Gorontalo, 12 Juni 2016
BUAH NANAS YANG KITA TANAM BERSAMA
Entah kenapa kita
berdua memutuskan untuk bertani. Itu ideku dan ternyata kau menyambutnya dengan
baik. Kita sempat berdebat saat memutuskan akan mencoba usaha apa. Waktu itu
aku memilih sebuah ice cream berwarna
hijau, memperlihatkannya padamu dengan mata berbinar. Katamu terlalu kecil, cepat
meleleh. Tidak bagus disimpan terlalu lama.
Ah,
kau memang selalu protes dengan keputusanku.
Kemudian tanganmu
meraih sebuah bibit Nanas. Di rak paling bawah sebuah toko yang kita singgahi
sore itu. Entahlah, kenapa kau tiba-tiba
tertarik dengan buah nanas.
Setelah berdiskusi beberapa saat, kita
sepakat untuk menanam buah nanas. Meskipun kita berdua tidak tau apakah akan
berhasil atau tidak.
Apa
salahnya mencoba?
Kita berdua sepakat
akan memberinya pupuk dan menyiramnya secara bergantian. Setiap hari akan
menjenguknya agar semangat untuk berusaha dan berjuang tetap ada. Awalnya kita
selalu rajin menjenguknya, melihat setiap inci pertumbuhannya. Lalu tiba-tiba kau
berhari-hari tidak datang, aku menungguimu didepan kebun kecil kita.
Saat kau datang, aku
merajuk. Marah dan mengacuhkanmu. Kau berusaha membujukku dan berjanji akan
menyiram dan memberinya pupuk berlipat-lipat ganda. Aku luluh, meleleh seperti ice cream hijau yang ku perlihatkan
padamu beberapa minggu lalu.
Aku ingin menuliskan
sebuah kisah tentang buah nanas. Aku belum tau harus menulis apa. Tapi aku
ingin sekali mengabadikan ceritanya sejak pertama kita menanamnya.
Kini Sudah hampir
semingggu kau tak menjenguknya. Aku menyiramnya sendiri, memupuknya. Kau tau?
Tunasnya sudah tumbuh. Meskipun masih terlalu kecil namun aku sangat bahagia.
Aku tambah semangat untuk lebih memperhatikannya.
Apa kabar kamu disana?
Lupakah pada buah nanas yang kita
tanam bersama?
Setiap kali melihat tunas-tunasnya tumbuh,
aku teringat akan janji dan perjuangan kita.
Pak Petaniku…
Kuharap kau tidak lupa akan
buah nanas yang kita tanam bersama. Kelak, saat musim panen tiba, aku ingin
memetiknya bersamamu. Menghitung berapa banyak buah yang bisa kita hasilkan.
Semoga
rasanya manis, ya.
Sebenarnya aku tak sabar menunggu musim
panen itu. . Aku membayangkan Kita berjalan beriringan menuju kebun mungil
kita. Matahari hampir terbenam, angin dengan lembut mempermainkan ujung rambutmu.
Kita berdua berbalas senyum dengan wajah penuh bahagia.
Semoga kita dapat
memetik buahnya berdua. Setelah itu, kita akan datang bersama-sama membawakan
hasil panen pada keluarga kita masing-masing, memperlihatkan dengan bangga
hasil dari perjuangan kita selama ini, dan berterimakasih pada Tuhan karena
telah mengabulkan segala doa-doa dan harapan kita.
Semoga…







0 komentar:
Posting Komentar