07 Juni 2016
2 Ramadhan 1437 H
PAK MUADZIN! MAAFKAN
AKU
Alhamdulillah,
memasuki hari ke-2 Ramadhan. Puji syukur tak lupa kita panjatkan kepada Allah
SWT, yang tak pernah bosan-bosan mencurahkan segala nikmat dan karunia-Nya.
Meskipun kita sering lupa untuk bersyukur.
Usai sahur, aku
bergegas mengambil air wudhu, karena ingin tiba lebih awal untuk sholat shubuh
di Masjid. Adzan berkumandang dari masjid lain, samar-samar terdengar, tapi
sungguh merdu. Aku jadi teringat muadzin yang sering mengumandangkan adzan di masjid
yang selalu kudatangi.
Ramadhan tahun
lalu, aku sering mendengar Bapak itu mengumandangkan adzan di masjid dekat
tempat tinggalku. Suaranya seperti lagu tanpa nada. Datar. Melow. Patah-patah,
menyayat hati. Jika mendengarnya aku malah malas beranjak dari tempat tidur.
Bukankah muadzin itu seharusnya memiliki suara yang
indah?
Seingatku, ada orang
lain, selain Pak muadzin itu yang pernah mengumandangkan adzan maghrib, dan
suaranya sungguh merdu. Jadi merinding jika mendengarnya. Sesaat rindu
menghinggapi hatiku, rindu akan orang-orang yang telah terpisah jauh, rindu
akan rumah dan rindu akan segala kebersamaan yang terlewati.
Kenapa bukan Bapak itu saja yang jadi muadzin setiap
sholat?
Bukankah Bilal bin Rabah, muadzin di zaman Rasulullah
memiliki suara yang merdu? Yang membuat para sahabat meneteskan air mata setiap
kali suaranya membelah langit?
Selama setahun
terakhir, masih tetap suaranya Pak muadzin itu yang terdengar, sedangkan
Muadzin yang satunya lagi hanya terdengar jika tiba sholat Jum’at dan Maghrib.
Itupun jarang. Dan pada ramadhan kali ini, Allah masih memberikan kesempatan
kepadaku untuk mendengarkan suara adzannya.
Sungguh, aku tak begitu menyukai suaranya.
Suara klakson
kendaraan membuyarkan lamunanku selama perjalan menuju masjid.
Saat tiba dihalaman masjid, aku
berpapasan dengan Pak muadzin itu. Penampilannya sangat sederhana. Wajahnya
teduh memancarkan aura kebaikan, Ia tersenyum menyapaku.
Tiba-tiba saja
seperti ada tamparan keras diwajahku. Muadzin yang tak kusukai suaranya,
tersenyum tulus menyapaku. Padahal selama ini aku tidak menyukai suaranya. Aku
mematung, tak kuasa membalas senyumannya.
Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah.. Ya Allah,
ampuni dosa-dosa hamba.
Apalah arti
suara indah jika jarang datang ke rumah-Nya. Meski suara Pak muadzin itu tidak
semerdu Bilal, namun ia telah mengabdikan dirinya di rumah Allah. Tak peduli
meski hujan, tak peduli panas, tak peduli ada berapa jamaah yang akan datang, ia tetap mengumandangkan adzan setiap
waktu sholat tiba.
Bagaimana mungkin selama ini aku tidak menyukai
suaranya?
Bukankah Bilal bin Rabah adalah seorang budak
berkulit hitam? namun Rasullullah begitu menyayangi dan memuliakannya.
Sedangkan aku yang hanya manusia biasa, yang masih
penuh dengan dosa-dosa, berani sekali tidak menyukai suara orang yang sangat
mencintai rumah Allah.
Adzan subuh
berkumandang. Rasa bersalah menyelimuti hatiku.
Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah.. Ya
Allah, ampuni dosa-dosa hamba.
Mulai detik ini
aku memutuskan untuk mencintai suara adzan Bapak itu. Mencintai seruan langit, mencintai
seruan kebaikan darinya.
Ampuni hamba, Ya Allah.
Maafkan aku, Pak Muadzin.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:
216)
copas picture:
https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Fwww.duniaislam.org%2Fwp-content%2Fuploads%2F2015%2F06%2FInilah-Keistimewaan-Keutamaan-Dan-Pahala-Azan-Bagi-Para-Muadzin-300x215.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fwww.duniaislam.org%2F02%2F06%2F2015%2Finilah-keistimewaan-keutamaan-dan-pahala-azan-bagi-para-muadzin%2F&docid=9BpT3ouueHdVHM&tbnid=Ybb_N43o6xv5cM%3A&w=300&h=215&bih=623&biw=1360&ved=0ahUKEwjvgoW8u5XNAhUGr48KHQznA_gQMwgkKAIwAg&iact=mrc&uact=8






0 komentar:
Posting Komentar