Sabtu, 11 Juni 2016

BUAH NANAS YANG KITA TANAM BERSAMA




Gorontalo, 12 Juni 2016

BUAH NANAS YANG KITA TANAM BERSAMA

Entah kenapa kita berdua memutuskan untuk bertani. Itu ideku dan ternyata kau menyambutnya dengan baik. Kita sempat berdebat saat memutuskan akan mencoba usaha apa. Waktu itu aku memilih sebuah ice cream berwarna hijau, memperlihatkannya padamu dengan mata berbinar. Katamu terlalu kecil, cepat meleleh. Tidak bagus disimpan terlalu lama.
Ah, kau memang selalu protes dengan keputusanku.
Kemudian tanganmu meraih sebuah bibit Nanas. Di rak paling bawah sebuah toko yang kita singgahi sore itu.  Entahlah, kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan buah nanas.
Setelah berdiskusi beberapa saat, kita sepakat untuk menanam buah nanas. Meskipun kita berdua tidak tau apakah akan berhasil atau tidak.
Apa salahnya mencoba?
Kita berdua sepakat akan memberinya pupuk dan menyiramnya secara bergantian. Setiap hari akan menjenguknya agar semangat untuk berusaha dan berjuang tetap ada. Awalnya kita selalu rajin menjenguknya, melihat setiap inci pertumbuhannya. Lalu tiba-tiba kau berhari-hari tidak datang, aku menungguimu didepan kebun kecil kita.
Saat kau datang, aku merajuk. Marah dan mengacuhkanmu. Kau berusaha membujukku dan berjanji akan menyiram dan memberinya pupuk berlipat-lipat ganda. Aku luluh, meleleh seperti ice cream hijau yang ku perlihatkan padamu beberapa minggu lalu.
Aku ingin menuliskan sebuah kisah tentang buah nanas. Aku belum tau harus menulis apa. Tapi aku ingin sekali mengabadikan ceritanya sejak pertama kita menanamnya.
Kini Sudah hampir semingggu kau tak menjenguknya. Aku menyiramnya sendiri, memupuknya. Kau tau? Tunasnya sudah tumbuh. Meskipun masih terlalu kecil namun aku sangat bahagia. Aku tambah semangat untuk lebih memperhatikannya.
Apa kabar kamu disana?
Lupakah pada buah nanas yang kita tanam bersama?
Setiap kali melihat tunas-tunasnya tumbuh, aku teringat akan janji dan perjuangan kita.
Pak Petaniku…
Kuharap kau tidak lupa akan buah nanas yang kita tanam bersama. Kelak, saat musim panen tiba, aku ingin memetiknya bersamamu. Menghitung berapa banyak buah yang bisa kita hasilkan.
Semoga rasanya manis, ya.
            Sebenarnya aku tak sabar menunggu musim panen itu. . Aku membayangkan Kita berjalan beriringan menuju kebun mungil kita. Matahari hampir terbenam, angin dengan lembut mempermainkan ujung rambutmu. Kita berdua berbalas senyum dengan wajah penuh bahagia.
Semoga kita dapat memetik buahnya berdua. Setelah itu, kita akan datang bersama-sama membawakan hasil panen pada keluarga kita masing-masing, memperlihatkan dengan bangga hasil dari perjuangan kita selama ini, dan berterimakasih pada Tuhan karena telah mengabulkan segala doa-doa dan harapan kita.
Semoga…
 

0 komentar:

Posting Komentar