Minggu, 26 Juni 2016

AYAH, IZINKAN AKU MEMBENCIMU

23 Juni 2016
18 Ramadhan 1437 H

AYAH, IZINKAN AKU MEMBENCIMU
Dihalaman depan Masjid, kulihat seorang Ayah yang sedang memakaikan sendal kepada putri kecilnya. Si putri kecil tersipu ketika sang Ayah memperbaiki mukenanya yang sedikit berantakan. Mereka berdua tampak bahagia. Kemudian mereka beranjak pergi. Berjalan sambil berpegangan tangan. Bercengkerama. Sesekali sang Ayah mengusap kepala putrinya. Sungguh, pemandangan yang menyesakkan dada.
Aku berjalan tepat dibelakang mereka. Sepertinya tempat tinggal kami searah. Aku tidak begitu jelas mendengar percakapan mereka. Yang jelas si putri kecil itu sangat bahagia, melompat, bersenandung. Sedangkan sang Ayah hanya tertawa melihat tingkah konyolnya. Sungguh, aku tak bisa menahan haru melihat pemandangan itu.
Ayah, dimana kau?
Pernahkah kau menggenggam tanganku waktu aku kecil dulu? Pernahkah kau mengusap kepalaku saat aku tertidur? Pernahkah kau menimangku sambil  menyanyikan lagu? Pernahkah kau memindahkanku saat tertidur didepan tv?
Ayah…
Maafkan aku, Maaf karena aku tak punya kenangan hebat bersamamu. Aku benar-benar sudah memaksa memoryku untuk mengingat segala sesuatu tentangmu. Namun sayangnya benar-benar tak ada. Sungguh, tak ada satupun kenangan yang mengingatkanku akan dirimu. Bahkan aku tak bisa membayangkan wajahmu. Melukis dianganpun aku tak bisa.
Ayah…
Seperti apa rupamu? Apakah kita memiliki kesamaan? Ah, aku sudah banyak mendengar cerita tentangmu. Dan bisa kusimpulkan, kau tak pernah menyayangiku. Entahlah, tapi setiap doaku selalu kusebut ‘ampunilah dosa kedua orang tuaku’. Padahal aku ingin sekali merubah doa itu, aku  hanya ingin mendoakan Ibu. Tapi tak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa merubah ayat Alquran.
Ayah….
Tidakkah kau mengingatku? Tidak pernahkah kau merindukanku? Tidak pernahkah kau berniat ingin menemuiku? Lihatlah! Aku sudah dewasa.
Ayah, izinkan aku membencimu…!!!


0 komentar:

Posting Komentar