Rabu, 22 Juni 2016

BUAH NANAS YANG KITA TANAM BERSAMA Bag. 2

sumber: google
20 Juni 201615 Ramadhan 1437 H

BUAH NANAS YANG KITA TANAM BERSAMA
(Bag. 2)

Perasaanku mulai tak enak. Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi. Firasatku selalu benar. Maka  kuputuskan untuk pergi menjenguk kebun kita. Betapa terkejutnya aku, melihat separuh dari kebun kita rusak, karna hama yang entah datang dari mana. Aku tergugu, tak bisa berkata-kata. Pemandangan didepanku sungguh menyesakkan dada. Aku terjatuh, bersimpuh didepan sebagian tanaman yang rusak.
Aku telah mempercayakan padamu untuk menjaganya, namun ternyata kau lalai. Kemana kau? Apa saja yang kau lakukan? Hama itu tak akan masuk jika kau tak membiarkannya. Kau sudah mengingkari janji kita, kau sudah merusak kepercayaan yang aku berikan. Kau sungguh kejam.
Aku marah. Benar-benar sangat marah. Namun, entahlah. Aku tidak punya kemampuan untuk mengekspresikan sebuah kemarahan. Aku sebenarnya ingin berteriak, melemparkan segala benda kearahmu, mencakar wajahmu sampai berdarah-darah. Namun, aku tidak bisa. Sungguh, aku tidak bisa. Bahkan untuk menangispun, aku tak mampu lagi. Mungkin sepertinya air mataku telah habis.
Kau hanya berdiri disampingku. Diam. Menunduk. Tak berani berucap. Hening. Sepi. Bahkan desau angin begitu jelas terdengar. Aku benci melihat wajahmu. Aku benci menatap matamu. Aku benci berhadapan dengan wajah bersalahmu, dengan mimik penyesalannmu, dengan raut memelasmu. Karna aku tau, aku tak akan bisa meluapkan kemarahanku jika menatap wajahmu.
Aku benci mendengar ucapan maaf yang berulang-ulang kali kau ucapkan. Aku benci dengan semua ini. Bukankah kita sudah berjanji untuk tetap saling menjaga kebun ini? Kenapa kau tidak menjaganya dengan baik, sementara aku pergi beberapa saat. Kenapa kau tidak sanggup menjaga kebun sekecil ini? Apa yang terjadi padamu?
Bagaimana mungkin hama bisa masuk dan merusak sebagian dari kebun ini? Dan anehnya kau tidak mencegah mereka, malah mempersilahkan mereka masuk. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidakkah kau ingat akan wajahku, saat membiarkan mereka masuk? Tidakkah kau merasa, bahwa aku akan marah dan sangat kecewa dengan tindakanmu ini? Lalu apakah aku harus memaafkan mu lagi? Apakah aku harus membiarkan kebun ini rusak penuh? Aku lelah jika harus menjaganya sendiri. Aku sangat lelah.
Aku tau, setiap orang yang mencoba menjadi petani pasti akan mengalami gagal panen. Tapi tidak bisakah kita mengantisipasi kegagalan itu? Semua tidak akan terjadi jika kau tidak membiarkan mereka masuk dan merusak sebagian dari tanaman kita.
Sungguh, aku benar-benar marah. Aku ingin memukul wajahmu hingga membiru. Aku ingin menginjak-nginjak hama itu dengan kakiku, sampai mereka hancur tak berbentuk. Aku ingin sekali menghancurkan kalian semua, yang dengan tega merusak sesuatu yang telah aku tanam dengan penuh kesungguhan, dengan harapan yang setiap hari semakin tumbuh. Sungguh, aku ingin kalian semua musnah.
Akupun memaki-maki diriku yang tidak bisa mengekspresikan kemarahan, bahkan menangis saja aku tak sanggup. Apakah aku  ini manusia atau sudah berubah menjadi makhluk lain? Aku terus meratap, didepan sebagian tanaman yang dirusak hama-hama terkutuk itu.
Aku sadar, aku tidak bisa terus-terusan meratapinya. Aku harus bangkit. Karena ini bulan ramadhan, maka kuputuskan untuk kembali menata hati, berdiri mengumpulkan tanaman-tanaman yang rusak, membersihkan sebagian kebun, membakar rumput-rumput yang tumbuh mengganggu. Kuputuskan untuk kembali menata kebun ini dengan hati yang ikhlas, memaafkan segala sesuatu yang telah terjadi. Merawatnya kembali dengan penuh cinta kasih.

Entahlah. Apakah aku harus mempercayaimu lagi atau tidak. Aku masih bingung. Aku masih takut. Biarlah untuk sementara waktu, aku sendiri yang akan merawatnya. Membiarkannya tumbuh dengan baik. Menjaganya sampai tiba musim panen nanti.




0 komentar:

Posting Komentar