Minggu, 26 Juni 2016

IBU, AKU TAK INGIN MERINDUKANMU

24 Juni 2016
19 Ramadhan 1437 H

IBU, AKU TAK INGIN MERINDUKANMU
Setelah menulis sesuatu tentang Ayah, aku jadi ingat tentangmu Ibu. Namun sayang sekali, seperti Ayah, aku juga tak punya kenangan berharga denganmu. Sungguh, aku sudah memaksa memoryku untuk mengenang setiap moment indah bersamamu. Namun, aku tak bisa. Melukis wajahmu diawan saja aku tak bisa.
Ibu…
Seperti apa rupamu? Miripkah wajahmu denganku? Apakah mata kita sama? Rambut, hidung, bibir. Apakah aku mirip sepertimu?
Aku hanya tau sedikit tentangmu, Ibu. Aku tau ketegaranmu dari cerita orang-orang dirumah. Aku tau kau adalah wanita hebat, wanita yang kuat, wanita yang tegar. Kata mereka kau sangat menyayangiku. Bahkan kau punya nama kesayangan untukku. Sampai saat menjelang kepergianmu pada ramadhan yang telah berlalu, kau masih sempat menyebut namaku. Kau masih sempat berwasiat untukku. Sungguh, aku tau kau sangat menyayangiku.
Aku pernah melihat gambarmu. Gambar usang.  Digambar itu hanya ada kau dan kakak. Berarti aku tak memiliki potret bersamamu. Tapi setidaknya aku sudah tau seperti apa wajahmu. Itupun aku masih sangat kesulitan untuk membayangkannya sendiri.
Ibu…
Maafkan aku. Aku tak ingin merindukanmu. Aku lebih memilih merindukan Nenek yang selalu ada untukku. Meski kini beliau juga telah pergi. Aku tau kita berpisah atas kehendak-Nya. Namun sekali lagi, aku tak bisa merindukanmu. Aku hanya ingin merindukan Nenek. Maafkan aku.

Percayalah, aku juga menyayangimu. Aku mencintaimu. Namamu selalu menjadi awal dari doa-doaku. Aku selalu mendoakanmu. Apakah doaku sampai, Ibu? Maafkan aku Ibu. Aku mencintaimu namun aku tak ingin merindukanmu.

0 komentar:

Posting Komentar