23 Juni 2016
18 Ramadhan 1437 H
AYAH, IZINKAN AKU
MEMBENCIMU
Dihalaman depan
Masjid, kulihat seorang Ayah yang sedang memakaikan sendal kepada putri kecilnya.
Si putri kecil tersipu ketika sang Ayah memperbaiki mukenanya yang sedikit
berantakan. Mereka berdua tampak bahagia. Kemudian mereka beranjak pergi.
Berjalan sambil berpegangan tangan. Bercengkerama. Sesekali sang Ayah mengusap
kepala putrinya. Sungguh, pemandangan yang menyesakkan dada.
Aku berjalan
tepat dibelakang mereka. Sepertinya tempat tinggal kami searah. Aku tidak
begitu jelas mendengar percakapan mereka. Yang jelas si putri kecil itu sangat
bahagia, melompat, bersenandung. Sedangkan sang Ayah hanya tertawa melihat
tingkah konyolnya. Sungguh, aku tak bisa menahan haru melihat pemandangan itu.
Ayah, dimana kau?
Pernahkah kau menggenggam tanganku waktu aku kecil
dulu? Pernahkah kau mengusap kepalaku saat aku tertidur? Pernahkah kau
menimangku sambil menyanyikan lagu? Pernahkah
kau memindahkanku saat tertidur didepan tv?
Ayah…
Maafkan aku, Maaf
karena aku tak punya kenangan hebat bersamamu. Aku benar-benar sudah memaksa
memoryku untuk mengingat segala sesuatu tentangmu. Namun sayangnya benar-benar
tak ada. Sungguh, tak ada satupun kenangan yang mengingatkanku akan dirimu.
Bahkan aku tak bisa membayangkan wajahmu. Melukis dianganpun aku tak bisa.
Ayah…
Seperti apa rupamu? Apakah kita memiliki kesamaan? Ah,
aku sudah banyak mendengar cerita tentangmu.
Dan bisa kusimpulkan, kau tak pernah menyayangiku. Entahlah, tapi setiap doaku selalu kusebut ‘ampunilah dosa kedua orang tuaku’. Padahal aku ingin sekali merubah
doa itu, aku hanya ingin mendoakan Ibu.
Tapi tak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa
merubah ayat Alquran.
Ayah….
Tidakkah kau mengingatku? Tidak pernahkah kau
merindukanku? Tidak pernahkah kau berniat ingin menemuiku? Lihatlah! Aku sudah
dewasa.
Ayah, izinkan aku membencimu…!!!







0 komentar:
Posting Komentar