![]() |
| sumber: google |
20 Juni 201615 Ramadhan 1437 H
BUAH NANAS YANG KITA TANAM BERSAMA
(Bag. 2)
Perasaanku mulai tak
enak. Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi. Firasatku selalu benar. Maka kuputuskan untuk pergi menjenguk kebun kita.
Betapa terkejutnya aku, melihat separuh dari kebun kita rusak, karna hama yang
entah datang dari mana. Aku tergugu, tak bisa berkata-kata. Pemandangan
didepanku sungguh menyesakkan dada. Aku terjatuh, bersimpuh didepan sebagian
tanaman yang rusak.
Aku telah mempercayakan
padamu untuk menjaganya, namun ternyata kau lalai. Kemana kau? Apa saja yang kau
lakukan? Hama itu tak akan masuk jika kau tak membiarkannya. Kau sudah
mengingkari janji kita, kau sudah merusak kepercayaan yang aku berikan. Kau
sungguh kejam.
Aku marah. Benar-benar sangat
marah. Namun, entahlah. Aku tidak punya kemampuan untuk mengekspresikan sebuah
kemarahan. Aku sebenarnya ingin berteriak, melemparkan segala benda kearahmu, mencakar
wajahmu sampai berdarah-darah. Namun, aku tidak bisa. Sungguh, aku tidak bisa.
Bahkan untuk menangispun, aku tak mampu lagi. Mungkin sepertinya air mataku
telah habis.
Kau hanya berdiri
disampingku. Diam. Menunduk. Tak berani berucap. Hening. Sepi. Bahkan desau
angin begitu jelas terdengar. Aku benci melihat wajahmu. Aku benci menatap matamu.
Aku benci berhadapan dengan wajah bersalahmu, dengan mimik penyesalannmu,
dengan raut memelasmu. Karna aku tau, aku tak akan bisa meluapkan kemarahanku
jika menatap wajahmu.
Aku benci mendengar
ucapan maaf yang berulang-ulang kali kau ucapkan. Aku benci dengan semua ini. Bukankah kita sudah berjanji untuk tetap
saling menjaga kebun ini? Kenapa kau tidak menjaganya dengan baik, sementara
aku pergi beberapa saat. Kenapa kau tidak
sanggup menjaga kebun sekecil ini? Apa yang terjadi padamu?
Bagaimana
mungkin hama bisa masuk dan merusak sebagian dari kebun ini? Dan
anehnya kau tidak mencegah mereka, malah mempersilahkan mereka masuk. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidakkah
kau ingat akan wajahku, saat membiarkan mereka masuk? Tidakkah kau merasa,
bahwa aku akan marah dan sangat kecewa dengan tindakanmu ini? Lalu apakah aku
harus memaafkan mu lagi? Apakah aku harus membiarkan kebun ini rusak penuh? Aku
lelah jika harus menjaganya sendiri. Aku sangat lelah.
Aku tau, setiap orang
yang mencoba menjadi petani pasti akan mengalami gagal panen. Tapi tidak bisakah
kita mengantisipasi kegagalan itu? Semua tidak akan terjadi jika kau tidak
membiarkan mereka masuk dan merusak sebagian dari tanaman kita.
Sungguh, aku
benar-benar marah. Aku ingin memukul wajahmu hingga membiru. Aku ingin
menginjak-nginjak hama itu dengan kakiku, sampai mereka hancur tak berbentuk.
Aku ingin sekali menghancurkan kalian semua, yang dengan tega merusak sesuatu
yang telah aku tanam dengan penuh kesungguhan, dengan harapan yang setiap hari
semakin tumbuh. Sungguh, aku ingin kalian semua musnah.
Akupun memaki-maki
diriku yang tidak bisa mengekspresikan kemarahan, bahkan menangis saja aku tak
sanggup. Apakah aku ini manusia atau sudah
berubah menjadi makhluk lain? Aku terus meratap, didepan sebagian tanaman yang
dirusak hama-hama terkutuk itu.
Aku sadar, aku tidak
bisa terus-terusan meratapinya. Aku harus bangkit. Karena ini bulan ramadhan, maka
kuputuskan untuk kembali menata hati, berdiri mengumpulkan tanaman-tanaman yang
rusak, membersihkan sebagian kebun, membakar rumput-rumput yang tumbuh mengganggu.
Kuputuskan untuk kembali menata kebun ini dengan hati yang ikhlas, memaafkan segala
sesuatu yang telah terjadi. Merawatnya kembali dengan penuh cinta kasih.
Entahlah. Apakah aku
harus mempercayaimu lagi atau tidak. Aku masih bingung. Aku masih takut.
Biarlah untuk sementara waktu, aku sendiri yang akan merawatnya. Membiarkannya
tumbuh dengan baik. Menjaganya sampai tiba musim panen nanti.







0 komentar:
Posting Komentar