24 Juni 2016
19 Ramadhan 1437 H
IBU, AKU TAK INGIN
MERINDUKANMU
Setelah menulis
sesuatu tentang Ayah, aku jadi ingat tentangmu Ibu. Namun sayang sekali,
seperti Ayah, aku juga tak punya kenangan berharga denganmu. Sungguh, aku sudah
memaksa memoryku untuk mengenang setiap moment indah bersamamu. Namun, aku tak
bisa. Melukis wajahmu diawan saja aku tak bisa.
Ibu…
Seperti apa rupamu? Miripkah wajahmu denganku? Apakah
mata kita sama? Rambut, hidung, bibir. Apakah aku mirip sepertimu?
Aku hanya tau
sedikit tentangmu, Ibu. Aku tau ketegaranmu dari cerita orang-orang dirumah.
Aku tau kau adalah wanita hebat, wanita yang kuat, wanita yang tegar. Kata
mereka kau sangat menyayangiku. Bahkan kau punya nama kesayangan untukku. Sampai
saat menjelang kepergianmu pada ramadhan yang telah berlalu, kau masih sempat
menyebut namaku. Kau masih sempat berwasiat untukku. Sungguh, aku tau kau
sangat menyayangiku.
Aku pernah
melihat gambarmu. Gambar usang. Digambar
itu hanya ada kau dan kakak. Berarti aku tak memiliki potret bersamamu. Tapi
setidaknya aku sudah tau seperti apa wajahmu. Itupun aku masih sangat kesulitan
untuk membayangkannya sendiri.
Ibu…
Maafkan aku. Aku
tak ingin merindukanmu. Aku lebih memilih merindukan Nenek yang selalu ada
untukku. Meski kini beliau juga telah pergi. Aku tau kita berpisah atas
kehendak-Nya. Namun sekali lagi, aku tak bisa merindukanmu. Aku hanya ingin
merindukan Nenek. Maafkan aku.
Percayalah, aku
juga menyayangimu. Aku mencintaimu. Namamu selalu menjadi awal dari doa-doaku.
Aku selalu mendoakanmu. Apakah doaku
sampai, Ibu? Maafkan aku Ibu. Aku
mencintaimu namun aku tak ingin merindukanmu.







0 komentar:
Posting Komentar