cinta tak harus saling memiliki.”
Kini, malah aku yang
tak kuasa menahan haru. Sebegitu dalamnyakah cinta Kakek pada wanita itu?
Sampai harus berkorban menunggunya yang tak kunjung datang?
“Kakek, tidak mencoba
untuk mencari penggantinya?”
“Sudah, bahkan
berkali-kali. Namun, entahlah. Kakek tidak bisa melupakannya. Jadi lebih baik Kakek
berhenti mencari dan tetap menantinya.”
“Kakek, masih yakin
akan bertemu dengan dia?”
Kakek itu mengusap
matanya yang sembab, dengan sapu tangan abu-abu dari sakunya.
“Kakek yakin, sangat
yakin. Suatu saat, Kakek pasti akan bertemu dengan dia. Jika bukan di dunia
ini, mungkin di dunia lain.”
“Nak, berjanjilah
dengan hati, bukan hanya dibibir. Kelak yang datang dari hati pasti akan
kembali kehati.” Ia menepuk pundakku dan berlalu pergi.
Sekali lagi aku
mengusap air mataku, berdoa dalam hati. Semoga Allah mengabulkan mimpi
sederhana Kakek itu.
***
copas picture:
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Fpks-riyadh.org%2Fwp-content%2Fuploads%2F2015%2F01%2Fjanji.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fpks-riyadh.org%2Fmenepati-janji-janji-mu%2F&docid=RHX1vH4TBUnLkM&tbnid=IxzfQziTmGxdoM%3A&w=683&h=427&bih=575&biw=1034&ved=0ahUKEwiV1_uj47vNAhWBOI8KHXG3CH8QMwgaKAAwAA&iact=mrc&uact=8







0 komentar:
Posting Komentar