Senin, 06 Juni 2016

ISTIMEWANYA ANAK RANTAU




06 Juni 2016
1 Ramadhan 1437 H

ISTIMEWANYA ANAK RANTAU

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat kesehatan dan  umur panjang, hingga kita dapat berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh ampunan, bulan bertabur pahala. Bahkan memindahkan kerikil yang tergeletak ditengah jalanpun termasuk pahala. Subhanallah.
Menyambut bulan suci ramadhan media social banjir dengan status yang hampir sama. Ucapan permohonan maaf. Sholat tarwih perdana, bahkan sampai menu makananpun di update lewat media social. Tak apalah, setiap orang punya cara masing-masing dalam mengekspresikan kebahagiaan mereka.
Berbeda dengan mereka yang suka cita menyambut Ramadhan,  anak rantau justru malah berkeluh kesah. Walaupun tidak semuanya. Kebanyakan dari mereka memposting status media social dengan berbagai macam keluhan.
“Puasa perdana di perantauan.”
“Puasa kali ini jauh dari ortu”
“Sahur pake telur doang, maklum anak kos.”
Berhentilah mengeluh, kawan! ganti keluhanmu dengan bersyukur.
Ketahuilah, ini adalah Ramadhanku yang ke-9 di perantauan. Ini adalah Ramadhanku sepanjang hidup tanpa orang tua, mereka tinggal terpisah denganku. Tinggal dirumah Allah sejak usiaku 1 tahun. Setiap sahur Ramadhanku, menu paling istimewa telur dadar dan mie instan. Jika ada rezeki lebih, beruntunglah bisa menikmati sepotong ikan dan sejumput sayur.
Meskipun sahur seadanya, yang penting berkah, kan? Yang penting niat puasa kita Lillahi ta’ala, kan? Bukankah hakikat puasa adalah, agar kita merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan diluar sana? Lalu, kenapa harus  bermewah-mewah?
Bersyukurlah kawan!
Anak rantau itu special. Berhentilah mengeluh.
Tinggal dirantau itu sangat istimewa. Jika kau memahaminya dari sudut pandang yang berbeda. Selain mandiri, punya banyak kawan, belajar disiplin, belajar menghemat pengeluaran, menghargai waktu, belajar banyak hal dan punya banyak pengalaman. Ada satu hal yang paling istimewa, yaitu mendapat doa setiap hari dari orang tua dan keluarga kita.
Itulah kenapa urusan kita dipermudah, segala urusan kita cepat selesai bahkan tetap sehat wal’afiat meski makan seadanya. Tak bisa dipungkiri lagi, itu adalah doa orang tua dan keluarga kita yang dikabulkan Allah SWT.
Kawan! Meskipun terpisah lautan, terpisah beribu-ribu kilometer atau bahkan terpisah benua. Percayalah, doa orang tua selalu sampai kepada kita. Meski mereka memilih untuk tidak mengungkapkannya kepada kita, mereka lebih nyaman menyampaikan doa dan kerinduan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Mereka selalu berdoa setiap saat. Tulus. Ikhlas. Dan kita tidak pernah tau akan hal itu.

Jika kau masih ragu, akan kuceritakan sedikit pengalaman pribadi;
Kejadian Pertama:
Waktu itu, aku mudik tanpa memberitahukan keluarga dirumah. Niatnya ingin memberi kejutan. Tiba sekitar pukul delapan pagi. Sesampainya di depan pintu, aku sengaja tidak mengucapkan salam. Diam-diam mengendap dan bersembunyi dibalik pintu.
Tante Nica. Adik bungsu dari Ibu. Beliaulah yang merawatku dari kecil setelah ibu meninggal dunia. Sepagi itu wajahnya mendung. Tatapannya kosong. Dihadapannya terhidang beberapa potong kue dan segelas teh panas. Mungkihkan tante sedang sakit? Aku belum keluar dari persembunyianku, masih tetap mengamatinya. Setelah beberapa menit terdiam, ia kemudiam bergumam.
Makan apa dia sekarang disana. Hmm…Semoga Allah selalu melindunginya.” Sontak air mataku mengalir tak terbendung. Ternyata setiap hendak makan, tante selalu mengingat dan mendoakanku.

Kejadian kedua:
Waktu itu, aku mudik setelah memberitahukan keluarga. Tante Nica tinggal bersama Nenek. Usia Nenek sekitar 90 tahun-an. Nenek mulai pikun. Kadang mengenaliku. Selang lima menit beliau akan bertanya siapa aku.
Setibanya dirumah, aku langsung menemui Nenek. Mencium tangan dan kedua pipinya. Namun beliau tak bergeming. Diam saja. Tatapannya kosong. Biasanya Nenek sangat bahagia menyambut kepulanganku. Akh, sebentar lagi Nenek pasti ingat siapa aku. Nenek masih menatap kosong, mengehembuskan nafas.
“Sedang apa dia disana? Apakah dia baik-baik saja? Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepadanya.”
Tentu saja aku langsung menghambur kepelukan Nenek. Menangis sambil menciumnya berulang-ulang kali dan mengucapkan terimakasih.

Satu hari normalnya tiga kali makan. Dan tiga kali pula Tanteku mendoakan. Jika tiga, dikali tiga puluh hari dalam sebulan? itupun diluar dari doa-doa mereka diwaktu sholat. Dan itupun baru dikali satu orang. Bayangkan, jika ada beberapa anggota keluargamu yang mendoakan. Banyaknya jumlah anggota keluarga, dikali tiga waktu makan, dikali lima dalam sholat dan dikali tiga puluh hari dalam sebulan. Subhanallah.
 Itulah kenapa anak rantau itu istimewa. Semoga orang tua dan keluarga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

So, Ingat kawan, ubah setiap keluhanmu menjadi rasa syukur.


***Ramadhan kali ini tanpa Tante Nica dan Nenek. Mereka juga kini tinggal dirumah Allah. Saat menulis ini, aku benar-benar merindukan mereka berdua.
“Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa mereka, terimalah segala amal ibadah mereka dan berikanlah tempat yang layak disisi-Mu. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.




3 komentar:

  1. Nice mbak. Menulislah dengan rasa dan beberkan fakta maka dunia akan menghargai karya kita. ^_^

    BalasHapus
  2. Nice mbak. Menulislah dengan rasa dan beberkan fakta maka dunia akan menghargai karya kita. ^_^

    BalasHapus
  3. alhamdulillah, terimakasih mbak. semangat berkarya :)

    BalasHapus